Edisi 16-05-2018
Impor Melonjak,Neraca Perdagangan Defisit USD1,63 Miliar


JAKARTA- Neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 defisit USD1,63 miliar. Hal ini lantaran pada April 2018, nilai ekspor Indonesia mencapai USD14,47 miliar atau menurun 7,19% dibanding ekspor Maret 2018.

Sementara nilai impor Indonesia pada April 2018 mencapai USD16,09 miliar atau naik 11,28% dibanding Maret 2018. Dengan demikian, neraca perdagangan Januari–April 2018 mengalami defisit USD1,31 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit neraca perdagangan pada April 2018 disebabkan peningkatan impor yang sangat tinggi.

Hal ini di luar ekspektasi, mengingat pada Maret 2018 neraca perdagangan Indonesia sempat mengalami surplus. ”Tentu ini perlu menjadi perhatian bahwa defisit ini terjadi karena defisit migas sebesar USD1,13 miliar dan nonmigas juga mengalami defisit sebesar USD495 juta.

Ke depan kita berharap ekspor akan berkembang lebih bagus, impor bisa kita agak tahan sehingga neraca perdagangan kita kembali surplus,” ujarnya di Jakarta kemarin. Berdasarkan data BPS, nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong maupun barang modal selama Januari–April 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 26,09%; 21,86%; dan 31,04%.

Secara year on year(yoy), impor barang konsumsi pada April 2018 meningkat cukup drastis sebesar 38,01% diban- 327,91 9.21 d a n barang modal lebih diperuntukkan sektor industri. ”Barang-barang yang mengalami peningkatan terbesar impor nonmigas adalah mesin dan peralatan listrik, ampas/sisa industri makanan, kapal terbang dan bagiannya, serealia, serta besi dan baja,” ungkapnya.

Suhariyanto memaparkan, impor nonmigas April 2018 mencapai USD13,77 miliar atau naik 12,68% dibanding Maret 2018, sementara jika dibanding April 2017 meningkat 33,69%. Sementara impor migas April 2018 mencapai USD2,32 miliar atau naik 3,62% dibanding Maret 2018 dan naik 40,89% dibanding April 2017.

”Peningkatan impor nonmigas terbesar April 2018 dibanding Maret 2018 adalah golongan mesin dan peralatan listrik USD315,3 juta (20,87%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar USD47,7 juta (36,55%),” paparnya.

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–April 2018 ditempati oleh China dengan nilai USD13,92 miliar (27,28%), Jepang USD5,98 miliar (11,72%), dan Thailand USD3,45 miliar (6,77%). Impor nonmigas dari ASEAN 20,50%, sementara dari Uni Eropa 9,21%.

Suhariyanto menuturkan, ekspor nonmigas April 2018 mencapai USD13,28 miliar, turun 6,80% dibanding Maret 2018. Sementara dibanding ekspor nonmigas April 2017 naik 8,55%. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari– April 2018 mencapai USD58,74 miliar atau meningkat 8,77% dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai USD53,50 miliar atau meningkat 9,27%.

”Penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2018 terhadap Maret 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD416,4 juta (18,18%), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada kendaraan dan bagiannya sebesar USD72,5 juta (12,59%),” tuturnya.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–April 2018 naik 5,32% dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 33,38%, sementara ekspor hasil pertanian turun 5,05%.

Ekspor nonmigas April 2018 terbesar adalah ke China yaitu USD1,82 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,43 miliar, dan Jepang USD1,39 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,95%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,39 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kenaikan impor memang sangat tinggi, tapi dari segi perkembangan ekonomi masih memberikan nilai positif. ”Karena investasi berjalan, baik investasi swasta maupun investasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Pengamat ekonomi Institute For Develompent of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira mengatakan, defisit neraca perdagangan membengkak, terutama disebabkan impor migas sepanjang Januari– April menjadi USD9 miliar, lebih tinggi USD700 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

”Impor migas tumbuh 40,8% (yoy) terkait dengan efek kenaikan harga minyak mentah. Tekanan impor juga berasal dari impor barang konsumsi yang tumbuh 25,8% dibanding Maret. Hal ini sesuai dengan faktor seasonal jelang Ramadan,” ujarnya. Sementara pada April kinerja ekspor nonmigas anjlok cukup dalam, yakni -6,8% (mtm).

Ekspor minyak sawit atau CPO anjlok -4,5% (mtm), besi baja - 31,5%. Kinerja beberapa produk unggulan ekspor terutama CPO terhambat bea masuk dari India dan hambatan nontarif dari Eropa.

”Tren defisit diperkirakan akan berlanjut sampai akhir Juni. Kondisi ini tentunya tidak sehat bagi perekonomian. Meningkatnya impor membuat permintaan dolar naik signifikan. Akibatnya, rupiah diprediksi terus melanjutkan pelemahan hingga Juni,” ujarnya.

oktiani endarwati