Edisi 16-05-2018
Indonesia Paling Menarik di Asia Pasifik


LIMA negara menyatakan berminat untuk berinvestasi di sektor properti dan industri pendukungnya di Indonesia.

Kelima negara tersebut yaitu Arab Saudi, Hong Kong, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea Selatan. Ketertarikan investor dari lima negara tersebut disampaikan saat delegasi Indonesia menghadiri Kongres Real Estate Dunia atau Federation Internationale des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers (FIABCI) pada awal Mei 2018 di Dubai, Uni Emirat Arab.

“Tidak hanya di sektor perumahan, tetapi juga sektor leisure ,” ungkap Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata. Soelaeman yang juga Presiden FIABCI Asia Pasifik periode 2018-2019 mengatakan, dalam pertemuan di Dubai, REI menawarkan kerja sama proyekproyek properti kepada para investor di Dubai.

Ke-16 proyek properti nasional yang ditawarkan REI dalam Indonesia Dubai Realestat Investment Forum antara lain proyek Anai International Resort di Padang (Sumatra Barat), Mandeh Resort Paradise di Mandeh (Sumatra Barat), Tanjung Buton Forest City di Dumai (Riau), Alam Sutera Realty di Serpong (Banten), dan Garuda Wisnu Kencana di Bali.

Kemudian, proyek Citra Plaza Kemayoran City di Jakarta, Citra Towers Kemayoran Business District di Jakarta, Kota Jababeka di Cikarang (Jawa Barat), Eureka Creative City di Jakarta, Jimbaran Village di Bali, Multi Business Strategy di Jakarta, Integrated Concept Office SOHO Residensial di Tangerang Selatan (Banten), Pekanbaru Park di Riau, dan Housing Finance Company.

“Kami juga mengenalkan tourism development dan sistem pemerataan ekonomi melalui pengembangan 10 kota baru, 10 destinasi wisata baru, dan 10 kawasan ekonomi khusus kepada para investor,” tandas Soelaeman. Kawasan Asia Pasifik dinilai menjadi pusat perekonomian dunia.

Hal ini tecermin dari perang dagang yang dilakukan negara-negara maju untuk merebut pasar Asia Pasifik. “Sekarang kita menyaksikan perubahan dalam struktur ekonomi global, termasuk potensi konflik perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia yang akan memengaruhi Asia Pasifik,” kata Wakil Ketua Dewan

Pengawas Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jusuf Wanandi. CSIS bekerja sama dengan Pacific Economic Cooperation Council (PECC) menjadi tuan rumah bersama dalam Dialog Global CSIS yang pertama dan Pertemuan Umum PECC Ke-25 di Jakarta.

Ekonomi global yang saat ini penuh ketidakpastian dinilai tidak lepas dari kebijakan politik yang terlalu mendominasi. Jusuf Wanandi mengatakan, jika biasanya kebijakan politik suatu negara dilatarbelakangi kondisi ekonomi, saat ini berbeda. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini lebih dipengaruhi kebijakan politik.

“Pusat ekonomi dunia sekarang di Asia- Pasifik. Jadi, apa yang kita lakukan akan berdampak pada bagian dunia lainnya. Karena itu, perlu kerja sama mengambil tindakan kolektif dan kerja sama untuk menghadapi tantangan ini, yang bukan bisnis seperti biasa,” kata Ketua Komite Nasional Indonesia untuk PECC Mari Pangestu.

Dia menambahkan, anggota PECC di seluruh wilayah menyambut inisiatif Indonesia untuk memulai dialog tentang tantangan yang dihadapi. Melalui dialog yang juga melibatkan pemerintah, diharapkan para peserta yang berasal dari sejumlah pakar lembaga internasional dan nasional serta pemangku kepentingan bisa membahas berbagai platform kebijakan yang akan diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi.

“Pertanyaan mendasar adalah apakah kita cukup mengubah model bisnis yang ada atau perlu model bisnis baru, baik bagi pemerintah, bisnis, maupun dalam kerja sama regional,” kata Mari Pangestu. Pengembangan UKM mendapat perhatian besar karena sektor ini diyakini mempunyai peran besar dalam menghadapi pelemahan ekonomi global.

UKM bisa memberikan kontribusi besar terhadap lapangan kerja. Berdasarkan laporan Bank Pembangunan Asia (ADB), rata-rata UKM berkontribusi 62% pada lapangan kerja dengan populasi sekitar 96% dari total perusahaan di 20 negara kawasan Asia Pasifik.

Kontribusi terhadap ekspor juga tinggi, mencapai 40% di China dan India, 26% di Thailand, 19% di Korea Selatan, dan 16% di Indonesia. Di negara maju seperti Jepang, UKM memberikan kontribusi 70% terhadap lapangan kerja, 50% GDP, dan merupakan 99% dari total populasi perusahaan di negara ini.

Ketua Internasional PECC Don Campbell menambahkan, sejumlah survei mengungkapkan, pertumbuhan pesat di negara Asia Pasifik memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan kemiskinan.

anton c