Edisi 17-04-2018
Pilkada Jateng Potensi Money Politics dan Hoax


SEMARANG –Ketua DPRD Jateng Rukma Setiabudi mengungkapkan, ada dua hal perlu diwaspadai dalam Pemilihan Ke pala Daerah (Pilkada) Jateng 2018, yakni money politic dan hoaks.

“Karena dengan adanya money politic atau politik uang, jus - tru mengajak pemilih un tuk ko - rupsi berjamaah. Jelas itu me ru - sak tatanan yang ada,” kata Ruk - ma Setiabudi saat menjadi pem - bicara dalam Dis kusi Prime To pic MNC Trijaya FM Semarang bertema Pilgub Jateng Ber ka rak - ter dan Ber mar tabat di Rosti Resto & Cafe Semarang, Jawa Te - ngah, ke marin. Kemudian menyangkut hoaks, kata Rukma, masalah ter - sebut paling sangat ber ba ha ya. Menurutnya, berita hoaks atau bohong, ujaran kebencian, hasutan, hingga mengarah isu SARA, jika tidak ditangkal bisa menghancurkan kehidupan ber - bangsa dan bernegara.

“Kampanye dengan hoaks hing ga mengusung isu SARA itu lebih parah. Hal itu akan mem - buat reputasi calon rusak dan mencoreng penyeleng gara an pilkada itu sendiri,” kata nya. Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat Jateng tegas menolak adanya politik uang, hoaks, dan isu SARA. “Ma ri kita jaga Jawa Tengah agar tetap aman, adem ayem, dan tenteram selama tahapan pelaksanaan pilkada hingga berakhir,” katanya. Sementara itu, Ketua KPU Jateng Joko Purnomo meng - aku kurang sependapat apa bi la partisipasi pemilih di Jateng masih rendah.

Dia men con toh - kan, saat kampanye hanya de - ngan dana Rp3,5 juta ter lak sana menyajikan hiburan wa yang kulit atau musik sudah me narik massa banyak. Dia menyatakan, sudah ada upaya agar partisipasi pemilih di Jateng dalam pilkada nanti menjadi tinggi. “Misalnya, un - tuk pemilih yang tidak ber do mi - sili di Jateng agar digelar tem pat pemungutan suara (TPS) di luar Jateng. Namun, hal itu mustahil di lakukan. Se dangkan di dae - rah-daerah, pa ra pemilih yang berdomisili luar Jateng, me - milih mudik sa at jelang pilkada. Artinya, par ti si pasi pemilih di Jateng tidak ter lalu minim,” kata Joko. Tak hanya itu, upaya lain nya, yakni memberikan pendidikan politik tentang pemilu, baik pilkada, pileg, dan pilpres.

“Akan tetapi, hal tersebut ma sih terbentur regulasi larangan pendidikan politik di sekolah. Sehingga pada akhirnya masih banyak pemilih pemula yang gagal dalam melaksanakan pi - lih an di pemilu pilkada, pileg, atau pilpres,” katanya. Budayawan Prie GS ber pen - dapat, meski sejauh ini masa kampanye pilkada relatif sepi, tapi tingkat partisipasi ma sya ra - kat tetap tinggi dalam me nyuk - seskan pelaksanaan Pilkada Ja - teng pada 27 Juni men datang.

“Itu karena ma sya rakat kita te - lah terdidik me mi liki rutinitas dalam setiap kegiatan politik. Jadi, katasepi(dalampilkada) itu diteropong dari kaidah. Namun, kalau me lihat di media sosial (medsos), seperti Twitter, Ins tagram, Fa ce book tetap saja ra - mai,” ung kap Prie GS. Dia menilai, masyarakat Jawa Tengah punya kadar ar tistik sendiri sehingga mereka punya panggilan politik.

Ahmad antoni