Edisi 16-04-2018
Beda Ibu Zaman Old dan Milenial


MENJADI ibu milenial memang memberikan kemudahan tersendiri , salah satunya akses mendapatkan informasi yang lebih mudah.

Para ibu di zaman ini juga beruntung dapat berkumpul di suatu komunitas yang diper - satukan lewat media sosial. “Beda dengan ibu zaman old, di mana sumber informasi mereka didapat dari orang tuanya. Kita sekarang memiliki pilihan informasi yang tidak terbatas, tetapi harus selektif dalam menggunakannya,” beber psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo dalam acara Mothercare Serukan Kampanye “Senangnya Jadi Ibu” untuk Para Ibu Millennial di Jakarta, Rabu (11/4), yang diadakan Mothercare. Vera menjelaskan, ibu milenial atau yang dikenal dengan gen Y umumnya wanita kelahiran 1980-1990-an. Meski mereka mengaku beda literatur, terkadang beda pula batasan usia kelompok ini. Ibu generasi milenial berusia sekitar 24-38 tahun.

“Tidak hanya usia, gen Y ini juga berhubungan dengan karakter. Di mana, gen Y mementingkan rasa hormat, pengguna teknologi, serta goal dan achievement oriented ,” ungkap psikolog Tiga Generasi ini. Usia saat mempunyai anak dibandingkan ibu zaman old , ibu milenial lebih tua ketika memiliki anak. Zaman dulu usia 21 tahun umumnya wanita sudah punya anak, tetapi di zaman ini usia memiliki anak sekitar 26 tahun. Di samping itu, dengan kemajuan teknologi zaman sekarang, ibu masa kini dapat bekerja di rumah, misalnya dengan berdagang online atau menjadi blogger dan lainnya. Pola asuh zaman kini dan dulu tentu juga jauh berbeda. Kita mengenal pola asuh zaman dulu yang lebih ketat, keras, dan penuh disiplin.

Pola asuh zaman sekarang lebih fleksibel. “Pola asuh zaman dulu itu helicopter parenting , orang tua selalu memantau dan siap turun tangan kalau anak mengalami kesulitan,” tutur Vera. Adapun pola asuh zaman now lebih ke drone parenting . Pada drone parenting , orang tua mendidik dan memantau anak dari jarak jauh dengan memberi mereka kebebasan dan peraturan yang tidak seketat helicopter parenting . Dengan drone parenting , ibu milenial tidak mengontrol anak, tetapi memberikan ruang untuk mengeksplor hal baru.

“Para ibu milenial juga cenderung mempunyai rasa keingintahuan yang besar dan mencari informasi yang diinginkan melalui bantuan internet. Rasa keingintahuan tersebut yang mendorong mereka untuk sering berbagi satu sama lain melalui platform media sosial dan kampanye, seperti #Senangnya Jadi Ibu ini, menjadi relevan,” kata Vera. Vice President Mothercare & ELC Lina Paulina mengatakan, kampanye Senangnya Jadi Ibu ibarat sebuah tempat berkumpul ribuan ibu serta ribuan cerita indah dan luar biasa mengenai pengalaman menjadi seorang ibu dan calon ibu. Selain itu, para ibu zaman sekarang sangat dekat dengan media sosial.

“Jadi, segala informasi bisa diakses bersamaan dengan jangkauan yang luas. Hal itu yang menjadi alasan kampanye #senangnyajadiibu banyak digemari dan mendapat respons yang sangat baik,” kata Lina. Sesuai proposisi mereknya, Mothercare menyambut para calon orang tua untuk masuk fase baru dalam mengasuh anak. Welcome to The Club mendasari usulan Mothercare untuk menyatukan ibu dan ayah mengasuh anak bersama dengan sejumlah inisiatif guna menghubungkan orang tua dan membangun jaringan pendukung untuk ibu dan ayah baru. Ini termasuk acara pertemuan ibu baru di toko, parenting club , konten digital, blog, dan komunitas online yang dihadirkan dengan dukungan para ahli, seperti dokter dan psikolog anak.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, psikolog Nadya Pramesrani MPsi menjabarkan, ibu adalah ke - lompok yang paling tinggi berisiko stres dan menderita kelelahan fisik dan mental karena pekerjaan yang dilaku - kan. Seperti diketahui, ibu me - lakukan pekerjaan caring for others atau meng urus orang lain sehingga acap kali me - lupakan kebutuhan diri sen - diri. Hal ini dapat meme nga - ruhi hubungan ibu dan anak. Maka itu para ibu acap kali menjadikan belanja online sebagai salah satu upaya melepas stres.

“Ini merupakan retail therapy . Ketika seseorang sudah berubah peran, ada perubahan pola belanja, misalnya belanja untuk anaknya. Dengan belanja untuk orang lain, bagi ibu, ada kepuasan tersendiri,” “ kata psikolog Rumah Dandelion ini.

Sri noviarni