Edisi 17-04-2018
Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Deteksi Kebocoran Air Berbasis IT


BANYAKNYA keluhan masyarakat, khususnya pelanggan, terkait gangguan pasokan air bersih ke rumah di antaranya karena faktor sulitnya mendeteksi jaringan pipa yang mengalami kebocoran.

Apalagi, kualitas suplai air sering mengalami kekeruhan. Apa saja yang dilakukan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor agar kebocoran maupun keluhan gangguan lainnya bisa ditekan? Berikut petikan wawancara wartawan KORAN SINDO Haryudi dengan Direktur Teknik, yang juga (Plt) Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Syaban Maulana kemarin.

Sebagai BUMD, sejauh mana PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor memanfaatkan teknologi terkait pengolahan dan perawatan demi tercapainya moto layanan prima kepada masyarakat?

Teknologi dalam perawatan teknis hampir sama, yakni konvensional dalam pengolahan maupun penjernihan. Sebab, kualitas bahan baku yang kami olah bukan seperti air laut. Saat ini pemanfaatan teknologi itu dilakukan pada perawatan instalasi pengolahan air dan monitor ing peningkatan kinerja. Salah satunya, kemarin di IPA Dekeng kerap timbul gangguan pelayanan karena ada permasalahan. Sebab, permasalahan IPA Dekeng ada dua (400 dan 1.100 liter/detik), kini menjadi 1.500 liter/detik. Dengan 1.500 liter/detik ini, kami sudah full capacity . Tetapi, pada saat kekeruhan tinggi, itu membutuhkan waktu pemisahan lumpur dengan air bersih.

Nah , ternyata kekeruhan ada di 500 nephelometric turbidity unit (NTU). Seperti air dalam kemasan itu sekitar 0,75 NTU agar layak minum. Artinya, yang namanya air Sungai Cisadane (bahan baku air PDAM Tirta Kahuripan) itu ada tingkat kekeruhannya yang rata-rata 100 NTU.

Berapa standar tingkat kekeruhan air yang bisa diolah , kemudian disuplai ke pada masyarakat?

Kalau berdasarkan standar nasional Indonesia (SNI), kekeruhan tertinggi 600 NTU. Air yang masuk ke IPA Dekeng selama ini terganggu akibat proyek tol Bogor-Ciawi- Sukabumi (Bocimi) yang banyak mengeruk tanah. Akibatnya, kalau hujan, air sungai keruh. Saat ini jika hujan sedikit, akibat banyak proyek pembangunan tol Bocimi, kekeruhan mencapai 2.000 NTU. Jika kekeruhan 1.000 NTU, mau tidak mau harus diturunkan karena over . Bayangkan saja, 1.500 liter/detik saja sudah ngepas . Sekarang akibat kekeruhan, diturunkan menjadi 1.000 liter/detik, walaupun gangguan itu hanya beberapa jam.

Dengan rekayasa teknologi atau engineering , kami ganti komponenkomponen untuk pengolahannya. Dekeng sekarang telah melakukan rekayasa engineering teknologi. Alhasil, dari semula 1.500 liter/detik, kini malah bisa 1.700 liter/detik. Jadi, jika ada kekeruhan hingga 1.000 juga tidak masalah karena adanya rekayasa engineering teknologi. Namanya adalah optimalisasi pengolahan.

Upaya apa yang dilakukan PDAM untuk meningkatkan performa pengolahan air?

Kami hanya melakukan modifikasi atau optimalisasi rekayasa engineering teknologi dengan cara menghitung ulang produksi, yang semula tidak sempurna menjadi sempurna. Tetapi, rekayasa itu tetap kami manfaatkan bukan hanya saat terjadi kekeruhan biasa. Jadi, saat tingkat kekeruhan tinggi, produksi suplai air tetap aman.

Bagaimana dengan keluhan pelanggan tentang lambannya respons petugas PDAM terkait tersendatnya suplai air akibat kebocoran?

Nah , pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah monitoring dan menekan kebocoran air berbasis teknologi informasi (TI). Selain untuk mengetahui debit hasil pengolahan air, bantuan teknologi itu juga bisa memonitor tekanan udara dalam pipa sehingga lebih cepat dibanding manual. Kemudian, jika terjadi penurunan produksi maupun distribusi, juga bisa diketahui secara cepat.

Bagaimana dan apa tahapan dalam pemanfaatan teknologi untuk menekan kebocoran dan berkurangnya keluhan pelanggan?

Untuk kebocoran, kami akan buat kluster. Kemarin untuk mengetahui kebocoran masih manual, di mana petugas setelah mendapat laporan mencari titik jalur pipa distribusi. Seperti yang terjadi belum lama ini, setelah mendapatkan laporan masyarakat terkait suplai air bersih yang terganggu akibat kebocoran yang sulit terdeteksi, itu butuh waktu lama. Setelah berhari-hari, bahkan hampir seminggu, baru titiknya ketemu karena pipa tersebut berada di bawah jembatan atau dikubur dalam tanah maupun beton. Itu yang menyulitkan.

Apakah mekanisme kerja alat tersebut sudah sesuai harapan?

Begini, misalkan IPA sebagai tempat produksi yang biasanya 1.000 liter/detik kemudian suplai ke pelanggan hanya 800 liter/detik, berarti ini ada kehilangan air akibat kebocoran sekitar 200 liter/detik atau 20%. Di antara pipa transmisi dan distribusi dari IPA akan dipasang teknologi meteran bernama SCADA (sistem komputerisasi guna memonitor produksi dan suplai), agar bacaan antara produksi dan suplai bisa cepat diketahui. Dengan alat ini, kebocoran air cepat terdeteksi karena alat itu membaca selisih air yang terbuang. Bagusnya, alat ini bisa juga mendeteksi berkurangnya tekanan udara sehingga bisa ditambah.

Berapa nilai investasi penerapan alat pendeteksi kebocoran berbasis T I itu? Lalu , apa saja kendalanya?

Karena kendala biaya, alat SCADA untuk Kota Bogor dengan jumlah pelanggan 168.000 idealnya 200 unit dalam jangka waktu empat tahun. Tahun ini kami baru pasang 35 unit dan itu sudah menghabiskan biaya Rp10 miliar. Jadi, intinya itu semua untuk mendeteksi kebocoran sehingga meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan terjamin. Dengan begitu, tidak repot mencari kebocoran yang dikeluhkan masyarakat.

Bagaimana progresnya dan kapan dimulai? Daerah mana yang layak men jadi contoh sukses penerapan SCADA?

Sebelum alat itu dipasang, kami juga sedang menginventarisasi jumlah pipa PDAM di Kota Bogor untuk menyesuaikan database yang nanti tersimpan di komputer demi menunjang efektivitas kinerja SCADA. Kami mencontohkan, PDAM Kota Malang dan Batam yang menerapkan alat SCADA mampu meminimalisasi gangguan kebocoran yang sudah berlangsung lima tahun. Sebelumnya mereka juga sama seperti kami, hanya menggunakan radio korelator, tapi itu manual. Dengan komputer ini, diharapkan kami bisa membaca kebocoran secara real-time . Untuk bisa 100% dilakukan secara bertahap, panjang pipa kami saja 1.500 km.

Saat ini berapa jumlah pelanggan atau sambungan rumah tangga di Kota Bogor?

Jumlah pelanggan PDAM saat ini sudah 88% dari total jumlah penduduk Kota Bogor. Pasokan yang ada pada kami saat ini 2.300 liter/detik. Mau ditambah 300 liter/detik dari SPAM di Katulampa sehingga menjadi 2.600 liter/detik. Untuk bisa 100% seluruh rumah di Kota Bogor tersambung air bersih dari PDAM, dibutuhkan produksi air 3.000 liter/detik, jadi masih kurang 400.

Sebetulnya kami berharap banyaknya pembangunan SPAM di Katulampa sesuai target, yakni bisa produksi 600. Tetapi karena beberapa kendala, jadi dilakukan bertahap dari 600 liter/detik, sekarang hingga Juni tepatnya baru 300 liter/detik penambahannya. Tetapi, kami akan buat lagi di Rancamaya dan Kota Batu untuk meningkatkan jumlah produksi.