Edisi 16-05-2018
Jihad Melawan Ideologi Terorisme


Insiden radikalisme kembali terjadi pada Selasa-Kamis (8-10 Mei). Insiden ini melibatkan sejumlah nara pi dana kasus terorisme yang se dang menjalani tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Tidak lama se te lah kasus radikalisme di Ja kar ta, terjadi insiden penge bom an di Sura baya pada Minggu pagi (13 Mei). Tidak tanggung-tang - gung, insiden ini terjadi di tiga gereja di pusat Kota Su ra baya. Ironisnya, insiden ini terjadi ketika umat Kristiani sedang beribadah di gereja. Dalam waktu hampir ber sa - maan terjadi penangkapan em - pat orang terduga teroris di Cian jur, Jawa Barat. Tim Den - sus 88 Antiteror Polri juga me - nangkap dua orang terduga te - roris di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Pada Minggu malam (13 Mei) juga terjadi ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Si - doar jo. Insiden bom bunuh diri di Su rabaya meng aki bat kan kor ban meninggal 13 orang dan 43 orang luka-luka. Se ba - gian besar korban adalah je - maat gereja.

Sementara korban me ning - gal akibat ledakan bom di Si - doar jo berjumlah satu orang. Sehari setelah bom gereja di Surabaya, Polrestabes Sura - baya juga diserang teroris yang melakukan aksi bunuh diri. Rangkaian insiden ra di kal isme di Jakarta, Cianjur, Be ka si, Surabaya, dan Sidoarjo ha rus menjadi perhatian se mua pi - hak, terutama aparat ke aman - an. Pada konteks ini apa rat keamanan harus be ker ja ke ras menuntaskan penye li dikan berbagai insiden ter se but. Rangkaian insiden radikal - isme ini sangat disayangkan karena peristiwa memilukan ini terjadi menjelang umat Islam menjalani ibadah puasa Ra ma dan.

Apa pun motivasi - nya, in si den radikalisme dapat menodai persiapan umat me - nyongsong bulan Ramadan. Apalagi, negeri tercinta juga sedang memasuki tahun-ta - hun politik. Pada 27 Juni 2018 sejumlah kabupaten, kota, dan provinsi melak sa na kan pe mi - lihan kepala daerah (pilkada) serentak. Pada 2019 negeri kita juga memiliki ha jat an lima tahunan, pemilu ang go - ta legislatif dan presiden. Kondisi politik ter sebut sa ngat rawan se hing - ga potensial di man - faatkan berbagai ke - lom pok kepentingan, ter ma suk gerakan ra di - kalisme dan teror isme, untuk memper ke ruh suasana.

Karena itu, di - bu tuh kan strategi yang jitu un tuk berjihad melawan ge - rakan ra dikal isme dan te - rorisme. Ji had da lam hal ini berarti usa ha yang sung guhsung guh (to - tal en dea vor), yakni me nge - rahkan se luruh tena ga, daya, dana, dan pi kiran se hingga ter wu jud ni lainilai yang diridai oleh Allah SWT.

Makna Jihad

Mengingat begitu luasnya makna jihad atau ijtihad, tidak tepat kata ini dimaknai se batas perjuangan fisik dengan meng - angkat senjata. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat Buya A R Sutan Man sur (1895- 1985), ulama Su matera Barat yang juga pernah menjadi ketua Pimpinan Pusat Muham ma - diyah periode 1952-1957. Dia memaknai ji had dengan arti “bekerja se pe nuh hati”. Pan - dangan Buya Su tan Mansur pen ting karena sama sekali tidak mengaitkan makna jihad dengan per juang an fisik atau perang, me lain kan bekerja.

Harus diakui, berjihad me la - wan gerakan radikalisme me - mang bukan perkara yang mu dah. Pe - mahaman yang kom pre hensif mengenai ka - rak ter ideo logi gerakan te ror - isme dibu tuh kan. Di samping itu, juga di bu tuhkan komit men semua ele men untuk me mi nimal kan se bab-sebab yang po - ten sial me mi cu radikal is me. Itu berarti jika pe me rintah ingin me lum puhkan gerakan ra di - kal isme, yang pen ting di la ku - kan ialah me ma hami ka rakter ideolo gi nya. Harus di akui, se - tiap ge rak an pasti me mi liki ideologi yang men jadi dasar perjuang an. Se ba gai ma ni - festasi ge rak an ke aga ma an ber - pa ham ra di kal, teror isme me - mi liki ideo logi yang diper - juangkan. Perhatian terhadap ideo lo gi penting karena terorisme terus menunjukkan perkem bangan dengan merekrut anak-anak muda.

Termasuk mereka yang sedang belajar di perguruan tinggi. Bahkan, anak-anak SMA juga menjadi sasaran me - lalui kegiatan ke ro hanian Islam (ro his). Insi den te ror - isme di Su ra baya jelas me - nempatkan anak-anak se ba - gai korban paham ideologi ke aga maan orang tua - nya. Bah kan, anak-anak telah dijadikan “pe ngan - tin” dalam bom bu nuh diri. Itu berarti anakanak sa ngat rentan ter - pa par pa ham ideologi te ror isme yang di - anut orang tua nya. Jihad me la wan ideologi te - ror is me ha rus di mu lai de - ngan me ma ha mi fak tor yang men ja di pe mi cu nya.

Ke - mun cul an te ror isme da pat di - je las kan de ngan tiga teori. Per ta ma, teori struk tu ral yang me - ngait kan te ro r is me dengan se - bab-sebab eks ternal seperti po - litik, so sial, budaya, dan eko no - mi. Ke dua, teori psi kologi yang men je las kan mo tivasi sese - orang se hing ga ter pesona ge - rakan radikal isme. Dengan mo - ti vasi tinggi, pelaku radikal is me se cara su ka rela men jadi “pe - ngan tin” untuk me lakukan bom bunuh diri. Ke tiga, teori pi lihan rasional yang men je las kan ada kalkulasi un tung-rugi dalam melakukan tin dak an teror.

Penjelasan teori struktural mengaitkan latar belakang te - rorisme dengan dua faktor pen - ting. Pertama, faktor pra kon - disi, berupa penyebab ti dak langsung terorisme. Fak tor ini berupa akumulasi ke ke cewaan kelompok radikal, ter utama ke - gagalan elite da lam merealisa - sikan cita-cita poli tik Islam. Hal itu dapat di pa hami karena ge - rakan keaga ma an bercorak radikal selalu memiliki agenda politik. Kedua , faktor pemercepat (triggering factor), yaitu pe mi cu langsung gerakan teror isme. Termasuk dalam faktor pemicu adalah ketidakadilan sosial ekonomi, tiadanya pe negakan hukum (law enforce ment), ter - sumbatnya partisi pasi politik sehingga masya-rakat meng - alami tunakuasa (powerless), dan tersedianya persenjataan.

Pada konteks ini, penting di - pertanyakan asal-muasal sen - jata yang di gu nakan kelompok teroris dalam melancarkan aksinya. Sementara itu, teori psiko - logi menjelaskan aspek kejiwa - an pelaku terorisme. Melalui penjelasan psikologi dapat di - ketahui latar belakang sosial pelaku terorisme. Sedangkan teori pilihan rasional menje las - kan bahwa terorisme dila ku kan dengan pertimbangan untungrugi. Melalui teori ini diperoleh penjelasan menge nai faktor cost and benefit yang menjadi pertimbangan pela ku. Ada juga individu yang ter goda masuk jaringan teror is me dengan per - timbangan ke agamaan misal - nya ingin ber jihad dan mati syahid.

Karakter Radikalisme

Mengenai karakter ideo lo gi radikalisme, Dekmejian (1980) menjelaskan bahwa ge rakan ini memiliki tiga sifat uta ma, yakni: merata (perva sive ness), me mi - liki banyak pu sat (poly cen trism), dan ber juang terus-menerus (persis tence). Karak ter perva si - ve ness berarti gerakan radikal - isme terjadi merata di hampir se luruh dunia. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bah - wa jaringan terorisme bersifat fenomena global. Karakter kedua, polycen - trism, ditunjukkan melalui ba - nyak organisasi sosial keaga - maan yang bercorak radikal. Setiap organisasi memiliki pe - mimpin, program, strategi, dan taktik.

Uniknya, setiap or - ganisasi radikal tidak saling ber hubungan. Meski begitu, organisasi-organisasi radikal umum nya memiliki kesamaan agenda. Salah satu agenda uta - ma kelompok radikal adalah mendirikan negara ideologis sesuai dengan cita-cita politik mereka. Sedang karakter ketiga, per - sistence,berarti gerakan radikal berjuang terus-me ne rus, pan - tang menyerah, dan berani meng ambil risiko apa pun asal tujuan tercapai. De ngan ka rak - ter itulah, tokoh-tokoh te ror - isme melakukan kaderisasi. Mereka terus me nyemai pa ham radi kal melalui kaderisasi, ter uta - ma pada anak-anak muda.

Pada konteks itulah, se mua ele men pen ting me ma hami ka rakter ideo logi gerakan teror isme secara utuh sehingga da pat mengan tisipasi insiden ra di kalisme da lam berbagai bentuknya.

Biyanto
Dosen UIN Sunan Ampel dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur






Berita Lainnya...