Edisi 16-05-2018
Mencari Pelampiasan


LYON–Usang memang untuk mengatakan bahwa Liga Europa bukan gelar yang paling diburu klub-klub elite Benua Biru.

Ajang ini lebih sering dijadikan anak tiri dibandingkan Liga Champions bahkan kompetisi domestik sekalipun. Masuk Zona Liga Europa dianggap sebagai aib dan di Indonesia sering diledek dengan liga malam Jumat. Lihat daftar juara, pemilik gelar terbanyak datang dari tim papan tengah, sebut saja Sevilla.

Kalau ada nama Juventus, Bayern Muenchen, Real Madrid, semua terjadi sebelum era 2000-an. Namun, ibarat kata pepatah, tak ada akar rotan pun jadi, menjadi pembenar beberapa tim tetap me masukkan Liga Europa dalam daftar buru. Setidaknya, Manchester United (MU), Chelsea, dan Liverpool tetap berpesta saat men da pat kannya, saat me reka sudah menyandang status tim elite.

MU mendapatkan gelar pada musim lalu, Chel sea pada 2013, dan Liverpool era 2001. Alasan itu pula yang membuat Atletico Madrid yang sudah terbiasa di Liga Champions bahkan dua kali ke final dalam empat musim terakhir tetap berambisi mendapatkan gelar Liga Europa musim ini.

Gelar yang bisa menjadi pe nawar luka dan dahaga setelah gagal di kompetisi domestik. Syarat nya, mereka ha rus bisa me nundukkan Olympique Marseille di Les Olympiens, Decines-Charpieu, Lyon. “Ada pertandingan penting di depan kami sehingga tak ada waktu untuk memikirkan yang lain,” kata penyerang Atletico Fernando Torres.

Pemain yang akan meninggalkan Atletico di akhir musim ini mengatakan tak pernah kehilangan ambisi men dapatkan gelar Liga Europa meski sudah pernah men dapatkannya bersama Chelsea. Torres juga telah me rasakan gelar Liga Champ ions bersama The Blues.

Menurutnya, mendapatkan gelar Liga Europa tetaplah istimewa. “Sepak bola mem beri saya kesempatan kembali ke Atletico dan meraih trofi Liga Europa akan menjadi sesuatu yang istimewa,” ujar Torres, dikutip situs Marca. Torres mungkin tidak akan mendapatkan porsi utama saat menghadapi Marseille.

Pelatih Atletico Diego Simeone kemungkinan besar akan memilih duet Diego Costa dengan Antoine Griezmann di lini depan. Keduanya menjadi penentu langkah Rojiblancos ke final. Griezmann mencetak gol di kandang Arsenal pada leg per tama semifinal, sedangkan Costa menjadi pahlawan lewat gol tunggalnya di kandang sendiri.

Simeone sendiri tak akan bisa mendampingi timnya di pinggir lapangan karena menjalani sanksi empat laga dari UEFA. Pelatih asal Argentina itu sudah absen di bench pemain saat semifinal leg kedua melawan Arsenal di Stadion Wanda Metropolitano. Pelatih Marseille Rudi Garcia tak menampik jika Atletico lebih diunggulkan dalam laga dini hari nanti.

“Ini adalah panggung besar buat kami. Meng - hadapi tim seperti Atletico menjadi tan tangan karena dalam empat musim mereka tampil di dua final Liga Champions,” kata Garcia, di situs resmi UEFA. Mantan pelatih AS Roma itu sampai merasa perlu meng takan jika peluang tim nya meraih kemenangan terbilang kecil dibandingkan sang lawan.

“Tapi, kami akan berusaha karena menda pat kan gelar Liga Europa lebih realistis buat kami,” tandas nya. Sementara Dimitri Payet mengatakan final Liga Europa menjadi kesempatan buat mereka menjadi pahlawan. Apalagi, sepanjang sejarah belum pernah ada wakil Prancis yang bisa menjadi juara.

Dari empat kali wakil Prancis, semuanya gagal meng angkat trofi, termasuk mereka. Marseille gagal mendapatkan gelar saat bertarung di final Liga Europa 2003/2004. Menghadapi Sevilla, wakil Spanyol, Les Olympiens menyerah dua gol tanpa balas di Nya Ullevi, Gothenburg, Swe dia.

”Sampai sekarang mereka yang menjadi juara tahun 1993 tetap menjadi pahlawan karena memang tidak ada yang bisa melakukan nya setelah itu. Tidak mudah, tapi ini kesempatan kami masuk buku sejarah klub,” tandas Payet.

ma’ruf

Berita Lainnya...