Edisi 16-05-2018
Bidik Dorodjatun, KPK Tunggu Sidang


JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menunggu fakta-fakta yang muncul dalam persidangan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsjad Temenggung untuk dapat menjerat Dorodjatun Kuntjoro Jakti.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjait an mengatakan, pe na ngan an per kara dugaan korupsi pe ner bitan surat pemenuhan ke wajiban pe megang saham (SPKPS) atau su rat keterangan lu n as (SKL) ke - pa da obligor Ban tu an Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Sjamsul Nur salim selaku pe megang saham Bank Dagang Na sional In done sia (BDNI) pa da 2004 kini sudah memasuki ta hap per si dangan di Peng adil an Tipikor Jakarta. Selepas sidang perdana pada Se n in (14/5) dengan agenda pem b acaan surat dakwaan atas na ma Syafruddin Arsjad Te menggung, KPK akan melihat faktafakta persidangan yang muncul.

Basaria menyatakan, KPK sangat yakin dengan bukti-buk ti yang sudah ada dan kemudian men cantumkan perbuatan Syaf ruddin dilakukan bersamasa m a dengan Menteri Koor di na - tor Bidang Perekonomian Ka binet Gotong-Royong 2001-2004 se kaligus Ketua KKSK saat itu Do rodjatun Kuntjoro Jak ti, Sjams ul Nursalim selaku pe me - gang saham Bank Dagang Na sio - nal Indonesia (BDNI), dan Itjih S Nur salim selaku pe me gang sa - ham BDNI. Basaria me ma par - kan, dari tiga pihak yang disebut ber sama-sama de ngan Syaf r ud - din, memang ha nya Dorodjatun Kun tjoro Jakti yang sudah di pe - ri ksa beberapa ka li sebagai saksi da lam tahap pe nyidikan se be - lum nya. Se dang kan Sjamsul Nur sa lim dan is trinya, Itjih S Nur salim, yang ber ada di Sin ga - pura belum per nah diperiksa.

Dalam konteks tersebut, Do ro djatun yang paling rea lis - tis dibidik selanjutnya oleh KPK. “Ya, untuk penetapan Do - ro djatun tentu kami menunggu dan melihat juga fakta-fakta per sidangan terdakwa Syaf rud - din,” tandas Basaria kepada KORAN SINDO kemarin. Juru Bicara KPK Febri Di an s - yah menyatakan, apa yang di - tuang kan jaksa penuntut umum (JPU) dalam surat da k wa an Syaf ruddin Arsjad Te meng gung ten tu semuanya ber da sarkan ha si l penyidikan yang be r lang - sung sebelumnya dan di dukung de ngan bukti-bukti yang sudah di miliki KPK. Per buat an Syaf - rud din yang diduga ber sama-sa - ma dengan tiga pi hak sehingga me rugikan ke uang an negara Rp4,58 triliun nan ti akan di buk - tikan di persidangan.

Khususnya karena yang di - dak wa adalah Syafruddin, per - buat an pidana terdakwa yang akan dibuktikan. “Kita fokus du - lu di persidangan. Nanti akan di - pe riksa saksi-saksi, do ku mendo kumen yang sudah kita sita ju - ga akan diajukan dan di uji. Nah, da ri sana kita akan lihat p e ngem - b angan-pengemb ang an atau pihak-pihak lain yang ha rus juga ber tanggung jawab,” tandasnya. Mantan pegawai fungsional pa da Direktorat Gratifikasi KPK ini mengatakan, fakta-fakta per - si dangan yang akan muncul dan bukti-bukti yang nanti diuji ten - tu bisa menjadi salah satu ba gian un tuk memastikan p e ngem - bang an dengan pem bu ka an pe - nye lidikan baru. Ar ti nya, belum bi sa langsung di sim pul kan ada ter sangka baru se ca ra seketika ber dasarkan fakta per sidangan.

“Se jak awal kami kons truksikan ka susnya, kami du ga pelakunya bu kan satu orang,” tandasnya. Febri memaparkan, be rd a - sar kan dakwaan Syafruddin j u - ga terlihat jelas bahwa yang di - un tungkan dalam penerbitan SKL BLBI tersebut adalah obl i - gor Sjamsul Nursalim sebesar Rp4,58 triliun yang menjadi ni - lai kerugian negara. Dalam kon - teks asset recovery atau pe ngem - b a lian aset hasil kerugian ne ga - ra, KPK sudah dan masih m e la - ku kan pemetaan aset yang ma - suk hasil keuntungan Sjamsul. Sementara itu, pengamat hu kum Dodi Abdulkadir me ni - lai, dakwaan JPU terhadap Syaf - rud din tentang terjadi mis re - pre sentasi dalam penyelesaian BLBI bukanlah perkara pidana, me lainkan perkara perdata.

Dalam dakwaannya, KPK me rujuk pada surat Glenn Yu suf se laku kepala BPPN ter tang gal 1 No vember 1999 yang pada po - kok nya menyatakan Sjamsul Nur salim telah melakukan mi s - re p resentasi atas keadaan kre dit pe tambak sebesar Rp4,8 triliun. KPK menganggap Syaf rud din me ngetahui atas mi s re pre sen tasi ter sebut, namun tetap me ner b it - kan surat pemenuhan ke wajiban pe megang saham ter tanggal 26 Ap ril 2004 yang di kenal juga se ba - gai surat ke te rang an lunas (SKL). Da lam dak wa an dikemukakan ju - ga bahwa Sjam sul tidak me nye tu - jui surat Glenn Yusuf tersebut.

“KPK dalam dakwaannya meng anggap klaim misre pre sen - ta si yang disampaikan Glenn Yu - suf adalah sebagai sua tu k e be nar - an. Padahal, dalam dak waan ju ga di sebutkan Sjam sul me no lak isi su rat Glenn ter se but. Meng ingat hal ini me nyang kut per selisihan (dis pute)te r hadap per soalan mi s - re pr e sen tasi atas Mas ter Set tle - ment and Acqui si tion Agreement (Per ja n jian MSAA), seharusnya klaim ter se but dibuktikan ter le - bih dahulu me lalui pengadilan per data. Tan pa ada putusan peng - a dilan yang berkekuatan hu kum tetap (in kracht), berarti mis rep re - sen ta si itu tidak ada,” ka ta Dodi.

Mengamati dakwaan KPK, Do di menilai perkara tersebut se b enarnya dalam ranah hu kum perdata, bukan ranah hu kum pidana. Meskipun KPK da lam dakwaannya menyatakan bah - wa Syafruddin belum me menuhi kewajibannya ber da sar kan perjanjian MSAA, pe me rin tah justru berpendapat sebaliknya.

Sabir laluhu



Berita Lainnya...