Edisi 17-04-2018
Stop Anarkisme


JAKARTA– Laga Arema FC versus Persib yang berakhir ricuh menjadi ujian ketegasan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Sanksi yang dijatuhkan diharapkan bisa memutus mata rantai kekerasan suporter dalam kompetisi sepak bola Indonesia. Insiden kericuhan penonton dalam laga di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (15/4), menjadi noda pada kompetisi Liga 1 yang baru bergulir tiga pekan. Suporter Aremaniayang tidak puas dengan performa Arema FC merangsek ke lapangan pada menit 90+2 dan memaksa wasit menghentikan pertandingan. Benih-benih kericuhan mulai terasa saat Arema FC tertinggal 1-2 berkat gol Ezechiel Ndouasel pada menit ke-19 dan 78.

Singo Edanyang unggul lebih dahulu pada menit ke-18 melalui tendangan Thiago Futuoso akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol Balsa Bozovic pada menit ke-86. Satu menit kemudian pertandingan berjalan makin memanas setelah wasit Handri Kristanto memberikan hadiah kartu merah kepada penyerang Arema FC Dedik Setiawan. Tingginya tensi pertandingan menjalar ke tribune penonton. Tidak lama kemudian suporter mulai merangsek ke dalam lapangan dan melakukan pelemparan. Akibat insiden ini, puluhan suporter menderita luka-luka.

Pelatih Persib Mario Gomez juga terkena imbasnya dan mendapatkan luka di kening. Selain itu, tim Maung Bandung sempat tertahan sekitar 2 jam di ruang ganti sebelum dievakuasi menggunakan kendaraan taktis. Gomez mengaku bisa memahami tensi tinggi laga versus Arema FC. Namun, kerusuhan penonton menurut dia tidak bisa ditoleransi dalam olahraga apa pun dan harus mendapatkan hukuman berat. Karena itu, dia menantang Komdis PSSI untuk berlaku adil dan memberikan sanksi tegas kepada tuan rumah.

”Ini adalah sepak bola. Tapi, saya tidak menyukai ini (kerusuhan). Saya ingin tahu apa yang akan dilakukan Komdis dengan kericuhan ini,” tandas Gomez, dilansir laman Persib kemarin. Pelatih asal Argentina itu merujuk pada hukuman yang diterima Persib pada laga awal Liga 1. Kapten Supardi Nasir disanksi empat pertandingan plus denda Rp50 juta lantaran divonis menanduk wasit. Selain itu, pelatih berusia 61 itu berharap insiden di Kanjuruhan menjadi pelajaran bagi seluruh suporter Indonesia jika kekerasan tidak bisa dibenarkan dalam sepak bola.

Menurut dia, penonton harus memiliki cara yang lebih baik lagi dalam memberikan dukungan terhadap tim kesayangannya. “Hal seperti ini tidak bisa terjadi terus menerus dalam sepak bola. Jangan lakukan kekerasan, itu sangat merugikan tim kalian. Jika kita bisa memahami setiap hasil, baik itu menang, seri atau kalah, sepak bola akan menjadi terasa lebih indah,” ujarnya. Media Officer Arema FC Sudarmaji mengungkapkan, kericuhan tersebut berdampak besar terhadap kondisi psikologis pemain. Apalagi, dari empat laga yang sudah dijalani, belum sekali pun Arema FC mampu meraih kemenangan. Insiden serbuan penonton semakin menambah kekecewaan tim.

”Semuanya pastinya masih sedih dan kecewa, tetapi kompetisi terus berjalan sehingga tim harus tetap fokus dan segera melakukan pemulihan kondisi untuk menatap pertandingan berikutnya,” tandasnya. Sementara itu, kedua tim dipastikan hanya mendapat - kan satu poin setelah bermain imbang 2-2. Operator PT Liga Indonesia Baru menyatakan, laga di Stadion Kanjuruhan, Malang, itu sudah selesai meski pertandingan terhenti pada menit 92 dari tambahan waktu normal tiga menit. Direktur Operasional PT LIB Tigorshalom Boboy menyatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan laporan yang diserahkan pengawas pertandingan.

Kedua tim dinyatakan masingmasing mengemas satu poin. ”Semua telah kami baca dan pelajari secara terperinci. Dari laporan tersebut, kami memutuskan pertandingan selesai. Kedua tim hanya mendapatkan satu poin,” papar Tigorshalom Boboy, dalam rilisnya kemarin.

Abriandi/yuswantoro

Berita Lainnya...