Edisi 16-05-2018
Mengenang Krisis Moneter


Sekitar 20 tahun lalu Indonesia di lan da krisis mon ter. Pada saat itu, Agustus 1997, mata uang rupiah mulai bergerak di luar pakem normal.

Rupiah tidak saja bergeliat negatif, tapi lebih dari itu. Rupiah bergerak sempoyongan. Kemudian September 1997, Bursa Efek Jakarta (saat ini Bur - sa Efek Indonesia) ber sujud di titik terendahnya. Per usa ha an yang meminjam dalam dolar ha rus meng ha dapi biaya yang lebih tinggi un tuk mem ba yar utang. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Juni 1997, nilai tukar rupiah ter ha - dap dolar masih sangat adem, hanya Rp2.380 per dolar. Men - da dak pada Ja nuari 1998, dolar menguat me nyentuh level Rp11.000. Ke mudian pada Juli 1998, ru piah terus merosot, USD1 se tara dengan Rp14.150. Pada 31 Desember 1998, ru piah menguat perlahan, tetapi ha nya mampu meningkat hing ga Rp8.000 untuk USD1.

Pada Juni 1997, banyak yang berpendapat bahwa In do - nesia masih jauh dari krisis ka - re na be berapa pandangan keti - ka itu menyatakan bahwa In do - nesia berbeda dengan Thai - land. In do nesia memiliki in - flasi yang ren dah, surplus ne - raca per da gangan lebih dari USD900 juta, cadangan devisa cukup besar, lebih dari USD20 miliar, dan sektor perbankan masih baik-baik saja. Walau pun sebe nar nya pada tahun-tahun sebe lum nya, cukup ba nyak per usa ha an Indonesia yang me min jam dalam bentuk dolar karena sebelum 1997 memang tercatat bahwa ru piah menguat atas dolar Ame rika. Jadi, pin - jaman dalam bentuk dolar di - anggap jauh lebih murah.

Faktor yang mempercepat efek bola salju krisis moneter adalah rontoknya keperca ya - an pasar dan masyarakat, di - tam bah kondisi kesehatan Pre si den Soeharto saat me ma - suki 1998 yang kian membu - ruk se hingga melahirkan ke ti - dak pas tian ter kait suksesi ke - pemim pin an na sional. Yang tak kalah penting adalah sikap plinplan peme rin tah dalam pengambil an ke bi jak an. Kon - disi tersebut berke lin dan de - ngan besarnya utang luar ne - geri yang segera jatuh tempo, situasi per da gangan int er - nasional yang ku rang meng - untungkan, dan bencana alam La Nina yang membawa ke ke - ringan ter bu ruk dalam 50 tahun terakhir. Tercatat, dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai USD138 miliar, se kitar USD72,5 miliar adalah utang swasta yang dua per ti ganya jangka pendek, di mana sekitar USD20 miliar akan ja tuh tempo pada 1998.

Semen tara pada saat itu ca - dangan de visa tinggal sekitar 14,44 miliar dolar AS. Ter pu - ruknya keper ca ya an ke titik nol membuat ru piah yang di - tu tup pada level Rp4.850/ dolar AS pada 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp17.000/dolar AS pada 22 Januari 1998, atau ter de - presiasi lebih dari 80% sejak mata uang tersebut diam bang - kan 14 Agustus 1997. Risikonya, rupiah yang me - layang, selain akibat mening - kat nya permintaan dolar un - tuk membayar utang, juga se - bagai reaksi terhadap angkaangka RAPBN 1998/1999 yang di umumkan 6 Januari 1998. RAPBN dinilai tak real is tis.

Krisis yang me - nan da kan ke ra puh an funda men tal eko no - mi ter se but dengan cepat me ram bah ke semua sek - tor. An jloknya ru piah secara dra ma tis me nye - bab kan pasar uang dan pasar modal juga ron tok, bank-bank na sio nal men - dadak terlilit ke sulitan besar. Pe ring kat in ter na sio nal bankbank besar ter sebut mem - buruk, tak terke cuali su rat utang pemerintah, pe ring kat - nya ikut lengser ke level di ba - wah “junk“ atau men jadi sam - pah. Tak sampai di situ, ke mu - dian ratusan per usahaan, mu - lai dari skala kecil hingga kong - lo merat, bertum bangan. Sekitar 70% lebih per usahaan yang ter catat di pasar modal mendadak berstatus insolvent alias bangkrut.

Sektor konstruksi, ma nu - faktur, dan perbankan adalah sektor yang terpukul cukup pa - rah sehingga risiko lanjut an - nya adalah lahirnya ge lom - bang be sar pemutusan hu - bung an kerja (PHK). Peng ang - guran melon jak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yak ni sekitar 20 juta orang atau 20% lebih dari angkatan kerja. Aki bat PHK dan melesatnya hargaharga barang, jumlah pen du - duk di bawah garis kemiskinan juga meningkat. Ketika itu ang ka nya tercatat men - capai se kitar 50% dari total pen duduk.

Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dolar/ kapita pada 1996 dan 1.088 dolar/ka pi ta pada 1997 men - ciut men ja di 610 dolar/ka pita pada 1998. Dua dari tiga penduduk In do nesia, seba gai - mana dicatat oleh Or ga nisasi Buruh Inter na sional (ILO), berada dalam kon disi yang sangat miskin pada 1999 jika ekonomi tak segera di per baiki. Data Badan Pusat Sta tistik juga menunjukkan, per eko - nomian yang masih men catat pertumbuhan positif 3,4% pada kuartal ketiga 1997 ber - ubah menjadi 0% kuartal ter - akhir 1997. Angkanya terus menciut tajam menjadi kon - traksi sebesar 7,9% pada kuar - tal I 1998, kontraksi 16,5% kuar tal II 1998, dan terus ter - kontraksi 17,9% kuartal III 1998.

Demikian pula laju in - flasi hingga Agustus 1998 su - dah mencapai 54,54% dengan ang ka inflasi Februari men ca - pai 12,67%. Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis ter nyata sama terpuruknya alias tak mampu me man faat - kan mo mentum de pre siasi ru - piah. Ka rena dunia bisnis su - dah tercekik akibat beban utang, keter gan tungan besar pada komponen impor, ke su - litan trade financing, dan per - saingan ketat di pasar global. Selama periode Ja nuari-Juni 1998 ekspor migas anjlok se - kitar 34,1% dibandingkan pe - riode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tum - buh 5,36%.

Menanti Terobosan

Kini tak terasa sudah 20 ta - hun masa itu berlalu. Telah ber langsung beberapa kali per - gan tian kepemimpinan na sio - nal. Secara umum semuanya ber ja lan baik. Pelan-pelan kon disi ekonomi juga mulai tenang. Se tiap pemerintahan baru yang terbentuk juga men - dapati tan tangan dan pe luang - nya ma sing-masing. Karena itu, yang dibutuhkan dari ke - pe mim pin an baru Jokowi-JK pun sama, yakni terobosan yang berani yang tidak hanya berhenti di zona gembar-gem - bor infra struk tur.

Faktanya, Jokowi-JK tidak lagi kebagian booming com - modity se ba gai ma na era SBYJK dan SBY-Boediono. Ka rena booming com modity yang di - progre sif kan oleh lonjakan harga ko mo ditas dunia ter se - but meng ge nap kan rerata per - tumbuhan ekonomi di era SBY menjadi tercatat lebih baik. Jika tidak, maka rerata per - tum buh an eko nomi sejak 1997 akan ter gerus sekitar 1,5% per tahun. Rerata pertumbuhan PDB In donesia dari 1997 sampai 2013 hanyalah 3,8%. Jika kita tidak memasukan krisis ke - uangan Asia alias memulai analisis dari 2000, rerata per - tumbuhan PDB Indonesia ha - nyalah 4,5 sampai 2006. Nah, pe ning kat an harga komoditas (commodity boom) menambah 1,5 terhadap per tumbuhan PDB nasional.

Se te lah pe ning - katan harga ko mo di tas menggandakan nilai ekspor Indo ne - sia alias pening katan se kitar USD100 miliar, barulah re rata pertumbuhan PDB In do nesia menjadi 6%. Jadi, seba gai - mana dicatat de ngan apik oleh Gustav Papanek (2014), se ba - gian peningkatan tersebut ter - jadi karena pe ning katan har - ga-harga barang yang secara tak terduga mewakili sekitar 5% pertumbuhan PDB. Meskipun sebagian dari har ga yang tak terduga ter se - but ter diri atas keuntungan yang di kirimkan ke luar ne ge - ri, se ba gian lagi masih berada di dalam negeri dan dianggap telah ber ha sil memberikan efek peng gan da.

Pendeknya bah wa le dak an harga komo di - tas me nam bah 1,5% per tahun kepada per tum buhan PDB na - sional dari 2006 hingga 2011. Tanpa itu, per tum buhan eko - nomi ha nya akan mampu ter - ca tatkan angka se ki tar di ba - wah 5%. Ce lakanya, ke mung - kinan terjadi lonjakan harga komoditas se perti itu lagi sa - ngatlah kecil, bahkan sangat mustahil dalam rentang be be - rapa tahun men datang.

Di tangan Jokowi-JK per - tum buhan ekonomi terbilang cukup stabil. Jika dibanding tar get yang ditetapkan dalam RPJMN atau APBN, hasilnya memang agak kurang men te - reng. Pada 2015 ekonomi In - do nesia hanya bertumbuh 4,88%, meleset sekitar 0,82% diban ding target APBN dan ter ge lincir 0,92 dibanding RPJMN. Lalu, tumbuh 5,02% pada 2016, meleset tipis 0,12 di ban ding APBN dan 1,8% di - banding RPJMN. Dan, peme - rintah ber ha sil menorehkan pertum buh an ekonomi na sio - nal pada 2017 sebesar 5, 06%, yang berarti me leset sekitar 0,16 dibanding APBN dan 2,06 dibanding RPJMN. Sekalipun demikian, se cara komparatif torehan pemerintah masih sangat gemilang.

Untuk melengkapi itu, pe - me rintah masih memerlukan terobosan lain, terutama ter - kait angka pertumbuhan yang lebih progresif dan kualitas per tumbuhan itu sendiri. Se - ka li pun secara komparatif ang - ka yang diraih cukup meng - gem bi ra kan, sejatinya se cara domes tik Indonesia ma sih me - mer lu kan angka yang jauh lebih tinggi agar kue eko nomi yang ter sa jikan bisa meng - imbangi lon jak an ang kat an kerja yang kian be sar (bo nus demografi), me ngu rangi peng - angguran, dan mem perkecil angka ke mis kin an. Ka rena itu, memori krisis mo ne ter 1997/1998 ha rus tetap kita ja di kan sebagai reminder penting bahwa apa pun alasannya, pe merintah harus mengambil se mua jalan yang mungkin untuk me nam bal kerapuhan ekonomi yang bisa berakibat krisis.

Karena apa pun alasannya, kera puh an ekonomi yang bisa ber ujung pada krisis pada akhirnya akan mempersempit peluang rakyat banyak untuk men da patkan “hak untuk hidup se jah - tera”. Semoga.

Zulkifli Hasan
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional




Berita Lainnya...