Edisi 17-05-2018
Teringat Anak, Bos First Travel Menangis


DEPOK - Sidang kasus dugaan penggelapan dana umrah yang melibatkan First Travel kem ba li digelar di Pengadilan Ne geri (PN) Depok kemarin.

Tiga terdakwa yakni Direktur Uta ma First Travel Andika Su rach man, Direktur Anniesa Des vi ta sari Hasibuan, dan Direktur Ke - uangan Siti Nuraida alias Kiki Hasibuan menyampaikan pem - be laan secara pribadi. Me reka menuliskan di selembar kertas dan dibacakan satu per satu. Pembelaan/ple i doi yang di - bacakan kuasa hukum hanya di lakukan kuasa hukum An di - ka dan Anniesa. Kuasa hukum Kiki tidak hadir dan tidak me - ni tipkan berkas pembelaan se - hingga pembelaan yang ber - sang kutan terpaksa ditunda. Dalam pembacaan pem be - laan secara pribadi di hadapan majelis hakim, jaksa penuntut umum (JPU), dan kuasa hu - kum, Anniesa tak kuasa me na - han tangis.

Dia teringat dua anak nya di rumah terutama anak keduanya yang masih ber - usia sembilan bulan. Ketika ditangkap pada Juli 2017, Anniesa baru saja me la - hirkan tiga minggu. Sejak saat itu Anniesa tak bisa mengasuh buah hatinya. Dia hanya bisa mende - ngar dari kerabatnya mengenai perkembangan ba yi nya. “Saya dijebloskan ke pen jara. Bayi saya baru sem bilan bulan ketika itu, saya baru melahirkan tiga minggu,” kata Anniesa kemarin. Dia bahkan tidak sempat memberikan ASI. Dia merasa hancur sebagai seorang ibu. Se - lama persidangan Anniesa me - mang kerap terlihat diam. Ke - tika ditanya media pun Annie sa bungkam seribu ba hasa.

“Anakanak saya adalah ke kuat an saya yang membuat te tap bertahan di tengah pa hit nya caci maki. Anak saya juga di-bully di sekolah. Ini adalah pelajaran hidup berharga,” ungkapnya. Dalam pembelaan pri ba di - nya, Andika menilai tuntutan JPU sangat berat. Dia mengaku tidak ada niat untuk menipu. “Selama delapan tahun men ja - lankan usaha ini secara sah su - dah lebih dari 160.000 jamaah yang diberangkatkan dan tidak ada yang gagal,” ucap Andika. Dia juga membeberkan ma - salah pemboikotan visa yang tidak pernah tergali dalam per - sidangan. Pemboikotan itu men jadi persoalan utama ter - tun danya pemberangkatan calon jamaah.

Andika men ce ri - ta kan pada 18 Juli 2017 mana - jemen menandatangani kese - pa katan akan mem be rangkat - kan jamaah pada November 2017 hingga 2018. “Namun, sangat aneh selang dua minggu kemudian atau 1 Agustus izin umrah kami dicabut. Setelah itu sembilan hari kemudian kami ditangkap,“ ujarnya. Andika menduga ada pihak lain yang sengaja ingin meng - han curkan bisnis umrahnya. Hal lain yang dibeberkan Andi - ka yakni jumlah jamaah ter - tunda dan total kerugian yang menurutnya tidak mendasar. “Jumlah kerugian Rp900 mi - liar itu dari mana? Kami me li - hat secara keseluruhan me - mang ada pihak yang ter gang - gu dan mengancam bisnis. Ka - mi ini mendobrak bisnis umrah dari yang semula mahal men - jadi terjangkau,” ungkapnya.

Dia mengaku dizalimi dan bis nisnya dipaksa berhenti. Dia juga mempertanyakan sia - pa yang akan bertanggung ja - wab terhadap jamaah yang be - lum berangkat. “Termasuk (ke - hidupan) pribadi kami. Saya ingin mengetuk hati hakim karena ini menyangkut nasib ribuan jamaah,” ucapnya. Menanggapi pembelaan ter - dakwa, JPU Sufari mene gas kan, tetap pada tuntutan semula karena pembelaan yang dibaca - kan terdakwa atau pun kuasa hu - kum tidak ada hal baru yang sig - nifikan.

“Pem be la an itu bukan fakta. Intinya me reka meminta keringanan. Kami tetap pada tuntutan semula,” ujarnya. Jaksa sebelumnya telah menuntut Andika dan Anniesa dengan hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp10 miliar, sementara Kiki Hasibuan dituntut 18 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.

R ratna purnama