Edisi 16-04-2018
Prostitusi Anak Marak


TANGERANG –Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok prostitusi online anak di bawah umur marak terjadi di Kabupaten Tangerang.

Dalam sebulan, tiga kasus prostitusi anak berhasil diungkap Polisi. Kanit 5 PPA Polresta Tangerang Iptu Ferdo Elfianto mengatakan, dalam pengung - kap an kali ini, gadis-gadis belia itu dijadikan pemuas nafsu pria hidung belang di Hotel Tanjung Kait, Tangerang. Untuk sekali kencan, mereka memasang tarif Rp500.000. “Mereka kami gerebek di Hotel Tanjung Kait, Jalan Raya Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Mauk, seusai melayani tamunya, Jumat (13/4), pelaku tindak pidana prostitusi online ini seorang remaja putus seko - lah,” kata Ferdo.

Dalam penggerebekan itu, pihaknya juga berhasil meng - amankan dua gadis belia ber - inisial WA, 19 dan YU, 16, di dua kamar terpisah hotel, yakni ka - mar nomor 2 dan 3, saat tengah bersama pelanggannya. “Kami juga mengamankan seorang remaja yang menjadi mucikarinya, bernama Donny Hidayat Alam Saputra, 19, di hotel itu. Dari tangannya, kami amankan uang tunai Rp1,6 juta,” katanya. Dari dalam kamar tersebut, petugas juga mengamankan dua kontrasepsi yang baru saja di gunakan, sejumlah tisu basah, dan telepon genggam.

“Selanjutnya tersangka Donny dan 2 gadis belia serta 2 pelang - gan nya, termasuk seluruh barang bukti tersebut kami bawa ke Polresta Tangerang. Saat ini kami masih melakukan penda laman,” ungkap Ferdo. Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kompol Wiwin Setiawanmengatakan, peng ung - kapan kasus ini merupakan yang ketiga dalam satu bulan terakhir di wilayah hukum Polda Banten. “Ya, ini ketiga da lam satu bulan terakhir. Per tama dan kedua, kami ungkap di Hotel Amaris Tangerang. Saat ini di Hotel Tanjung Kait. Modusnya sama. Mereka tran saksi secara online,” kata Wiwin.

Dari bukti kertas check in hotel diketahui bahwa kencan dilakukan paruh waktu atau short time dengan bayaran Rp500.000. Hasilnya ke - untungan ini dibagi dua. “Tarifnya Rp500.000, short time. Para pelanggannya banyak dari kalangan wiraswasta. Mereka se - ngaja mencari anak-anak di ba - wah umur dan re maja. Ini sudah yang kebeberapa kali nya,” pa - parnya. Tidak hanya meng aman - kan mucikari, dalam peng ung - kapan ini, polisi juga meng - amankan pelanggannya. Sayang nya, po lisi tidak mem - bongkar identitas pelanggan prostitusi online anak tersebut.

“Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang didapatkan Tim Opsnal Unit PPA Satreskrim Polresta Tange - rang bahwa Hotel Tanjung Kait sering dijadikan tempat tran - saksi seksual,” ujar dia. Dari informasi itu, tim lang - sung bergerak menuju hotel dan berhasil menemukan dua kamar yang digunakan kedua gadis belia itu berkencan. “Iya, habis main langsung ka mi gerebek biar unsur pasal nya terpenuhi. Untuk pelang gan, belum tersangka. Tersang ka - nya baru mucikarinya saja, satu orang,” tandasnya.

Selanjutnya tersangka dije - ratdenganpasalberlapisTin dak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sebagaimana dimaksud da lam Pasal 10 UU RI No 21 Ta - hun 2007 tentang Pem beran tas - an TPPO. “Tersangka juga dije - rat de ngan Pasal 88 jo Pasal 76i UU RI No 35 Tahun 2014 ten - tang Per ubahan Atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlin - dung an Anak,” tuturnya. Sebelumnya seorang gadis berinisial SR, 17, dijual kepada pria hidung belang di Hotel Amaris, Citra Raya, Kampung Nalagati, Kelurahan Mekar Bakti, Panongan, Kabupaten Tangerang, seharga Rp1 juta, Rabu (10/4).

Warga Curug, Kabupaten Tangerang ini dijadikan pe - kerja seks komersial (PSK) oleh seorang remaja berinisial MN alias Nov, 22, melalui jejaring sosial online. Ketua Indonesia Child Protection Watch (ICPW) Erlinda mendesak kepada po lisi juga agar membuat tin dak an hukum yang memberikan efek jerakepadaparapelang ganpros - titusi anak di Tangerang. “Jangan hanya germonya yang dihukum, pelanggannya juga. Sebab, tanpa ada pelang - gan yang mau memakai jasa pros titusi itu, tidak akan ada pros titusi anak. Harus ada efek jera,” ungkapnya.

Berbagai sanksi yang bisa diberikan kepada pelanggan prostitusi anak online itu ada - lah melakukan pekerjaan sosial di panti jompo selama bebe - rapa waktu, dan membersih - kan sam pah pinggir jalan. “Atau bisa juga dengan men - jatuhkan aksi yang keras, se perti mengumumkan nama dan identitas pelanggan di tempattempat publik. Sebab, prosti tusi ini ada karena ada para pelang - gan setianya,” ujarnya.

Hasan kurniawan