Edisi 16-05-2018
Pemilu Malaysia dan Pembelajaran


Oposisi Ada hal menarik dari Pemilu Malay sia yang digelar beberapa hari lalu.

Koa lisi partai oposisi, dalam hal ini Pakatan Harap an (PH) yang di pimpin man tan Per dana Men teri Mahathir Mohamad tampil sebagai pemenang. Keme nang an partai opo sisi merupakan pe ris tiwa yang pertama kali terjadi da - lam sejarah politik Ma laysia. Barisan Nasional (BN) yang notabene merupakan koa lisi par tai penguasa di ba - wah ke pe mimpinan Perdana Menteri Ma laysia sekarang, Najib Razak ternyata tidak mampu mem ben dung keme - nangan oposisi. Hal ini meng - antarkan Maha thir untuk men jadi Perdana Men teri Ma - laysia kembali.

Faktor Kekalahan

Kekalahan partai pengua - sa untuk yang pertama kali - nya di Malaysia jelas terjadi bukan tanpa sebab. Setidak - nya ada tiga faktor yang da - pat diana li sis. Pertama, ada - nya sejumlah langkah pe - merin tah an Ma lay sia yang di ang gap tidak se jalan de - ngan ke hendak rakyat Ma - lay sia, di an taranya kebi jak - an pajak goods and services tax yang dianggap membuat naik nya har ga bahan-bahan makanan pokok dan skandal keuangan badan investasi milik negara, 1MDB, yang kerap menjadi sa saran kritik kalangan oposisi. Kedua, efektivitas kalang - an oposisi untuk melakukan kam pa nye menyerang (at tack - ing cam paign) terhadap par tai pe nguasa, dalam hal ini adalah kam panye negatif (negative cam paign).

Dalam literatur ko - mu ni kasi politik, kampanye ne gatif adalah kampanye yang ber sifat menyerang kepada se - orang la wan dengan berda sar - kan pada data dan fakta. Salah satu con toh nya adalah iklan po litik ne ga tif. Disebut nega - tif ka rena me mang bermakna ne ga tif bagi la wan (Kaid, The Hand book of Po li ti cal Commu - ni cation Research, 2004). Inilah yang dilakukan par - tai oposisi Malaysia untuk me nye rang kubu petahana. Ma ha thir Mohamad selaku pe mimpin opo sisi, misalnya, ra jin mela ku kan kampanye ne ga tif terhadap Najib Razak ter kait langkah-lang kahnya seperti yang di sing gung di atas. Tentu saja Ma ha thir ti - dak asal menyerang, me lain - kan dilengkapi berbagai data dan fakta yang dapat men - dukungnya.

Dengan kata lain, para pe - mim pin kalangan oposisi ti - dak menyandarkan seranganse rang annya atas Pemerintah Ma laysia pada kebohongan atau fitnah. Dalam komuni - ka si politik, serangan ber ba - sis ke bo hongan dan fitnah ter sebut di sebut kampanye hitam (black campaign). Kalau itu yang dila kukan oposisi, mung kin me reka tidak akan mendapatkan simpati dari rakyat Malaysia se bagai mo - dal kemenangannya. Ketiga, faktor figur kuat yang terdapat pada diri Ma ha - thir Mo hamad.

Mahathir adalah Per da na Menteri Malaysia pa ling suk ses dan paling lama men duduki jabatan tersebut. Da lam pers pek tif politik, khu susnya kon tes tasi politik, ke ber adaan se orang tokoh atau figur masih sa ngat ber - pe ran. Dia bisa menjadi faktor pe mer satu berbagai ke lom - pok atau par tai yang terga - bung dalam koalisi. Itulah yang ada dalam diri Mahathir se hingga keber adaannya di ka lang an oposisi menjadi sema cam sim bol pe mer satu yang menjadi magnet elek - toral ter sen diri bagi rakyat Malaysia.

Pembelajaran bagi Oposisi

Kemenangan kalangan opo sisi Malaysia sesung guh - nya bisa menjadi pem be la jar - an yang berharga bagi ka lang - an oposisi di negara mana pun, termasuk di Indonesia. Per ta ma, kemenangan terse - but men jadi semacam pemb - uktian bah wa peluang oposisi untuk me ngalahkan pihak petahana te tap besar. Meski pe tahana bia sa nya diun tung - kan dengan ber bagai fasilitas yang inheren di dalam tugas - nya sebagai pe ngua sa, tetap saja mereka tidak bisa menghindari kekalahan. Kedua, cara yang dila ku - kan ka langan oposisi Malay - sia un tuk mengalahkan par - tai pe ngua sa patut dijadikan pem be la jaran.

Misalnya, ter - kait de ngan kam pa nye yang dija lan kan nya untuk meraih sim pati rakyat Malaysia, an - tara lain me ngenai fokus serang an-serang an oposisi yang di dasarkan pada data dan fakta atau dengan kata lain bukan se kadar menye - rang melalui fakta-fakta fik - tif atau fitnah. Oposisi yang baik tidak seka dar memberikan kritik apalagi jika kritik hanya se - kadar ber be da dengan pe me - rintah. Namun, yang lebih ele gan adalah kritik yang di - sertai dengan pena war an so - lusi atas permasalahan yang dijadikan sasaran kritik. Itu - lah kritik yang konstruktif. Jika kaum oposisi lebih sering menampilkan kam - panye me nyerang melalui data dan fakta yang valid mungkin publik akan lebih mudah mencer na nya.

Dan, yang terpenting ada lah mau memberikan simpati me re ka ke pada kalangan opo si si. Ka - lau simpati sudah diberi kan, ham pir pasti suara mereka pun akan diberikan pada saat pemilihan. Satu lagi hal penting yang mesti dijadikan pembelajaran adalah keberadaan figur atau tokoh oposisi yang cukup la - yak “dijual” kepada khalayak pemi lih. Oposisi Malaysia sudah berhasil dengan keto - kohan Ma hathir Mohamad. Apakah opo sisi di negara lain memiliki to koh atau figur yang bisa menjadi magnet elektoral bagi ke pen tingan kalangan oposisi?

Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Deputi Direktur The Political Literacy Institute









Berita Lainnya...