Edisi 17-04-2018
Kinerja Perdagangan RI Membaik


JAKARTA - Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2018 lebih disebabkan faktor perekonomian secara global yang tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu.

Di sisi lain, surplus juga ada dipengaruhi faktor musiman. “Memang biasanya di bulan Ma ret itu ekspornya lebih mening kat dibandingkan Januari- Februari. Jadi, faktor musiman ada, faktor global juga ada, dan har ga komoditas seperti minyak, gas, dan batu bara,” ujar Di rektur Eksekutif Center of Re form on Economics (CORE) Mo hammad Faisal saat di hubungi kemarin. Faisal menuturkan, ada juga fak tor peningkatan demand teruta ma dari negara-negara yang se k arang sedang perang da - gang, yaitu China dan Amerika Se rikat.

“Jadi, sebetulnya besi ba ja ekspor kita meningkat, alas ka ki juga meningkat di ban dingkan tekstil. Kalau kita lihat jenis per tumbuhan per jenis pro duknya memang ada peningkatan yang signifikan. Pasar-pasar yang tumbuhnya tinggi dan men dorong peningkatan ekspor di bulan Maret,” katanya. Se mentara, ka ta dia, impor bahan b a ku dan bahan pe nolong di ha rap kan adanya per - baikan dari in dustri ma nufaktur. Selain itu, p e merintah juga ha rus me was pa dai kenaikan im por barang kon sumsi men - de kati bulan pua sa dan lebaran. Menurut Faisal, surplus dipre diksi akan berlanjut pada April namun kenaikannya tidak aka n sebesar pada Maret.

“Itu ma s ih bergantung apakah ekspor nya sekuat sekarang ter uta - ma ekspor nonmigas. Secara umum ada kecenderungannya sur plus di bulan depan,” katanya. Badan Pusat Statistik (BPS) me rilis neraca perdagangan Indo nesia pada Maret 2018 surplus USD1,09 miliar. Hal ini lanta ran pada Maret 2018, nilai eks por Indonesia mencapai USD15,58 miliar atau me ningkat 10,24% dibanding ekspor Fe bruari 2018. De mi ki an juga di bandingkan Maret 2017 me ning kat 6,14%. Sementara nilai impor Indonesia pada Maret 2018 men c a pai USD14,49 miliar atau naik 2 ,13% di banding Februari 2018. De mikian pula jika di ban ding kan Maret 2017 me ning kat 9,07%.

Kemu dian neraca per dagangan Janua ri-Maret 2018 mengalami sur plus USD0,28 miliar. Kepala BPS Suhariyanto menga takan, surplus neraca pe r da - gangan Indonesia per Maret 2018 karena surplus nonmigas na mun nilainya terkoreksi dari de fisit di impor migas sebesar USD924,5 juta. “Maret 2018 ini ang kanya lebih meng gem bi rakan dari bulan Januari-Februari. Ki ta harap semakin ba gus, se ma - kin banyak pasar tra disional yang terbuka untuk men dorong eks - por,” ujarnya di Ja karta, kemarin. Suhariyanto memaparkan, ni lai ekspor Maret 2018 ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh mencapai 11,77%. Sementara ekspor migas turun -3,81%.

“Penurunan eks por migas ini disebabkan oleh turunnya nilai ekspor gas se besar 9,67%,” ungkapnya. Secara kumulatif, nilai eks por In donesia Januari-Maret 2018 men capai USD44,27 mi liar atau me ningkat 8,78% di ban ding perio de sama tahun 2017. Se dangkan ekspor no n mi gas mencapai USD40,21 mi liar atau men in g kat 9,53%. “Pe ning katan ter be sar eks por no n migas Maret 2018 ter - ha dap Fe brua ri 2018 terjadi pa da ba han ba kar mineral se be sar USD358,9 juta (18,58%), se dang - kan penurun an terbesar ter ja di pada timah se besar USD92,5 juta (45,25%),” ujarnya.

Suhariyanto mengatakan, eks por nonmigas Maret 2018 di picu oleh pertumbuhan ekspor pertanian dan per tam bangan yang meningkat masingmasing sebesar 20,01% (USD0,28 miliar) dan 22,66% (USD2,78 miliar). “Pertanian tum buh menggembirakan, tapi share terhadap ekspor masih kec il. Secara total ekspor kita mayo ritas dari industri peng olahan yang mengalami pe ning katan 9,17% (USD11,18 miliar). Pe ningkatan signifikan terjadi pa da ekspor besi baja, tembaga, pa kaian jadi atau konveksi dari teks til, serta pulp,” katanya.

Peningkatan ekspor pertam bangan yang signifikan ini di topang oleh komoditas batu ba r a tumbuh 24% dan biji temba ga sebesar 36%. Ekspor non- mi gas Maret 2018 terbesar ad alah ke China USD2,36 miliar, disu sul Amerika Serikat USD1,59 mi liar dan Jepang USD1,43 miliar, dengan kontribusi ke ti ganya mencapai 37,78%. Se mentaar ekspor ke Uni Eropa (28 nega ra) sebesar USD1,53 miliar. Adapun nilai impor Maret 2018 mencapai USD14,49 miliar atau naik 2,13% di ban dingkan Februari 2018. Kenaikan im por terjadi karena naiknya im por migas dan nonmigas sebe sar masing-masing 1,24% dan 2,30%.

“Sebanyak 74,76% da ri total impor Maret 2018 ada lah bahan baku atau p e nolong dan barang modal 16,94%. Ka lau impor didominasi dengan bahan baku dan barang mo dal diharapkan akan mengge rakkan perekonomian di dalam negeri,” kata Suhariyanto. Sementara impor barang kon sumsi turun 12,80% (USD1,20 miliar) yang di se babkan berakhirnya masa impor be ras pemerintah. Adapun impor kurma mengalami 86% diban dingkan Februari 2018. Impor ini bergerak seiring puasa yang akan jatuh pada Mei 2018.

Negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Janua ri-Maret 2018 ditempati oleh China dengan nilai USD10,16 miliar (27,30%), Jepang USD4,33 miliar (11,64%), dan Thailand USD2,57 miliar (6,89%). Impor nonmigas dari ASEAN 20,84%, sementara dari Uni Eropa 9,41%.

Oktiani endarwati