Edisi 17-04-2018
Kerusuhan Terburuk Sepanjang Sejarah


Kerusuhan atau huru-hara terjadi ketika sekelompok orang berkumpul bersama melakukan tindak kekerasan terkait perlakuan yang dianggap tidak adil ataupun sebagai upaya penentangan terhadap sesuatu.

Penyebab huru-hara beragam mulai buruknya kondisi ekonomi, penindasan pemerintah terhadap rakyat, konflik agama atau etnis, serta hasil sebuah pertandingan olahraga. Dalam sejarah, setidaknya ada 10 kasus kerusuhan paling parah yang pernah terjadi.

Kerusuhan Tulsa, AS (1921)
Pada 1921, Amerika Serikat diguncang kerusuhan rasial terburuk dalam sejarah. Kerusuhan dipicu adanya pengakuan seorang wanita kulit putih yang berprofesi sebagai operator lift mengaku telah dilecehkan seorang pria kulit hitam. Secara keseluruhan, 35 blok kota hancur oleh kebakaran, menyisakan 10.000 tunawisma dan perkiraan menelang kerugian hingga USD1,8 juta (kira-kira akan berjumlah USD21 juta saat ini) serta ratusan meninggal akibat kerusuhan ini.

Kerusuhan Mumbai, India (1962)
Pada 1992, kerusuhan terjadi di Kota Mumbai, India. Kerusuhan dipicu adanya kasus penghancuran Masjid Babri. Kerusuhan meletus dalam dua tahap. Tahap pertama melibatkan kaum Muslim sebagai hasil dari penghancuran masjid dan yang kedua adalah reaksi umat Hindu terhadap kaum Muslimin. Secara keseluruhan, sekitar 900 orang tewas dalam kerusuhan Mumbai ini. Seperti kerusuhan pada umumnya, pembakaran dan pencurian dianggap biasa.

Kerusuhan Detroit, Amerika Serikat (AS) (1967)
Kerusuhan Detroit dipicu insiden di Algiers Motel, Detroit, di tengah kebangkitan warga AS keturunan Afrika karena penggerebekan sebuah klab malam yang memicu reaksi warga kulit hitam. Kerusuhan dimulai di bagian timur laut dan menyebar ke timur selama lima hari. Meluasnya penjarahan, kebakaran dan pembunuhan membuat pemerintah mengerahkan pasukan Garda Nasional dan the 82nd airborne division. Kerusuhan menyebabkan 43 orang meninggal, 1.189 terluka dan lebih dari 7.000 orang ditangkap.

Kerusuhan Chicago, AS (1968)
Terbunuhnya aktivis hak asasi manusia Martin Luther King Jr menyebabkan kerusuhan sipil di Kota Chicago Amerika Serikat pada 5 April 1968. Kerusakan terparah menimpa Roosevelt Road Chicago. Secara keseluruhan, sedikitnya 10.000 polisi dan 5.000 tentara dikirim untuk membubarkan kerusuhan. Akibat kerusuhan,11 orang tewas dan lebih dari 125 titik kebakaran ditemukan.

Kerusuhan Los Angeles, AS (1992)
Pada 29 April 1992, pengadilan Los Angeles (AS) membebaskan dua polisi kulit putih terkait kasus pemukulan terhadap seorang pengendara motor kulit hitam, Rodney King. Memprotes pembebasan itu, ribuan warga melakukan demonstrasi yang berujung pada kerusuhan selama enam hari. Sebanyak 53 orang meninggal, termasuk 10 di antaranya ditembak mati dan 2.000 orang terluka. Perkiraan kerugian material bervariasi antara sekitar USD800 juta dan USD1 miliar.

Kerusuhan Argentina (2001)
Pada Desember 2001 kerusuhan sipil mengguncang Argentina yang dipicu adanya krisis ekonomi. Presiden Fernando de la Rua dituding sebagai penyebab resesi tiga tahun di perekonomian negara ini. Kerusuhan pun meletus pada 19 dan 20 Desember. Sebanyak 26 orang tewas dalam kerusuhan dan penjarahan secara luas ini.

Kerusuhan Indonesia (1998)
Kerusuhan Indonesia terjadi pada Mei 1998 tepatnya 13 Mei-15 Mei, khususnya di Ibu Kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa terbunuh karena ditembak dalam demonstrasi 12 Mei 1998 yang diikuti dengan turunnya Presiden Soeharto. Data tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menyebut sebanyak 1.217 orang tewas terbakar, 31 korban hilang, dan 52 perempuan etnis Tionghoa diperkosa dalam kerusuhan ini.

Kerusuhan Gujarat, India (2002)
Pada Februari 2002, massa Muslim menyerang dan membakar kereta yang ditumpangi warga Hindu. Akibatnya, 58 peziarah Hindu di dalam kereta tewas. Serangan itu memicu pembantaian balasan terhadap warga Muslim dalam skala besar. Akibatnya 790 warga Muslim dan 254 warga Hindu tewas, 223 orang lainnya dilaporkan hilang. Selain itu, 523 tempat ibadah rusak sedang: 298 dargah, 205 masjid, 17 kuil dan 3 gereja rusak. Sebanyak 61.000 warga Muslim dan 10.000 orang Hindu terpaksa mengungsi.

Kerusuhan London, Inggris (2011)
Kerusuhan London 2011 adalah serangkaian kerusuhan sipil dan penjarahan di London, tepatnya di Kota Tottenham, pada 6 Agustus 2011 akibat dipicu kasus penembakan terhadap Mark Duggan (29 tahun). Kerusuhan menyebar ke kota lain seperti Wood Green, Enfield Town, Ponders End dan Brixton yang diwarnai vandalisme, pembakaran, penjarahan dan kekerasan. Pada 8 Agustus 2011, kerusuhan meluas hingga sebagian Birmingham, Liverpool, Nottingham, Bristol, dan Medway. Lima orang tewas, 16 lainnya luka-luka dan 35 polisi luka-luka akibat kerusuhan.

Kerusuhan Thailand (2010)
Krisis politik Thailand terkait pemecatan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada 2006 kian buruk setelah tentara Thailand melepaskan tembakan dan gas air mata ke arah pemrotes dalam bentrokan di jantung Kota Bangkok pada 14 Mei 2010. Kejatuhan Thaksin memicu konflik antara pendukung dan penentangnya, sehingga protes yang semakin agresif mencapai puncaknya pada Maret-Mei 2010. Sekitar 90 orang tewas di Bangkok ketika masa Kaus Merah yang pro-Thaksin berhadapan dengan pasukan keamanan.

Kerusuhan Nairobi, Kenya (2007)
Pada Desember 2007, kerusuhan politik berubah menjadi kerusuhan besar terjadi ibu kota Kenya, Nairobi. Kasus ini dipicu terpilihnya kembali Mwai Kibaki sebagai Presiden Kenya. Dari Nairobi ke pesisir pantai di negara itu, ratusan orang tewas dan gedung-gedung dibakar oleh perusuh. Pada 28 Januari, jumlah korban tewas akibat kekerasan itu sekitar 800 orang, 600.000 di antaranya mengungsi.


KERUSUHAN BERDARAH INDONESIA

Kerusuhan Sampit
Tiga tahun setelah kerusuhan Mei 1998, sebuah kerusuhan baru hadir. Di Kalimantan Tengah terutama Kota Sampit, kerusuhan antara dua kubu etnis berakhir dengan mengerikan. Setidaknya ratusan warga meninggal. Penyebab dari kerusuhan antara etnis Madura dan Dayak ini masih simpang siur.

Kerusuhan Lampung Selatan
Kasus konflik kekerasan di Lampung Selatan mengakibatkan 14 korban meninggal dunia, belasan luka parah, dan 1.700 warga mengungsi. Kekerasan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 27 sampai 29 Oktober 2012. Cakupan luas konflik ini meliputi dua kecamatan, yakni Kalianda dan Way Panji. Total kerugian akibat konflik itu mencapai Rp24,88 miliar, 532 rumah rusak dan dibakar.

Kerusuhan Sambas
Selain di Sampit, di Kabupaten Sambas, Kalimatan Barat pun sempat terjadi kerusuhan berdarah. Bahkan disini korban yang jatuh pun memasuki angka ribuan. Hampir sama dengan kerusuhan di Sampit, kerusuhan Sambas yang terjadi pada tahun 1999 ini disebabkan oleh pergesekan antara suku pendatang dengan suku pribumi yaitu antara Suku Melaku dan Dayak dengan suku Madura.

Kerusuhan Tanjung Priok
Kerusuhan parah terjadi di kawasan Tanjung Priok pada 1984. Kerusuhan yang diyakini sengaja dipicu ini menimbulkan dampak cukup mengerikan. Bangunan di kawasan Tanjung Priok banyak dirusak dan akhirnya terbakar. Dalam kejadian ini setidaknya ada 24 orang warga yang tewas ditembaki lalu 9 lainnya terbakar oleh api.

Kerusuhan Ambon
Konflik yang ada kaitannya dengan agama terjadi di Ambon sekitar tahun 1999. Konflik ini akhirnya meluas dan menjadi kerusuhan buruk antara agama Islam dan Kristen yang berakhir dengan korban meninggal dunia. Orang-orang dari kelompok Islam dan Kristen saling serang dan berusaha menunjukkan kekuatannya.

Koran Sindo/Bobby Firmansyah