Edisi 16-05-2018
Hentikan Penyebaran Radikalisme di Kampus


JAKARTA–Ada fakta mengejutkan di balik aksi teror yang terjadi di Surabaya belakangan ini. Para pelaku yang terlibat terorisme, termasuk yang melakukan bom bunuh diri, ternyata dari kalangan terpelajar.

Anton Ferdianto dan Budi Satrijo, misalnya, tercatat pernah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dita Oepriyanto yang juga ketua Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur, juga pernah kuliah di Universitas Air - langga Surabaya. Dita ma - lah diketahui sudah menun - juk kan bibit radikalisme sejak dia duduk di bangku SMA. Walaupun tidak hubungan secara langsung antara paham terorisme dan sistem pendidikan di perguruan tinggi tersebut, tidak bisa disangkal lembaga pendidikan—baik perguruan tinggi maupun sekolah menengah—telah menjadi sasaran empuk kelompok teroris untuk menyemaikan paham radikal mereka. Lembaga kajian agama menjadi sasaran strategis bagi kelompok ini.

Kondisi demikian tidak berbeda jauh dengan temuan Badan Intelijen Negara (BIN). Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2017, BIN menemu kan 39% mahasiswa Indonesia ter - papar paham ra - dikal. Bahkan, tiga kampus dinyata - kan sebagai sarang kelompok radikal. Selain itu, lembaga intelijen ini juga mendapat - kan fakta 24% maha siswa dan 23,3% pelajar SMA sederajat setuju dengan negara Islam. Temuan bahwa infiltrasi gerakan radikal sudah merasuk dalam institusi pendidikan di Tanah Air, juga diper oleh dari survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Convey Indonesia pada 2017 serta survei The Wahid Institute pada 2016.

Bahkan, menurut The Wahid Institute, mayo ritas anggota Rohani Islam atau Rohis siap jihad ke Suriah. Adapun survei Maarif Institute pada 2017, meng - ungkapkan paham radikalisme masuk lewat alumni, guru, dan kebijakan sekolah. Yang mem - prihatin kan, ada guru yang menyebarkan radikalisme lewat kegiatan belajar-meng ajar (KBM). Internalisasi radikalisme disusupkan saat jam seko - lah ataupun jam tam bah an oleh guru yang terafiliasi kelompok radikal di luar sekolah. Berangkat dari fakta ter - sebut, DPR meminta peme rin - tah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kemen - terian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemen - ristek-Dikti), untukseriusmem - persempit ruang gerak kelom - pok radikal di institusi pen didik - an dan memperkuat deradikal - isasi lewat pendidikan.

“Ini membuktikan bahwa sekolah atau kampus rentan di - susupi oleh paham radikal isme. Tidak terbayang sudah 30 tahun yang lalu paham ter sebut telah menyusup dalam sekolah dan kampus. Maka tidak ber - lebihan jika disim pul kan bahwa saat ini telah ter kaderi banyak pengikut radikalisme melalui media sekolah dan kampus,” ujar anggota Komisi X DPR Moh Nizar Zahro saat dihubungi kemarin. Menurut dia, untuk tahap awal, Kemendikbud dan Kemen - ristek-Dikti harus segera meng - geber program deradikalisasi di seluruh sekolah dan kampus di Indonesia, dengan tujuan agar anak didik yang sudah terpapar virus radikalisme bisa disela - mat kan. Berikutnya ada lah di - lakukan pemetaan dan iden tifi - kasi sekolah-sekolah yang ter - papar paham radikalisme.

“Penanganan radikalisasi kemudian disesuaikan sesuai tingkat keparahan paparan nya. Kemendikbud dan Kemenristek bisa menggandeng institusi lain, misalnya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teror isme), MUI (Majelis Ulama Indonesia), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, danlain - nya untuk melakukan program deradikalisasi di sekolahsekolah dan kampus,” ujar dia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menga ta kan, program deradikalisasi tidak memerlukan mata pelajaran khusus. Akan tetapi, jelasnya, jikamasuksebagaielemenmuat - an kurikulum yang ber sifat inklusif, memangitudi perlukan. Kurikulum dimaksud ada - lah program Penguatan Pen - didikan Karakter (PPK).

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini mengatakan, di dalam PPK telah ada materi khusus bagi siswaagartidakterpaparpa ham yang berbahaya. Arah dari pendidikan karakter yang di - inginkan adalah pemben tuk an karakter siswa yakni reli gusi tas, nasionalisme, inte gritas, ke - mandirian, dan gotong royong. “Program moderasi (bukan deradikalisasi) bisa dimuat - kan pada semua atau sebagian dari lima karakter utama ter - sebut,” katanya kepada KORAN SINDO.

Sebelumnya, Menristek- Dikti Mohammad Nasir me ne - gaskan kampus harus menjadi pintu utama penangkalan ra di - kalisme. Karena itu, dia me - minta setiap pimpinan per - guru an tinggi untuk meng awasi adanya gerakan di ling kungan kampus yang meng arah ke intoleransi dan radi kalisme. “Jika ada indikasi mahasiswa ataupun dosen terlibat paham radikalisme maka harus dilaku - kanpembinaansecaraintensif,” tandasnya. Mantan rektor Universitas Diponegoro ini juga mene kan - kan bahwa kampus pun tidak boleh membiarkan ada paham yang sudah bergerak ke arah terorisme. Oleh karena itu, Menristek-Dikti berharap jika ada bukti langsung bahwa do - sen dan mahasiswa terlibat ke arah tersebut maka harus se - gera dilaporkan ke kepolisian.

Ketua Forum Rektor Indo - nesia (FRI) Dwia Aries Tina Pulubuhu menegaskan du - kungannya terhadap pem - berantasan gerakan radikal di kampus. Diamenyatakange rak - anradikalismeharusdi hentikan secara intensif dari pelbagai pihak. Dia pun menjamin FRI siap untuk bekerja sama dengan semua pihak yang meng ingin - kan perdamaian, ketenangan, dan keselamatan NKRI. “Warga kampus harus menjadi teladan dalam kehidupan politik, sosial, budaya dalam koridor NKRI,” tegasnya. Rektor Universitas Indo - nesia (UI) Muhammad Anis juga menyatakan sikapnya me - nentang keras segala bentuk radikalisme dan terorisme, ter - masuk ujaran kebencian baik di dalam maupun luar kampus.

Dia bahkan mengatakan akan menindak tegas setiap warga UI yang melakukan tindakan provokasi yang mengarah pada radikalisme dan memecah belah bangsa. “Kami berkomit men untuk bergandengan ta ngan dengan segenap kom po nen bangsa guna menggelorakan kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan melalui upaya-upaya konkret, konstruktif dan inklusif,” katanya. Di sisi lain, pengamat pen - didikan dari Universitas Pen - didikan Indonesia Said Hamid Hasan berpendapat ketidak - adilan hukum, ekonomi, pen - didikan, dan politik adalah pe - nyebab paham radikal semakin mengakar di Indonesia. Radikal isme juga timbul karena pe - ngetahuan agama, sejarah bangsa, filsafat bangsa, sosial dan budaya bangsa yang ku rang. “Pengetahuan yang ku rang menyebabkan sikap religius dan kebangsaan yang kurang dan mudah dipengaruhi oleh infor - masi yang negatif,” katanya kepada KORAN SINDO.

Pernah Kuliah di ITS

Dua bomber di Surabaya, yakni Anton Ferdianto dan Budi Satrijo, tercatat pernah menem puh pendidikan di ITS Surabaya. Namun, ITS me nolak menyebut keduanya sebagai alumni ITS. Rektor ITS Prof Joni Her - mana menuturkan, terduga teroris atas nama Anton Ferdianto pernah mahasiswa D-III Teknik Elektro ITS pada 1991. Namun, dia tercatat hanya menjalani kuliah satu tahun dan selanjutnya tidak aktif kembali.

“Atas dasar tersebut bisa dikatakan dia bukanlah alum - nus ITS. Kami tidak menge ta - hui status yang ber sang kut an selanjutnya,” ujar Prof Joni kemarin. Terduga teroris lainnya yang bernama Budi Satrijo juga pernah tercatat sebagai maha - siswa Teknik Kimia program studi S-1 tahun 1988 dan lulus pada 1996. Pada masa studi - nya, Budi tidak memper lihat - kan tanda-tanda mencuriga - kan dan normal seperti maha - siswa lainnya. Bahkan, Budi terpantau aktif dalam kegiatan berwirausaha ketika di kampus. “Sebagai alumnus yang lulus 22 tahun yang lalu, se luruh akti - vitas yang bersangkutan tentunyadiluarse penge tahuanITSdan semua merupakan tang gung jawab pribadi masing-masing di depan hukum,” ungkapnya.

ITS, katanya, memiliki 100.000 lebih alumnus yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, sedangkan alumnus yang aktif dalam kegiatan alumni hanya sekitar seribu orang. Sementara itu, kedua terduga pelaku tersebut merupakan alumni yang tidak pernah aktif di ITS. “Selama ini kegiatan yang terkait alumni, kita bekerja sama dengan Ikatan Alumni (IKA) ITS. IKA-lah yang me - nen tukan siapa alumni yang akan menjadi pembicara jika diundang da lam acara ITS dan kedua ter duga pelaku ini tidak pernah menjadi pembicara,” ucapnya. Rektor Unair Prof Moh Nasih sebelumnya juga meng - akui Dita Oepriyanto pernah menjadi mahasiswa Diploma 3 Program Studi Manajemen Pemasaran di Fakultas Ekonomi.

Namun, Dita tidak melanjutkan kuliah nya alias DO. Sebelum kuliah di Unair, Dita menempuh pendidikan di SMA ternama di Surabaya, yakni SMA 5. Menurut seorang adik kelas Dita yang viral di sosmed, Dita saat itu sudah menunjukkan radikalismenya, termasuk tidak mau meng - hormati bendera Merah Putih.

Neneng zubaidah/ aan haryono









Berita Lainnya...