Edisi 17-04-2018
Dipasena Layak Jadi Proyek Strategis Nasional


JAKARTA – Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih mendukung rekomendasi Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) untuk membangkitkan kembali pertambakan udang Dipasena di Lampung dengan menempatkannya se ba gai proyek strategis nasional (PSN).

Namun, dia meng ingat kan pe - ngelolaan pertambakan udang terbesar di dunia itu ha ruslah tetap secara murni bisnis yang modern, yang berkelanjutan dan tetap ditangani oleh swasta. Bungaran mengatakan, jika pemerintah terlibat dalam re vi - ta li sasi atau rehabilitasi per - tam bakan Dipasena, sebaiknya itu dalam investasi infra struk - tur. Meski menjadi proyek stra - tegis nasional, dia menilai pe - ngelolaannya haruslah tetap secara bisnis swasta. Kalaupun pemerintah ikut serta dalam pengelolaannya, itu diwakili oleh BUMN.

“Jadi joint-venture antara swas ta dan BUMN bidang per - ikanan dan harus dengan tetap me libatkan penambak rakyat se - tempat. Modelnya seperti yang dahulu pernah dilak sanakan saat kejayaan Dipasena,” ka - tanya di Jakarta akhir pekan lalu. Dia menyayangkan per tam - bakan Dipasena sekarang ha - nya menjadi pertambakan yang tra disional. Padahal pada masa ke jayaannya (1985-1998) Di - pa sena pernah tiap bulan meng - hasilkan 2.000 ton udang dan da lam setahun mengekspor 20.000 ton. Pada 1995/1996 eks pornya pernah mencapai 25.000 ton yang men ja di kan - nya sebagai eksportir terbesar di dunia.

Tercatat Dipasena per - nah menghasilkan devisa USD300 juta per tahun. Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri mengatakan Indonesia dengan garis pantai 95.185kmatauterpanjangke dua di dunia memiliki potensi la han pesisiruntuktambakudang3juta ha atau terluas di dunia. “Indone sia seharusnya menjadi produsen dan eksportir udang bu di daya ter besar di dunia,” ujar nya.

Rakhmat baihaqi