Edisi 16-05-2018
Situasi di Gaza Masih Tegang


GAZA –Sebanyak 58 warga Gaza, Palestina, yang tewas ditembak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) selama aksi unjuk rasa dikebumikan, kemarin.

Pemakaman itu bertepatan dengan hari jadi ke-70 Nakba atau pengusiran massal warga Palestina dari tanah mereka setelah negara Israel berdiri pada 1948 atau tiga tahun sejak Perang Dunia II. IDF bersiap untuk kon fron - tasi lebih lanjut melawan de - mons tran Palestina yang hanya melemparkan batu. Namun, masyarakat Palestina akan meng gelar aksi damai dan ber - upaya menahan diri selama de - monstrasi. Ketegangan di Pa - lestina meningkat setelah Ame - rika Serikat (AS) membuka Ke - dutaan Besar (Kedubes) baru di Yerusalem. Palestina menganggap Ye ru - salem Timur sebagai cikal bakal ibu kota negara mereka.

Pejabat tinggi Palestina menilai kepu - tus an AS tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Israel untuk menguasai Ye ru sa - lem. Pemerintah Israel sendiri menganggap Yerusalem seba - gai ibu kota mereka, tapi tidak mendapat dukungan global. Hingga kemarin, sekitar 2.700 warga Palestina juga ter - luka dalam kerusuhan terbaru dianggap sebagai bentuk pem - bantaian yang dilakukan Israel. Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, berkelit pasukan militernya hanya me - lakukan pertahanan diri ter - hadap Hamas. Sekitar 40.000 warga Pa les - tina ikut serta dalam aksi protes di 13 lokasi di sepanjang per ba - tasan.

Seiring dengan me ma - nas nya situasi, sebagian warga Palestina hanya melemparkan ba tu. Israel lalu membalas de - ngan peluru tajam. Hamas me - ng aku tidak pernah menggagas protes. Aksi itu murni ke ingin - an sendiri masyarakat Pales - tina untuk me nuntut haknya yang sah. Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) juga mengkritik ke kerasan yang dilakukan Is rael. “Mendekati pagar bu kan lah aksi yang mengancam nya wa, jadi tidak bisa langsung main tem - bak. Seberapa besar ancaman bi - sa dilakukan orang yang ter ku - rung,” kata juru bicara Dewan HAM PBB Rupert Colville. Inggris, Prancis, Rusia, dan Turki juga prihatin dengan si - tuasi di Gaza.

Turki bahkan me - layangkan protes keras ter ha dap Israel yang memuntahkan pe lu - ru tajam lebih dari 450 butir. Sa - ma seperti Afrika Se latan, Turki juga memulangkan duta besar (dubes) mereka. “Ka mi mengu - tuk serangan tak pan dang bulu itu,” ungkap Afri ka Selatan. Dewan Keamanan (DK) PBB berencana menggelar per temuan hari ini untuk men dis ku si - kan kekerasan di Gaza. Per te - muan itu digagas Kuwait me - nyusul memuncaknya keru suh - an. Rancangannya tidak di pu - blikasikan, tapi diplomat me - ngatakan, isinya kemungkinan mengenai diadakannya pe nye - lidikan di Gaza.

DK PBB menuntut semua ne gara mematuhi resolusi yang ditetapkan dan tidak membuka Kedubes di Yerusalem. AS di - ang gap telah melanggar per - atur an internasional itu. AS juga pernah memveto resolusi DK PBB yang meminta Presiden AS Donald Trump mencabut pengakuannya terhadap Ye ru - sa lem sebagai ibu kota Israel. Utusan PBB dari Palestina mendesak DK PBB mengutuk penembakan di Gaza. Israel juga meminta DK PBB mengutus Ha mas yang dituduh agresif. Keduanya bukanlah anggota DK PBB. “Ini merupakan hari tragis,” kata Duta PBB dari Pa - lestina, Riyad Mansour, meng - acu pada Kedubes AS dan akibat yang ditimbulkannya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres meng - aku sangat prihatin dengan per - kembangan situasi di Gaza. Dia mendesak semua pihak yang ter libat menahan diri guna meng hindari korban jiwa. Sebanyak dua per tiga ang - gota DK PBB juga meng ung kap - kan keprihatinan mengenai re - solusi 2016 yang tidak di im ple - mentasikan. Resolusi itu me - nuntut Israel mengakhiri pem - bangunan pemukiman di Pa - lestina. Sebanyak 10 dari 15 ang gota DK PBB meminta re - solusi itu ditegakkan. Jika ti - dak, kredibilitas sistem intern a - sio nal akan rusak. Resolusi itu disepakati 14 da ri 15 negara anggota DK PBB.

Ha nya AS yang abstain. Trump ke mudian mementahkan resolu si itu dan mengeluarkan veto. “Kami prihatin dengan le mahnya implementasi resolusi itu,” ungkap pernyataan bersama Bolivia, China, Pantai Gading, Prancis, Kazakstan, Kuwait, Be - landa, Peru, Swedia, dan Guinea Khatulistiwa.

Muh shamil

Berita Lainnya...