Edisi 17-04-2018
Penyidik OPCW Dilarang Masuk Douma


DAMASKUS–Para penyidik internasional Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mencoba masuk ke lokasi serangan gas kimia di Douma, Suriah.

Langkah itu setelah serangan misil yang dipimpin Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis, ke lokasi penyimpanan senjata kimia di Suriah. Direktur Jenderal OPCW meng- ungkapkan para penyidik belum diizinkan masuk ke Dou - ma. Inspektur OPCW itu tiba di Suriah pada Sabtu (14/4). “Suriah dan Rusia belum mengizinkan pe - nyidikan masuk ke Douma,” ungkap delegasi OPCW dari Inggris, dilansir Reuters.

Dia mengungkapkan, para penyidik OPCW membutuhkan akses tana batas. “Rusia dan Su - riah harus bekerja sama dengan OPCW,” ungkap delegasi Inggris di OPCW. Duta Besar Inggris untuk Belanda Pe - ter Wilson menuding Rusia telah meng abai - kan penyidikan OPCW. Kubu Suriah dan Rusia meng - klaim penundaan akses masuk ke Douma karena adanya serangan militer AS dan aliansinya ke Su - riah. Mereka menyalahkah pihak lain yang berusaha memblokade upaya menciptakan penyidikan senjata kimia. Sementara itu, Duta Besar Prancis untuk Belanda Phillipe Lalliot mengungkapkan, negaranegara lain perlu membantu OPCW mem - bongkar program senjata kimia Suriah.

“Kita semua tahun kalau Suriah tetap menyembunyikan program senjata kimia rahasia sejak 2013,” ungkapnya. Padahal selama ini Suriah mengklaim telah menghan cur - kan seluruh senjata kimia, tetapi hal itu hanya kebohongan. Para pakar OPCW mengatakan pada 2016 kalau seluruh cadangan senjata kimia milik Suriah telah dihancurkan. “Suriah telah di per - ingatkan tentang kesenjangan dan inkonsitensi dengan dekla - rasi yang dilakukan Damaskus,” ungkap Ahmed Uzumcu kepala OPCW. Sedangkan Duta Besar AS untuk OPCW Kenneth Ward mengungkapkan Rusia te - lah menghancurkan lokasi insi - den serangan pada 7 April lalu di Douma. “Dunia internasional per lu menuntut akuntabilitas ter - hadap pihak yang bertanggung jawab atas tindakan kejam ter - sebut,” ujar Ward.

Menteri Luar Negeri Rusia Ser gei Lavrov kemarin mem ban - tah tudingan bahwa Rusia telah merusak barang bukti serangan kimia di Douma. “Saya menjamin Rusia tidak merusak barang bukti di lokasi serangan,” katanya ke pa - da BBC. Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan, jika Barat kembali melancarkan serangan ke Suriah, maka itu akan membawa kekisruhan di dunia. Ancaman Putin itu diungkapkan ketika menghubungi Presiden Iran Hassan Rouhani pada Ming - gu (15/4). “Vladimir Putin, secara khusus menekankan bahwa jika serangan-serangan yang me lang - gar Piagam PBB itu diteruskan, maka pada akhirnya akan me nim - bulkan kekacauan dalam hu bung - an internasional,” demikian pernyataan Kremlin.

Namun, Washington me nyia - pkan langkah diplomasi untuk me nekan Rusia dengan mem be ri - kan sanksi ekonomi baru. Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengungkapkan, AS men ja tuh - kan sanksi bagi perusahaan yang menyediakan peralatan bagi Pre - siden Suriah Bashar al-Assad da - lam menggunakan senjata kimia. Merespons pidato Haley, Evgeny Serebrennikov, Deputi Komi te Pertahanan Parlemen Rusia me negaskan, kalau Moskow siap menghadapi penalti tersebut. “Mereka memang berat untuk kita, tapi akan merusak AS dan Eropa,” katanya dilansir kantor berita RIA.

Andika hendra