Edisi 15-04-2018
Mengakrabkan Musik Klasik ke Generasi Milenial


Lagu-lagu klasik yang tadinya konvensional kini mulai banyak digubah dengan gaya yang lebih modern.

Bah kan, jika dulunya musik klasik digandrungi orang dewasa yang lebih matang, ki ni juga dise nangi anak-anak muda.Konser Neo Capella Amadeus yang berlangsung di Gedung Usmar Ismail, Jakarta, pada Kamis (12/4) malam, seper tinya sebagai jawaban bahwa musik klasik sudah men jadi kesukaan anak muda.

Pe nam pilan apik pemusik-pemusik muda berbakat Sekolah Musik Amadeus ini mampu memukau pengunjung yang juga didominasi kalangan anak muda. Gemuruh tepuk tangan, bahkan sorak-sorai membahana setiap kali kelompok ini menyelesaikan satu lagu.

Penampilan apik ini tidak terlepas dari upaya Grace Soedargo selaku pendiri sekaligus kepala Sekolah Musik Amadeus, yang memperke nal kan musik bergenre neo-klasik kepada generasi milenial. Penampilan ini juga bertepatan dengan perayaan ulang tahun Capella Amadeus ke-15.

Menjadi menarik dan makin istimewa, konser musik klasik gu bah - an generasi masa kini ini disaksikan 45 anak panti asuhan dari Yayasan Kasih Agape. Neo Capella Amadeus meru pa kan orkes musik klasik “turunan” dari Capella Amadeus, generasi pertama kelompok musik klasik dari Sekolah Musik Amadeus.

Pertunjukan pertama mereka pada perayaan ulang tahun Capella Amadeus ke-15, pada 2018, terbilang sukses. Hal ini membuktikan bahwa membentuk grup tersebut merupakan solusi terbaik untuk proses regenerasi Capella Amadeus. “Sejak 1992 atau sejak sekolah musik Amadeus ber diri, saya mencoba mengajak murid-murid di sini agar merasa enjoy ketika mereka belajar musik klasik.

Awalnya memang tak mudah memperkenalkan mu sik klasik kepada generasi mi lenial. Namun, perlahan mereka mulai menyukai dan mencin tai genre musik ini,” ujar Gra ce Soe dargo.

Berbekal ilmu yang didapat selama belajar musik di Austria dan pengalaman bermain musik di Austria dan Jerman, Grace senantiasa menginspirasi dan bersemangat membimbing serta menggali potensi pemusik-pemusik muda Indonesia, peminat musik klasik yang ingin mengembangkan bakatnya lebih jauh.

“Saya bersyukur, lagu-lagu klasik yang tadinya konvensional mulai banyak digubah dengan gaya yang lebih modern dan menarik untuk dinikmati dan dipelajari generasi muda. Konser ini juga sekaligus kesempatan mereka membuk tikan keahliannya di depan orang banyak.

Dan, mes kipun masih muda, mereka mampu mencapai hasil mak simal dan bisa di se jajarkan dengan grup musik inter nasional,” kata Grace bangga. Dalam pertunjukan kali ini tampil beberapa solois, termasuk salah satunya Hendri Waskita, seorang pemain fagot ternama di Indonesia. Orkes ini mengiringi Hendri pada kon serto fagot karya Vivaldi.

Hendri sendiri mempelajari fagot untuk pertama kalinya di SMM Yogyakarta pada 1984 dan melanjutkan pendidikannya di ISI Yogyakarta pada 1987, di bawah bimbingan Bapak Siswanto. “Konser bersama Neo Capella Amadeus itu mengesankan.

Penggarapan repertoar dikerjakan sesuai eranya dengan teliti sehingga karyakarya yang ditampilkan enak didengar,” kata Hendri. Selain aktif menjadi anggota orkes mahasiswa ISI dan orkes profesional lainnya, Hendri juga berpartisipasi dalam ASEAN Youth Music Work shops yang diadakan di Kuala Lumpur dan Jakarta pada 1987 dan 1989.

Pada 2012, dia men dapatkan kehormatan untuk mening katkan kemahirannya di Singapura dengan belajar pa da Ibu Yutaka, pemain fagot uta ma Orkes Simfoni Singa pura. Hendri telah bermain dengan Amadeus Symphony Orchestra sejak1993 hingga sekarang.

Dia juga bermain fagot di berbagai orkes lainnya, seperti Jakarta Symphony Orches tra, Jakarta Chamber Orches tra, dan Twilite Orchestra. Orkes gesek Capella Amadeus memosisikan dirinya sebagai orkes kamar alat gesek terbaik di Indonesia.

Para pendirinya mewariskan stan dar kualitas tinggi yang telah dicapai ke generasi berikutnya dengan membentuk Neo Capella Amadeus. Nathalia Peggy Seputra dan Karina Budhiathalia Soerjodibroto yang merupakan lulusan pertama Se kolah Musik Amadeus, ditunjuk sebagai pemimpin Neo Capella Ama deus dan langsung di bawah bimbingan Grace Soedargo.

Kedua guru Sekolah Musik Amadeus ini bekerja sama dengan Johann Sebastian Bach Musikschule (Wina, Austria). Mereka telah me la lui pelatihan guru di Wina selama sebulan, pada 2017. Sejak berdiri pada 1992, Sekolah Musik Amadeus sudah men didik ribuan murid dari usia 2-50 tahun.

Saat ini, terdapat hampir 300 siswa mempelajari piano, biola, selo, biola, juga alat-alat tiup, seperti oboe, klarinet, terompet, horn, trombon, termasuk alat-alat perkusi.

hendri irawan