Edisi 16-05-2018
Kementan Ingin Investasi Meningkat


JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Padu Satu).

Padu Satu merupakan upa ya Kementan meningkatkan pe layanan publik sesuai Peratur an Presiden Nomor 91 Ta hun 2017. Melalui Padu Satu, Mentan ber harap investasi di sektor pertanian kian bergairah. D e ngan begitu, kemiskinan akan berkurang karena terbukanya lapangan kerja baru dan ekspor me lonjak.

“Juga bisa lihat dampak kemiskinan di desa turun 2- 3% karena kita lakukan yang te rbaik,” ujarnya sela pe lun curan Pelayanan Terpadu Satu Pin tu (Padu Satu) di Gedung B Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, kemarin. Penerapan Padu Satu tak lepas dari deregulasi sekitar 200 per aturan.

Alhasil, angka ekspor pada 2013 sekitar Rp23 triliun melonjak menjadi Rp45 triliun pada era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Amran mendorong demiki an lantaran posisinya sebagai pembantu presiden maksimal lima tahun. Namun, Indonesia ha rus ek sis dan kukuh hingga 1.000 tahun.

“Yang bisa sa tu kan kita, keadilan dan kese jahteraan. Bisa ter capai kalau lapangan kerja terbu ka, investasi ma suk, gini ratio harus diperkecil,” ujarnya. Peringkat pelayanan publik Ke mentan berada di posisi 14 saat Amran baru menjabat Menteri Pertanian, kini berada di peringkat empat. Dengan ada nya Pa du Satu, Amran menginginkan capaian ter se but kembali naik.

“Kami ingin ta hun depan m a suk dua besar. Itu yang kami inginkan,” ujarnya. Membaiknya pelayanan pub lik Kementan era Amran diakui Sekretaris Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) Ahmad Fahmi. Distributor daging sapi sejak 10 t ahun silam ini menyatakan, peng urusan izin kini bisa rampung dalam tiga hari.

“Sekarang dari re komenda si masuk, proses teknis, tidak lebih dari tiga hari. Dulu, ber harihari, tujuh hari ke atas,” ung kap Direktur PT Agro Boga Uta ma itu pada kesempatan sama. Namun, Amran meng inginkan prosesnya lebih cepat. Selambat-lambatnya satu hari pro ses selesai.

“Sebelum saya ber henti Menteri, (prosesnya ja di) satu hari,” katanya. “Kalau har ga daging naik, saya naik kan tiga bulan (proses) rekomendasi,” u jarnya, berseloroh. Banyak inovasi dalam peningkatan pelayanan publik yang sebangun dengan online single submission (OSS) secara nasional tersebut.

Misalnya, penerapan sistem dalam ja ring an (daring/online) dengan mengedepankan prinsip keper cayaan (trust)kepada pe la ku usaha. Dengan begitu, tak dituntut beragam persyaratan yang memberatkan untuk berusaha. Pelaku usaha hanya tinggal me menuhi persyaratan yang ada kemudian pemerintah meng awasinya sehingga fung si pengawasan lebih intensif.

Melalui penerapan Padu Satu, penyelesaian perizinan pun le bih terjamin. Apalagi, pro ses nya lebih mudah karena cuma melalui satu aplikasi untuk beragam proses yang melibatkan berbagai kementer ian/lem ba ga dan pemerintah daerah. Tak banyak dokumen dalam pro ses aplikasi.

Dokumen dasar, seperti kartu tanda penduduk (KTP) dan nomor pokok wa jib pajak (NPWP) diakses lang sung dari data pusat na sional. Dengan begitu, tak perlu disediakan pelaku usaha. Layanan lain dari Padu Satu, yak ni informasi umum tentang pro ses dan hasil pe lak sana an pem bangunan pe r ta nian.

Di da lamnya memuat bebera pa info, mi salnya data produksi dan kebutuhan konsumsi beberapa komoditas. Padu Satu juga me ngem bangkan berbagai layanan yang memudahkan ber temunya penjual danpembeli. Con toh nya, aplikasi Android berkonsep e-commerce yang menyambungkan Toko Tani Indonesia (TTI) dengan gabungan ke lompok tani (gapoktan) yang memasok beberapa komoditas untuk TTI sejak awal 2018.

Penerapan teknologi in forma tika ini bertujuan me ningkat kan kinerja pasokan antara ga poktan dan TTI. Manfaat lain, mengatasi kendala pasokan pangan. Jumlah pengguna apli kasi mencapai 300 gapoktan dan TTI dengan nilai transaksi Rp1,15 miliar.

Selain peningkatan pela yanan, Padu Satu juga memiliki fasilitas penunjang, di an ta ra nya ruang laktasi bagi ibu menyusui, ruang konsultasi dan pengaduan, makanan ringan, ser ta ruang tunggu dan per lengkapan bak lobi hotel.

sudarsono/tim