Edisi 17-04-2018
Gap Produksi-Konsumsi Minyak Kian Lebar


JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) mendorong lebih banyak potensi investasi eksplorasi migas baru untuk mengatasi makin menurunnya produksi minyak mentah (crude) di Indonesia.

Sekretaris SKK Migas, Arief Se tia wan Handoko menga ta - kan, produksi minyak mentah di Tanah Air terus menurun na - mun tingkat konsumsinya se - makin meningkat. Hal ini me - nyebabkan adanya gap antara produksi dan konsumsi minyak mentah di Indonesia. “Hingga Maret 2018, kita masih punya gap yang besar, di mana produksi kita yang dulu mencapai 1,7 juta barel per hari ta hun 1974, sekarang turun men jadi hanya 800.000 barel per hari,” kata Arief dalam acara Dialog Emiten Kebijakan Hulu Migas untuk Mendongkrak Inves tasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kondisi saat ini sangat berbanding terbalik de ngan posisi produksi dan kon sumsi minyak pada tahun 1970-an. Karena pada saat itu, Indonesia masih memiliki ca - dangan surplus, bahkan bisa me lakukan ekspor minyak mentah ke sejumlah negara. Pada 2002, kata dia, posisi produksi dan konsumsi minyak mentah di Indonesia mulai se - im bang. Saat itu, produksi mi - nyak mentah hanya bisa me me - nuhi konsumsi di dalam negeri. Namun, saat ini cadangan mi - nyak mentah tidak lagi bisa me - menuhi kebutuhan dalam ne - geri sehingga Indonesia harus me lakukan impor. Tidak hanya dalam bentuk minyak mentah, tapi juga produk jadi.

“Saat ini gapnya semakin be - sar. Artinya di sini kurang crude yang akan kita proses menjadi BBM melalui impor. Karena ini impor, maka menjadi beban bagi negara, tidak hanya crude, tapi barang jadi juga, tentu ini jadi beban bagi APBN kita,” katanya. Untuk itu, menurutnya, pe - me rintah terus berupaya me - nam bah kegiatan eksplorasi dengan tujuan meningkatkan cadangan minyak dalam negeri. Dalam hal ini, pemerintah juga mendorong investasi pada sisi eksplorasi dengan berbagai ben tuk insentif bagi investor. Sa lah satunya memangkas re - gu lasi yang berkaitan dengan sek tor energi untuk memudahkan investasi.

Arief juga memaparkan, dari 128 cekungan (basin) yang ada, baru 18 telah melakukan pro - duksi. Sementara 12 cekungan telah dilakukan pengeboran de - ngan penemuan dan 24 ce ku - ngan telah dilakukan penge bor - an tanpa penemuan. Sisanya 74 cekungan masih belum ter - jamah. “Jadi, ini bisa menjadi pe - luang bagi industri hulu di Ta - nah Air untuk memacu eks plo - rasi. Peluangnya besar karena terdapat 74 basin yang belum sama sekali dieksplorasi,” ujar - nya. Meski demikian, menurut dia, kegiatan investasi eks plo - rasi juga turut dipengaruhi har - ga minyak dunia.

Seperti di ke - tahui, pada beberapa tahun ter - akhir, harga minyak sempat me - ng alami penurunan. Hal ini menyebabkan kegiatan in ves - tasi eksplorasi terhambat. Alo - kasi investasi investor juga lebih banyak ke sektor eksploitasi di - bandingkan eksplorasi. Sebagai informasi, Dialog Emiten ini diselenggarakan Fo - rum Komunikasi Komunitas In vestor Indonesia (FK2I), yai - tu federasi 67 komunitas in ves - tor yang dibentuk pada 2017 si - lam. Selain turut meng ha dir - kan SKK Migas, sejumlah emi - ten migas juga menjadi pem bi - cara di antaranya PT Per usa - haan Gas Negara Tbk (PGN), PT Elnusa Tbk, dan PT Wintermar Tbk.

Direktur Komersial PGN Danny Praditya mengatakan, un tuk menekan efisiensi per se - roan akan menerapkan plat - form information and communica tion technology (ICT) atau tek - nologi informasi komunikasi. Selain itu, dari sisi pengelolaan juga akan dilakukan melalui se - jumlah anak usaha perseroan. “Kita coba ICT platform dan digitalisasi, dan dari sisi pengelolaan dilakukan melalui anak usaha sehingga bisa terkontrol dan efisien dari segi biaya,” kata Danny di tempat sama.

Terkait rencana pem ben - tukan holding migas BUMN, me nurut dia, target belanja modal atau capital expenditure (capex) perusahaan setelah mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) masih belum ditentukan. Meski demikian, dengan adanya akuisisi ini diharapkan bisa mendorong investasi duplikasi di tempat yang sama.

Heru febrianto