Edisi 16-04-2018
PKS Memanas Jelang Pilpres


JAKARTA – Kalangan internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memanas jelang hajatan pemilu presiden (pilpres).

Setelah dirilisnya 9 nama calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) di PKS, muncul juga dokumen yang menunjukkan adanya friksi antara kubu osan (orang sana) yang dipimpin mantan Presiden PKS Anis Matta dan kubu osin (orang sini) yang dipimpin Presiden PKS Sohibul Iman. Bahkan dalam dokumen berformat slide show tersebut, kubu osan disebut-sebut tengah merencanakan aksi kudeta un - tuk menumbangkan Presiden PKS.

“Kalau saya pelajari bahan tersebut, dari format, isi, dan polanya merupakan produk intelijen. Tapi saya nggak tahu itu produk intelijen di luar atau di dalam PKS. Karena di dalam ada yang direkrut dan dilatih untuk melakukan tugas itu (intelijen),” kata kader PKS yang juga sahabat Anis Matta, Mahfuz Sidik, saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Menurut mantan Ketua Komisi Intelijen DPR itu, targetnya sangat jelas, yakni untuk melakukan pem bunuh - an karakter terhadap Anis Matta yang masuk ke dalam 9 nama capres/cawapres PKS.

Terlebih isu serupa pernah di - embuskan beberapa tahun yang lalu. “Sebelumnya 2015 akhir itu, bahkan Pak Anis Matta ada yang dorong buat partai baru. Jadi isu Pak Anis akan kudeta sudah sejak beberapa tahun lalu,” ujarnya. Mahfuz menjelaskan, sete lah diamanahi sebagai salah satu cap - res/cawapres PKS, Anis ingin bekerja secara maksimal sehingga 9 nama ini menjadi fak tor pemenangan pe milu baik pilpres mau pun pileg dengan men do - rong kinerja 9 nama tersebut. Tapi sayang - nyaniat baik Anis di mak - n aiberbeda.“Beliauso siali - sasi dengan berbagai atri - but, ternyata ini diang gap ber beda,” imbuhnya.

Selain itu, lanjutnya, setelah 9 nama ini ditetap - kan, baik DPP PKS maupun Majelis Syura tidak membuat perincian yang jelas seperti apa kerja capres ini, apa tar - getnya, bagaimana me ka - nisme peng ambilan keputus - annya, bagai mana pola sosial - isasi dan mar keting untuk men dongkrak suara partai. Bah kan sejumlah nama ter - sebut tidak pernah muncul di media dan publik. “Lalu 9 mengerucut jadi 1 mekanismenya seperti apa. Saya hari ini lihat di TV Pak Sohibul Iman menyampaikan cawapres pendamping Pak Prabowo Subianto nomor urut 1 dan yang paling dekat adalah Ahmad Heryawan, penjelas an - nya apa.

Lalu Direktur pen - capresan DPP PKS juga me - ngatakan sudah dikerucutkan 3, siapa, di forum apa diputus - kan. Jadi ada kontestasi diamdiam dan keras di lingkup inter - nal,” bebernya. Dihubungi terpisah, Ketua Fraksi PKS di DPR Jazuli Juwaini melihat, dokumen tersebut tidak jelas asal-usulnya. Karena itu dia menduga kuat bahwa dokumen itu sengaja dibuat untuk mem - buat gaduh PKS. “Kalau dilihat dari bahasanya itu kayaknya operasi untuk menghancurkan PKS,” kata Jazuli saat dihubungi. Sebelumnya sejumlah kader PKS daerah memprotes kepu - tus an DPP PKS yang melakukan rotasi terhadap sejumlah pe jabat struktural partai di tingkat wilayah.

Salah satu ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS yang dicopot adalah Erza Saladin dari posisi ketua DPW PKS Sumatera Selatan. Atas pen co - pot an ini Erza bersama 11 ketua DPD PKS se-Sumatera Selatan meminta klarifikasi terhadap DPP PKS. Ke-11 DPD se-Sumsel yang diwakili Ketua DPD Banyu - asin Ilham Hadi menyampaikan penolakan terhadap keputusan pencopotan Erza. Pemecatan juga dialami pim - pinan DPW PKS Jawa Tengah Kamal Fauzi. Peme cat an dilakukan sehari jelang penutupan pendaftaran Pilgub Jateng hingga mengejutkan kader di daerah.

Sebab Kamal dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah be r - manuver aneh-aneh. Kamal pun menolak per mintaan tersebut karena ia di pilih Majelis Syura. Pemecatan kader di daerah itu pun di sinyalir terkait dengan proses pemilihan 9 calon presi - denyangakandiajukanPKSpada Pilpres 2019. Kader yang berse - berangan pun diberangus. Sementara itu Fahri Ham zah mencium adanya upaya mem - berangus loyalis Anis Matta di PKSdaripemecatanyangdi laku - kan DPP terhadap kader yang dianggap memiliki kede katan dengan mantan Presiden PKS itu. Ia pun tak heran bila kini para kader tersebut bergolak.

“Ada pembersihan tapi begitu. Meto - de nya enggak terbuka. Jadi orang dipecat gitu. Habis dipecat orang datang, (bertanya) salah saya apa? Dia bilang, ‘OH enggak ada salah, itu tour of duty sajaí,” kata Fahri kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Kiswondari/okezone