Edisi 17-04-2018
Berkat Angon, Agif Arianto Bisa Ekspansi Bisnis ke Selandia Baru


Siapa kira usaha peternakan yang selama ini cenderung terabaikan di Indonesia bisa menginspirasi seseorang menciptakan aplikasi berbasis peternakan.

Bahkan, berkat aplikasi Angon, sang penemu Agif Arianto berencana memperlebar bisnisnya hingga ke Selandia Baru. Angon dalam bahasa Jawa berarti menggembala. Nama itu juga yang dipakai startup asal Indonesia Agif Arianto. Angon adalah sebuah aplikasi memudahkan masyarakat beternak sapi, kambing, ker - bau, dan lainnya. Sistem apli ka - si ini dijalankan online. Mereka yang berminat beter nak, tak perlu repot berinvestasi dalam jumlah besar. “Melalui aplikasi Angon, pe - ternak akan lebih fokus untuk pengelolaan lahan, me mas - tikan persediaan pakan bagi ternak sehingga hewan ternaknya bisa berkembang lebih baik.

Members Angon, tak perlu repot mengurus izin investasi, membeli tanah, ser ta membangun infrastruktur pe - ternakan dari nol,” kata Agif. Saat ini, kata dia, Angon sudah memiliki 11.100 hewan yang diternakkan dari 10.000 lebih anggota aktif dengan 800 transaksi di setiap bulannya. Sentra peternakan rakyat (SPR) merupakan mitra ter se - bar di desa beternak online di Wa war Lor, Kabupaten Se ma - rang, Yogyakarta, dan Bogor. Selain di kawasan itu, kata dia, sebenarnya sudah ada permintaan kemitraan dari peternak di Batam, Palem bang, Kalimantan, dan Makassar.

Namun, karena terkendala infrastruktur dan standarisasi sehingga baru bisa dila ku kan di sekitar Jawa. Untuk memperluas usahanya, pihaknya tak hanya menggarap pangsa dalam negeri. Angon berencana ekspansi ke Selandia Baru. Penjajakan aplikasi Angon bertepatan dengan digelarnya CEO Forum di The Majestic Centre, Selandia Baru, belum lama ini. Melalui pertemuan itu, Angon berencana bekerja sama dengan warga negara Indonesia (WNI) yang berprofesi peternak di negara tersebut. Menurut dia, mitra peternak Angon di Selandia Baru jelas dapat menekan biaya operasional peternakan.

Karena semua biaya jadi dibayar anggota Angon saat mereka berbelanja hewan ternak melalui aplikasi tersebut. Peternak WNI yang ada di Selandia Baru, kata dia, khususnya di Kota Auckland dan Wellington, rata-rata mengurus ternak 10.000 hingga 50.000 ekor. Ternak itu rata-rata diurus pada lahan seluas 350 hektare. “Di Selandia Baru, ternak tidak masuk kandang, beda dengan Indonesia yang hewan ternaknya lebih banyak disuapi,” ujarnya.

Arif Budianto
Kota Bandung