Edisi 17-04-2018
Penerimaan Perpajakan Capai Rp262,4 T


JAKARTA–Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis realisasi penerimaan perpajak an mencapai Rp262,4 triliun atau naik 16,2% selama Januari-Maret 2018.

Kenaikan tersebut tanpa memperhitungkan tax amnesty yang berlaku hingga Maret 2017. Penerimaan perpajakan ber - dasarkan komposisinya terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp244,53 triliun dan peneri maan kepabeanan dan cukai se besar Rp17,89 triliun atau masingmasing telah terealisasi 17,2% dan 9,2% dari target APBN 2018 Menteri Keuangan (Men keu) Sri Mulyani Indrawati menga takan, capaian penerimaan pa jak hing ga akhir Maret 2018 me - ning kat hampir di seluruh je nis pajak utama dengan per tumbuhan mencapai dua digit.

“Pajak non migaskenaikannya tanpa tax amnesty sekitar 23,1% di ban - ding kan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh 9,5%. Jadi, da - lam hal ini sudah terjadi pe nguat - an,” ujarnya di Jakarta, kemarin. Apabila melihat lebih dalam lagi, penerimaan pajak yang ber - asal dari penerimaan PPh non - migas hingga triwulan I/2018 telah mencapai 16,3% da ri tar - get pada APBN 2018 atau masih tumbuh 8,4% dari pe riode sama tahun sebelumnya. Sri Mulyani menuturkan, pe - nerimaan pajak dari non migas mencapai Rp233,1 triliun tum - buh 10,7% atau tanpa per hi tung - an tax amnesty tumbuh 23,1% dari tahun lalu sebesar Rp210,6 triliun.

Capaian PPh nonmigas tersebut secara year on year (yoy) didukung kontribusi dari PPh Pasal 21 tumbuh 15,73% atau Rp30,39 triliun, PPh 22 impor Rp3,09 triliun atau naik 25,09%, dan PPh ba dan Rp34,85 triliun atau naik 28,42%. Kemudian PPh Orang Pri badi mencapai Rp5,35 triliun atau naik 17,61%, PPh 26 men capai Rp9,85 triliun atau tumbuh 24,13%, dan PPh final mencapai Rp26,37 triliun atau tumbuh 13,49%. PPh dalam negeri mencapai Rp55,33 triliun atau tumbuh 13,06% dan PPN impor men ca - pai Rp40,71 triliun atau tum buh 21,56%.

“PPh pasal 21 pada triwulan I/2018 tumbuhnya tertinggi sejak tahun 2013. PPh Orang Pribadi tumbuh positif, dampak dari setelah tax am nesty yang terus kita lakukan pe - ngumpulan secara ter organisasi,” ujarnya. Menurut Sri Mulyani, in di - ka tor tersebut yang meng gam - barkan ekonomi domestik mu - lai menggeliat. “Dari sisi sektor usaha menunjukkan adanya pertumbuhan double digit ter - utama pengolahan dan per da - gangan. Pengolahan tum buh - nya mencapai 16,72% dan per - da gangan 28,64%. Kalau dilihat dari sektor usaha ini, yang juga melonjak itu pertambangan ka - rena harga komoditas dan vo - lume mulai menunjukkan ke - naikan,” katanya.

Sementara itu, realisasi pe ne - rimaan kepabeanan dan cu kai mencapai Rp17,89 triliun atau tumbuh 15,84% diban ding kan periode sama tahun lalu. Capaian ini juga tertinggi da lam kurun tiga tahun ter akhir dan terjadi pada seluruh komponen penerimaan, yaitu bea masuk, bea keluar, dan cukai. Penerimaan bea masuk men - capai Rp8,41 triliun atau tum - buh 9,55% (yoy) seiring pe ningkatan devisa impor yang tumbuh 13,27% sepanjang tri wulan I/2018. Selanjutnya penerimaan bea keluar tumbuh pesat sebesar 70,38% (yoy), ter ting gi dalam 4 tahun terakhir ter utama bersumber dari per tum buhan ekspor hasil tam bang sebesar 39,68%. Terakhir, pe nerimaan cukai hingga tri wu lan I/2018 mencapai Rp8,05 triliun atau tum buh 16,20% se cara yoy di - bandingkan triwulan I/2017.

Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp71,1 triliun atau mencapai 25,8% dari target APBN 2018. Angka ini naik 22,1% di ban - ding kan periode sama tahun lalu. “Semua komponen PNBP kita jauh lebih baik dibanding dua tahun belakang. SDA migas PNBP mencapai Rp27,9 triliun, meloncat dibanding 2017 yang Rp19,5 triliun, padahal pro duk - si migas kita lebih rendah dari asumsi,” kata Sri Mulyani. Sedangkan PNBP nonmigas juga naik Rp8,1 triliun di ban ding - kantahunlaluRp6,9triliun. PNBP lainnya sebesar Rp24,9 triliun atau hampir sama. Pen da pat an BadanLa yan anUmum(BLU) me - ningkat Rp10,1 triliun di banding tahun lalu Rp7,2 triliun.

Realisasi belanja negara sam - pai dengan akhir Maret 2018 sebesar Rp419,55 triliun, me - ning kat 4,88% secara yoy jika di - bandingkan realisasi periode sama tahun sebelumnya. Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo me - ngatakan, realisasi penerimaan pada kuartal I/2018 me nun juk - kan adanya perbaikan ekonomi. Hal ini dilihat dari semua jenis pajak tumbuh bagus. “Menurut saya, ini sudah rebound, mulai ber gerak ke arah yang baik ka - rena hampir semua jenis pajak tumbuh bagus. Kontribusi ke - pa tuhan juga,” ujarnya.

Yustinus menambahkan, un tuk mencapai penerimaan per pajakan hingga akhir tahun di perlukan effort lebih karena melihat realisasi pada kuartal I/2018 belum cukup untuk men capai 100%. “Saya kira te - tap perlu effort karena ini belum cu kup untuk mencapai 100%. Perlu strategi menjaga ini berkesinambungan,” katanya.

Oktiani endarwati