Edisi 17-04-2018
Nasionalisme dan Perkuliahan Digital


Era perkuliahan digital sudah di-mulai, meski masih ter batas pada sejumlah program studi di beberapa universitas.

Otoritas pen didikan tinggi telah mem be ri kan sinyal untuk mengurangi perkuliahan tatap muka. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) dalam berbagai kesempatan mengatakan bah - wa perguruan tinggi di Indone sia harus sudah mulai me - ngem bangkan sistem per kuliah an berkonsep e-learning atau berbasis teknologi inf ormasi. Perkembangan per guruan tinggi di masa datang ti - dak lagi mengandalkan gedung-gedung pusat kegiatan dan perkuliahan, tetapi berubah menjadi berbasis tek nologi informasi. Sistem per kuliahan tidak dilakukan di dalam kelas, namun bisa hanya de ngan sambungan ko mu nikasi jarak jauh menggunakan kom puter yang tersambung dengan internet.

Menjadi keniscayaan, me - ma suki era revolusi industri 4.0, pengelolaan pendidikan tinggi mesti berbasis digital. Sumber daya manusia per gu - ruan tinggi perlu bersikap pro - gresif, inovatif, agar mampu merespons masa depan yang sangat kompetitif. Pertanyaannya: bagai mana menempatkan na sio na - lisme dalam perkuliahan di gital? Ja waban pertanyaan ini akan menentukan arah ke bi - jakan pendidikan tinggi pada masa akan datang. Kita be r - harap perkuliahan dengan mo del apa pun, tidak terjebak pada hal-hal teknis belaka. Diharapkan pula, jangan sa m - pai per ku liah an digital, se ka - dar transfer pe ngetahuan (know ledge) se ma ta, tetapi tu - nanasionalisme.

Esensi pen di - dikan tinggi se ba gai upaya pembentukan ka rak ter bagi tu nas-tunas bangsa yang cerdas, terampil, mandiri, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu terus-me nerus dipedomani dan tidak bo - leh sekali-kali terabaikan. Pada satu sisi, fenomena perkuliahan digital patut di ap - re siasi sebagai respons ter ha - dap revolusi industri 4.0, te ta - pi pada sisi lain perlu disam - pai kan catatan-catatan kritis ter kait dengan urgensi na sio - na lisme.

Artinya, nasio nalisme mesti dijadikan karakter se ge nap insan akademik yang ter libat dalam penyeleng ga - raan perkuliahan digital. Pertama, perlu ada upayaupaya mengejawantahkan ni - lai-nilai kebangsaan menjadi pe mikiran, sikap, dan perilaku nyata. Cinta Tanah Air, siap bela negara, berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), adalah con toh-contoh ka rak t er ke - bang saan. Ka rak ter ke bangsaan me ru pa - kan penanda yang ter - ukir pada jiwa. Ka rak - ter kebang saan memper li hat kan jati diri, dan se kaligus pem - beda dari bang sa lain.

Agar bangsa ini ber ka - rak ter, nilai-nilai ke - bang saan perlu terus di aktualisasikan. Perkuliahan digital mes ti bernapaskan nasio - nalisme. Kedua , pendidikan karakter kebangsaan merupakan stra tegi un tuk melepaskan diri dari belenggu “pen - jajahan”. Bangsa ber - karakter dipastikan militan dalam per juangan membe bas kan diri dari segala ben tuk pen jajahan. Negara merdeka ber ka rakter kebangsaan, dipas ti - kan sarat dengan ak ti - vitas pen jabaran nilainilai Pancasila di da - lam penyelenggaraan pen di dik an. Perku - liah an di gi tal pun mesti sarat dengan pengamalan Pancasila. Ketiga , strategi pendidikan karakter kebangsaan dapat dimulai dari persamaan persepsi tentang hakikat pendidikan.

Pendidikan adalah proses humanisasi demi terwujudnya ma nusia bertakwa dan ber - wawasan kebangsaan. Di dalam pendidikan, terhubung manusia dengan manusia lain, dengan Tuhannya, dan dengan alam semesta. Hu bu - ngan ber sifat lahir dan batin. Ma ha sis wa dan dosen, dalam posisi se ba gai hamba-Nya, dan kalifah-Nya. Dalam posisi demikian, kesadaran dan pemahaman akan dirinya sendiri, meru pakan awal dan syarat ter se leng ga rakannya proses pendidikan secara ke seluruhan. Karena itu, per - kuliahan digital pun tidak boleh bersifat sekuler, tak bo leh hanya fokus pada materi, ino - vasi, dan percepatan akti vitas saja.

Keempat, dalam perkuliahan digital, peran seorang do - sen masih penting. Dosen, ibarat pinandita satria, adalah pe juang berkarakter ke bang - saan yang ikhlas berjuang demi ma sa depan mahasiswa agar kelak memiliki ilmu dan mampu me ngamalkan il mu - nya untuk ke jayaan ban gs anya. Seorang do sen bukan sekadar pengajar, me lainkan juga pendidik. Pengajaran berada di ranah la hiriah. Pengajaran meru pa kan aktivitas transfer of know led ge and skills saja. Sementara itu, pen di - dikan mencakup transfer of values, knowledge, and skills.

Pendidikan berada di ranah lahir maupun batin, jiwa mau - pun raga, urusan dunia sampai urus an akhirat. Dosen adalah pen didik berkarakter kebang - sa an yang mampu memberi ke teladanan, sekaligus mem - per luas cakrawala keilmuan bagi mahasiswa. Dosen adalah mo ti vator dan komunikator pa ling efektif dan pe nga ruh - nya sa ngat besar pada ma ha - siswa. Perilaku dosen akan digugu, di tiru, dan diak tualisasikan ma ha siswa secara kontekstual.

Menurut Menristek-Dikti, di era revolusi industri 4.0, seti daknya dibutuhkan lima kua li fikasi dan kompetensi dosen, yaitu: (1) educational comp e tence, kompetensi berbasis Inter net of Thing sebagai basic skill; (2) com petence in research, kompetensi membangun ja ri ngan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil menda patkan grant in ter nasio nal; (3) competence for technological com mercialization, punya k o m p e t e n s i mem bawa grup dan ma ha siswa pada ko mer sia lisasi dengan teknologi atas ha sil ino vasi dan pe neli tian; (4) competence in glo balization, dunia tanpa sekat, ti dak gagap terhadap berba gai budaya, kompetensi hy brid, yaitu global competence dan ke-unggulan me me cahkan na tio nal problem; serta (5) com petence in future strategies, di mana dunia m udah berubah dan berjalan cepat, sehingga pu nya kompetensi mem pre diksi de - ngan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan stra - teginya, dengan cara jointlecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mo bility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan se - bagainya.

Dicermati saksama, dari lima kualifikasi dan komp eten si di atas, tidak satu pun yang mampu menggaransi ma ha sis wa tetap memiliki karak ter ke bangsaan. Bila pendi dikan ka rak ter kebangsaan ter abaikan, output per ku liahan digital di kha watirkan hanya meng ha silkan “orang pintar”, inovatif, cekatan, teta pi tunana siona lisme. Masa - lah ini tidak boleh terjadi, dan per lu dicari so lu sinya. Wallahu’alam .

Sudjito Atmoredjo
Guru Besar Ilmu Hukum UGM