Edisi 03-05-2018
Sunat Perempuan, Perlukah?


SUNAT perempuan memang belum populer. Padahal, tindakan ini ternyata juga memiliki dampak kesehatan hingga kepuasan seksual pada perempuan.

Ada berbagai motivasi yang melatarbelakangi tindakan sunat perempuan ini. Satu pendapat mengatakan bahwa sunat perempuan dilakukan untuk mengontrol gairah seksual seorang perempuan usia muda, yang selanjutnya menjaganya untuk tetap dalam keadaan perawan hingga menikah.

Di sisi lain, sunat pada perempuan dilakukan untuk mempermudah wanita mencapai orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya. “Sunat membuat klitoris lebih mudah dibersihkan dari kotoran sehingga tidak ada penumpukan kotoran atau smegma yang tergolong najis,” ucap dr Valleria SpOG dalam Diskusi Memahami Sunat Perempuan dari Sisi Medis, Hukum, dan Syariat yang diadakan Rumah Sunat Dr Mahdian.

Dia menjelaskan, sunat perempuan dilakukan dengan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa sedikit pun melukai klitoris. Perlakuan tudung (hoods) klitoris mirip tindakan hoodectomy yang jamak dilakukan dokter spesialis bedah di dunia, tetapi dengan indikasi medis.

Secara teknis, penorehan tudung klitoris dilakukan menggunakan needle khusus. Karena umumnya dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun, dengan anatomi tudung klitoris yang masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah dan saraf, tindakan ini sangat minim pendarahan dan rasa sakit.

Penorehan tudung klitoris selanjutnya membuat klitoris lebih terbuka pada usia dewasa terkait perkembangan organ, termasuk di dalamnya vagina. “Di sisi lain, kebersihan vagina, terutama sekitar klitoris, lebih terjaga dan terhindar dari bau tidak sedap,” urai dr Valleria.

Di sisi lain, seorang dokter asal London, Inggris, dr Jacobson, mengatakan, wanita yang memiliki masalah mendapatkan kepuasan seksual/orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya bisa jadi disebabkan tudung klitoris yang terlalu tebal dan besar sehingga menutupi klitoris.

Hal ini mengurangi rangsangan yang diterima klitoris selama melakukan aktivitas seksual. Dengan dilakukannya hoodectomy, klitoris menjadi terbuka yang selanjutnya meningkatkan rangsangan seksual yang didapatkan seorang wanita untuk mencapai orgasme secara lebih mudah.

Ukuran penutup klitoris sangat beragam, dari yang kecil hingga besar. Pada individu dengan penutup klitoris yang besar, kepala klitoris tidak bisa terlihat atau terpapar.

Dari beberapa kepustakaan yang ada, hal ini dikaitkan dengan hormon atau gen tertentu. Tudung klitoris yang besar akan menghambat gairah dan rangsang seksual sehingga membuat wanita sulit mencapai orgasme.

Batasan Usia Sunat Perempuan

Seperti sunat perempuan yang menjadikan klitoris sedikit terbuka, hoodectomy merupakan tindakan medis yang tidak membutuhkan rawat inap dan hanya butuh anestesi lokal. Tindakan ini hanya dilakukan dalam waktu 15-30 menit.

Baik tindakan sunat perempuan maupun hoodectomy terbukti tidak menimbulkan kerusakan saraf di sekitar klitoris jika dilakukan tenaga profesional. Komplikasi yang dapat terjadi pascatindakan sunat perempuan seperti infeksi dan pembengkakan. “Namun, itu dapat diminimalisasi tenaga medis dengan pemberian obat-obatan dan tindakan aspesis,” kata dr Valleria.

Sementara itu, Ustaz Aini Aryani Lc dari Rumah Fiqih Indonesia mengungkapkan, batas usia yang disarankan untuk melakukan sunat perempuan ini adalah 7-10 tahun. Akan tetapi, sebagian ulama lain berpendapat boleh dilakukan sampai mencapai akil balig.

“Di atas itu, tidak dianjurkan untuk dilakukan khitan,” ujar Aini. Sunat perempuan ini berbeda dengan tindakan female genital mutilation (FGM) yang menghilangkan secara total atau sebagian organ genitalia eksterna wanita. “Yang dilarang WHO adalah FGM, bukan khitan perempuan.

FGM adalah pelanggaran hak asasi manusia terhadap perempuan,” ungkap Valeria. Khitan perempuan harus dilakukan tenaga medis yang memiliki izin praktik sesuai SOP khitan perempuan 1636/2010.

“Di Indonesia, praktik sunat perempuan sudah dilakukan turuntemurun, terutama di kalangan muslim. Tetapi, kemudian tidak lagi terdengar pada awal tahun 2000 karena dikaitkan dengan sulitnya mencari tenaga medis profesional yang mampu melakukan tindakan ini,” beber dia.

sri noviarni