Edisi 16-05-2018
Mobilitas Atlet Jadi Fokus


JAKARTA- Transportasi atlet menjadi fokus perhatian jelang Asian Games 2018 yang bergulir Agustus mendatang.

Hingga saat ini pergerakan atlet dari Wisma Kemayoran menuju Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) belum memenuhi standar Komite Olimpiade Asia (OCA). Sesuai standar OCA, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai venue maksimal 34 menit.

Namun, dari hasil uji coba, mobilitas atlet dari Kemayoran menuju Senayan membutuhkan waktu hingga 43 menit. Masalah ini harus segera dipecahkan Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) mengingat masa persiapan hanya tersisa sekitar tiga bulan lagi.

Sorotan terkait masalah transportasi ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Global Forum Asian Games 2018 di Hotel Atlet Century, kemarin. Pria yang akrab disapa JK ini menyatakan manajemen transportasi DKI Jakarta sangat penting untuk menjamin pergerakan 15.000 atlet dan ofisial dari wisma ke venue .

“Saya sudah mencoba jalur Kemayoran menuju Senayan itu memakan waktu sekitar 43 menit. Jadi, harus ada solusi agar pergerakan atlet bisa lebih cepat 15 menit. Kalau tidak, semua program bisa kacau,” kata Wapres, dalam Global Forum Asian Games 2018 di Hotel Atlet Century, kemarin.

Dia menginstruksikan stakeholder terkait untuk fokus membenahi masalah ini mengingat masa persiapan hanya tersisa sekitar tiga bulan. Menurutnya, manajemen pengaturan lalu lintas harus segera disiapkan agar target mobilisasi atlet sesuai standar OCA maksimal 34 menit dapat tercapai dan konsisten.

“Jakarta butuh manajemen transportasi yang baik. Saya mau Menteri Perhubungan dan TNI/Polri agar melakukan sterilisasi jalur sehingga waktu tempuh paling jauh dari Kemayoran hingga Senayan sesuai aturan OCA, yakni 34 menit dapat tercapai dan harus konsisten. Masyarakat juga harus mengerti.

Kita harus optimistis Indonesia sukses menjadi tuan rumah Asian Games,” tandasnya. Selain masalah transportasi, JK juga meminta pengurus cabang olahraga serius mempersiapkan atletnya. Menurutnya, sukses Asian Games tidak hanya pada penyelenggaraan, namun juga prestasi.

Caranya, dengan mengibarkan Merah Putih pada setiap cabor dan memenuhi target 10 besar perolehan medali. Pria asal Makassar ini mengatakan memaklumi dengan adanya suara sumbang terkait dana besar yang digelontorkan pemerintah untuk Asian Games. Namun, seluruh biaya tersebut merupakan investasi masa depan dalam bentuk infrastruktur olahraga dan transportasi.

“Arena yang direnovasi atau yang baru dibangun bisa dipakai atlet untuk berlatih atau memunculkan bibit unggul karena dipakai juga oleh masyarakat,” katanya. Fasilitas tersebut juga memungkinkan Indonesia menjadi penyelenggara Olimpiade. Warisan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya dari penyelenggaraan Asian Games 2018 menjadi salah satu tolok ukur bagi Komite Olimpiade Internasional.

“Jika Indonesia mau ikut bidding untuk Olimpiade 10 tahun mendatang, kita mampu. Itu pada saat income kita mungkin sudah 8 ribu dolar AS atau 10 ribu dolar AS. Secara iklim kita juga cocok,” ujarnya. Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan tidak akan meliburkan sekolah selama Asian Games karena tidak efektif untuk mengurangi volume kendaraan di jalan raya.

Menurutnya, sekolah tetap mengikuti kalender akademik nasional, namun waktu belajar mengajar diubah. “Bisa dilihat seperti apa pada Sabtu dan Minggu di Jakarta. Itu hari libur dan semua orang bisa ke mana saja.

Sementara saat hari kerja, masyarakat sudah diketahui destinasinya dan lalu lintas bisa dikendalikan,” ungkap Anies. Sebelumnya ada usulan agar seluruh siswa sekolah di DKI diliburkan selama perhelatan Asian Games.

Tujuannya agar mengurangi volume kendaraan yang dapat mengakibatkan terhambatnya laju para atlet dan ofisial dari Wisma Atlet, Kemayoran, ke arena pertandingan seperti di Senayan, Pondok Gede, Pondok Indah. Di tempat yang sama, Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin memastikan transportasi atlet tidak menjadi masalah di Palembang.

Alasannya, wisma atlet dan venue pertandingan berada di dalam satu kawasan, yakni di Jakabaring. “Untuk Palembang maksimal hanya 10 menit dari wisma ke arena. Semuanya terpusat di Jakabaring sehingga tidak ada masalah,” tuturnya.

raikhul amar