Edisi 16-04-2018
Candi Gedog, Temuan Raffles yang Terlupakan


Dalam catatannya, Sir Thomas Stamford R affles menyebut str uktur Candi Gedo g di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur terdir i dari batu bata yang memesona.

Sebag ian besar ornamen candi dibuat dari batu. Beberapa sisi candi masih d alam kead aan utuh. Tetapi bagian dasar pintu masuk atau tangga telah terpisah. Gubernur Jenderal Ingg ris itupun menyatakan tak jub atas struktur candi yang terdiri dari batu bata. “Disini juga ditemukan benda benda kuno. Di antara kota yang telah ditinggalkan itu, dengan dinding-dinding dan alas dari batu yang menarik untuk dicatat ,” tulisnya dalam History of Java (halaman 382). Sayang , semua hanya tinggal cerita. Apa yang dinarasikan Raffles tidak menemukan bentuknya. Lenyap. Or namen, pintu masuk, tangga atau wujud candi secara utuh seperti yang tersebut dalam buku, tidak ada buktinya. Di lokasi lebih banyak dijumpai pecahan batu bata.

Potongan bata kuno yang berlumut d an geripis. “K alau melihat dokumentasinya , Candi Gedog ini dulunya tinggi menjulang,” tutur Edi Subag yo, tokoh masyarakat lingkungan Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar yang juga penggiat situs purbakala ke pada KORAN SINDO. Puing-puing bata itu menyatu dengan gundukan tanah setinggi satu setengah meter. Ada juga susunan bata yang menyerupai pondasi bang unan. Posisinya separ uh terpendam dalam tanah. A pakah Candi Gedog terkubur di bawah g undukan tanah gembur itu?

Menurut Edi, sejauh ini belum bisa dipastikan. Setahu dia, belum ada penelitian soal itu. Kendati demikian, terkait dengan rusaknya candi, ada dua teori yang diyakini rasional. “Rusaknya candi diduga aki - bat bencana alam, yakni Gu - nung Kelud meletus. Yang ke - dua, faktor human error . Infor - masi yang saya dengar Candi Gedo g pernah dir usak seke lom - pok orang di tahun 1965,” ungkapnya. Selain batu bata kuno, di lokasi juga ditemukan yoni, yakni kubus batu seting gi setengah meter dengan bagian tengah berlobang. Sayang, “Lingga” yang menjadi pasangannya tidak diketahui keberad aannya. Dalam terminologi Hindu, ling ga yoni merupakan simbol kesuburan.

“Dulu katanya juga ad a arca perempuan setinggi manusia. Namun juga hilang entah kemana,” terang Edi Subag yo. Di jalan masuk menuju lokasi candi juga terdapat dua batu ber ukir. Entah arca dwa ra - pala atau ular naga. Sebab dua batu ber ukir itu dalam kondisi tidak sempurna. Edi Suba gyo menuturkan, tidak banyak yang mengetahui sejarah Candi Gedog. Apakah dibangun di era Kerajaan Kediri seperti halnya Candi Penataran atau Kerajaan Majapahit. Juga tidak banyak warga yang tahu Candi Gedog tercatat dalam buku Histor y of Ja va . “Kabarnya candi ini tempat persembahyangan,” ungkapnya. Selama ini, warga hanya familiar dengan legenda cerita Joko Pangon, yakni pemuda asal Kera jaan Mataram yang membuka wilayah Gedog.

Cerita babad itu, kata Edi, selalu direproduksi di setiap acara bersih desa Kelurahan Gedog. Dia berharap pemerintah daerah tidak berpangku tangan. Edi yang getol menyusuri sejarah Blitar melalui literatur berharap Candi Gedog bisa menjadi ikon wisata di Kota Blitar. Melihat luas area kawasan candi telah menyusut dari 48 meter menjadi 38 meter, dia k hawatir situs Candi Gedog akan terus terbengkalai. “Tahun 2015 kami bersama semua yang tertar ik dengan sejarah Blitar sudah menyampaikan soal ini ke Pemkot Blitar. Namun tidak ad a respon. Tahun 2017 kami menyampaikan la gi agar ada penanganan. Dan alhamdulillah mulai ada respon,” ungkapnya. Avianto, 41 warga Kota Blitar, mengaku tidak tahu kalau Candi Gedo g ternyata tercatat dalam buku History of Java .

Sebagai warga B litar, dia berharap pemerintah segera mengambil langkah terkait penelusuran sejarah Candi Gedog. “Puluhan tahun saya hidup di Blitar. Juga lahir di Blitar, tapi baru tahu jika Candi Gedog ternyata tercatat dan buku Histor y of Java,” ujarnya.

Solichan Arif
Blitar