Edisi 17-04-2018
Memuji Guardiola Bersama Filosofinya


MANCHESTER - Selamat Manchester City (Man City). Selamat untuk gelarnya musim ini dan ketiga sejak era Liga Primer.

Gelar yang sempat tertunda akhirnya menjadi milik mereka setelah Manchester United (MU) takluk dari penghuni dasar klasemen sementara West Bromwich Albion, 1-0, di Stadion Old Trafford. Pada 8 Juli 2016 mendung menggelayut di atas Stadion Etihad saat seorang pria berdasi dengan jas dan celana abu-abu berdiri dengan syal biru-putih. Pria itu adalah Pep Guardiola. Dia baru saja diperkenalkan sebagai pelatih Manchester City.

“Sepanjang karier banyak orang selalu meminta lebih dari tim saya. Mungkin kami tidak selalu memenangkan pertan - dingan, tapi akan selalu kami coba. Jika sekarang tidak me - nang, lain kesempatan pasti bisa menang. Paling penting ada lah bagaimana terus ber - ubah,” kata Guardiola dalam sa - lah satu pernyataannya saat jum pa pers pertama bersama Man City. Guardiola memenuhi apa yang disampaikan. Setelah gagal total pada musim lalu dia akhirnya memberikan trofi musim ini, bukan cuma satu, tapi dua sekaligus. Dari banyak sisi, harus diakui Man City layak memenangkan gelar musim ini.

Mereka adalah tim dengan penge luaran dana terbesar, penguasaan bola tertinggi, produktivitas terbaik, dan tentu saja jumlah kemenangan terbanyak. Permainan indah yang menjadi bukti antitesis dari sepak bola kick and rush Liga Primer. Guardiola menebus kegagalannya musim lalu, dengan dua gelar di tahun ini. Sebelumnya The Citizens sudah mendapatkan trofi Piala Liga dengan mengalahkan Arsenal pada partai final. Liga Primer menjadi gelar kedua. Sepanjang bersama Man City, mantan pelatih Barcelona dan Bayern Muenchen itu mendatangkan 19 pemain dengan banderol lebih dari 400 juta poundsterling. Investasi terbesar dilakukan di barisan belakang dengan memecahkan beberapa rekor pembelian.

Saat gagal musim lalu Guardiola mengaku banyak hal yang harus diperbaiki, bagaimana mengantisipasi permainan kontak fisik dan mengantisipasi bola kedua. Meski begitu, dia tidak pernah mengubah filosofi bermain. Filosofi sepak bola berbasis penguasaan bola, yang sempat diragukan setelah gagal total pada musim perdananya. Namun, Guardiola berge - ming dengan terus menerap - kan apa yang diinginkan. “Kare na itu, alasan saya di sini. Un - tuk menguji diri sendiri. Saat di Barcelona, saya mendapatkan segalanya. Pemain terbaik se - panjang masa dan satu tim dengan pemain yang berkem - bang di akademinya,” ujar Guardiola dalam kesempatan yang sama.

Konsistensi pada filosofi juga yang kemudian membuat Man City musim ini juara. Juara dengan gaya, dengan gol, tentu saja puja puji pada keteguhan Guardiola melawan stigma bah - wa sepak bola indah tak akan bisa mendapatkan ruang pada Liga Primer. “Saya sangat senang dan bang ga dapat berbagi ini dengan semua penggemar kami. Semua orang yang ada di sana untuk mendukung kami, terutama pada minggu terakhir ini karena banyak yang tahu itu sangat sulit tapi pada saat yang sama kami sudah bangkit kem - bali. Kami juara sekarang dan terima kasih untuk kalian se - mua. Ini musim yang luar bia - sa,” tandas kapten tim Vincent Kompany, dikutip situs resmi.

Meski berhasil menjadi juara, Kompany mengatakan bahwa Man City masih jauh dari kesempurnaan. Dia menyatakan, untuk menjadi tim kuat pada Liga Primer membutuhkan konsistensi yang baik pada setiap musim. Menjadi juara diakui menjadi capaian yang baik, tapi mereka harus terus menunjukkan permainan seperti ini, dua, tiga, atau empat musim berturutturut. “Apa yang kami tunjuk - kan musim ini menandakan bahwa kami telah maju se lang - kah,” ujar bek asal Belgia itu. Dia menilai, perjuangan timnya mengejar gelar musim ini pantas diapresiasi mengingat Liga Primer merupakan kompetisi yang ketat dan sulit diprediksi.

“Saya tentu merasa bangga dengan capaian musim ini karena momen seperti ini begitu cepat berlalu. Saya ingin meraih lebih banyak gelar pada musimmusim mendatang,” pungkasnya.

Ma’ruf



Berita Lainnya...