Edisi 16-04-2018
Umat Khonghucu Jalani Sembahyang Ching Bing


SOLO –Puluhan umat Khonghucu dan Thionghoa di Kota Solo, Jawa Tengah khidmat men jalani upacara sembahyang Ching Bing di rumah duka Thiong Ting, kemarin.

Mereka melakukan peng hormatan dan pengenangan kep - ad a leluhur. Umat Khunghucu dan ma - sya rakat Tionghoa pada umum nya selalu melaksanakanupacarasembahyangChing Bing dengan berziarah ke ma - kam leluhur sehingga upacara sembahyang ini juga disebut sebagai sembahyang Sadranan. “Ching artinya cerah, terang maka saat Bulan April umum - nya sudah memasuk musim panas, cuaca yang cerah me n ja - dikan acara ini nyaman untuk dilaksanakan,” kata Aji Candra, rohaniawan Konghucu usai upacara sembahyang Ching Bing di rumah duka Thiong Ting, Solo. Upacara Ching Bing sudah dilaksanakan umat Khong hu cu sejak puluhan tahun yang lalu. Khusus Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Surakarta sebagai pelaksana dengan difasilitasi Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) dilak sa na kan di Thiong Ting Jebres.

Sebab di lokasi itu dulunya ba nyakpemakamantakterurus dan tempat abu jenazah diti - tipkan. Setelah Thiong Ting diba - ngun dan abu dipindahkan ke Delingan, upacara Ching Bing tetap dilaksanakan di lokasi yang sama karena di bela kang - nya masih ada makam tuan dan nyonya Liem Djie Boo selaku pendiri dan pemilik Thiong Ting. “Memang seha - rusnya dilaksanakan di pe ma - kaman Delingan, namun ka - rena keluarga yang leluhurnya dimakamkan di sana sudah tidak bersembahyang lagi, ma ka MAKIN tetap melak sa - na kannya di Thiong Ting,” urainya. Nabi Khongcu mengajar - kan umatnya untuk selalu meng hormati dan ber sem - bah yang kepada leluhur.

“Se - bab keberadaan kita di dunia tidak lepas dari peran orang - tua dan leluhur yang mendidik dan membesarkan,” terang - nya. Mengingat orangtua dan leluhur memberikan segalanya, maka kewajiban utama se - orang anak adalah berbakti dan membahagiakan orangtua. Pada zaman dahulu, lahan pe makaman masih luas. Se - hing ga hampir semua orang Tionghoa selalu mema kam - kan leluhurnya yang mening - gal dan sembahyang Ching Bing selalu dilaksanakan di - pemakaman. Pada hari itu, semua ber - ziarah ke makam sehingga menjadi ajang reuni.

Untuk daerah Surakarta, Yog ya - karta, dan beberapa kota lain, khususnya di sekitar pa brik Gula, kata Ching Bing lebih akrab dengan istilah Cem bengan. Bahkan di ujung Jalan Kolo nel Sutarto Solo, terdapat sebuah tugu yang dikenal d engan Tugu Cembengan.

Ary wahyu wibowo