Edisi 16-04-2018
Percepatan Pengembangan Industri Berorientasi Ekspor


BATAM– Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah pusat dan daerah menyepakati empat langkah strategis dalam mempercepat pengembangan industri berorientasi ekspor.

Upaya ini dilakukan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Stabilitas makroekonomi yang terjaga disertai struktur perekonomian kuat merupakan prasyarat menuju pertumbuhan ekonomi lebih kuat dan berkelanjutan. Upaya mencapai tujuan tersebut perlu didukung oleh surplus neraca transaksi berjalan (current account). Transaksi berjalan yang surplus menunjukkan bahwa pada neraca perdagangan nilai ekspor lebih besar daripada impor.

”Ada momentum yang baik bagi ekonomi Indonesia untuk tumbuh baik. Memang tran saksi berjalan harus diperkuat karena negara yang mengarah pada penghasilan tinggi harus didukung current account yang surplus. Maka di awal kita akan dorong neraca perdagangan barang agar surplus,” ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di sela Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia (Rakorpusda-BI) di Batam, Jumat (13/4). Untuk mengejar surplus neraca perdagangan, kata Agus, perlu dilakukan percepatan pengembangan industri berorientasi ekspor, baik padat karya maupun berteknologi tinggi, termasuk industri hilir.

Perluasan akses pasar komoditas manufaktur dan penyediaan kawasan industri juga diyakini bisa mendorong berkembangnya industri nasional. Rakorpusda-BI mengidentifikasi empat arah kebijakan utama guna mempercepat pengembangan industri berorientasi ekspor. Pertama, pengembangan kawasan industri secara menyeluruh didukung insentif memadai dan infrastruktur yang berkualitas. Kedua, penyediaan sumber daya manusia yang mampu mengimbangi aplikasi teknologi dan inovasi di manufaktur. Ketiga, perluasan akses pasar melalui perjanjian perdagangan. Keempat, keterkaitan industri domestic dengan rantai nilai global.

Selanjutnya rakor yang dihadiri jajaran menteri dan kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau itu menyepakati empat langkah strategis yang akan diwujudkan dalam bentuk ke bijakan konsisten dan bersinergi. Pertama, pemberian kemudahan perizinan dan insentif fiskal untuk meningkatkan industri berorientasi ekspor. Kedua, menurunkan biaya logistik industri domestik melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi infrastruktur konektivitas, air, dan listrik. Ketiga, penguatan sumber daya manusia untuk mendukung penyediaan tenaga kerja sesuai keahlian yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan teknologi dan otomasi proses produksi (Industri 4.0).

Keempat, perluasan pasar ekspor industri nasional dengan menambah kerja sama perjanjian perdagangan bilateral/multilateral (Free Trade Agreement-FTA dan Preferential Trade Agreement- PTA) dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tahun ini ada beberapa perjanjian dagang yang akan dipercepat prosesnya di antaranya dengan Australia (IA CEPA), Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA), dan EFTA (European Free Trade Association). ”Selain itu, kita buka akses ke Asia Tengah dan Afrika. Perundingan lainnya yang juga kita harapkan rampung antara lain dengan Maroko dan Nigeria. Dengan perluasan akses pasar ini, diharapkan kita bisa mencapai target pertumbuhan ekspor 11% tahun ini. Dampak lebih signifikan akan terlihat pada 2019,” tuturnya.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, perekonomian dunia diproyeksikan tumbuh lebih baik pada tahun-tahun mendatang yang artinya perdagangan dunia juga akan membaik. Indonesia harus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. ”Caranya, tingkatkan ekspor pada tahun-tahun mendatang dengan memanfaatkan pertumbuhan perdagangan dunia itu,” ujarnya.

Inda susanti