Edisi 17-05-2018
DPR Minta Kinerja BIN, Polri, dan BNPT Dievaluasi


JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak ada nya evaluasi kinerja Badan Intelijen Negara (BIN), Polri, dan Badan Nasional Penang gulangan Terorisme (BNPT) atas maraknya aksi terorisme di sejumlah daerah dalam beberapa ha ri terakhir.

Kasus yang terjadi belakangan ini dinilai tidak le pas dari bentuk kelalaian instansi-instansi yang m e miliki tanggung jawab dalam keaman an negara. “Kepada BIN, kepolisian, BNPT harus dievaluasi karena me reka yang mempunyai tupok si (tugas pokok, dan fungsi) da lam masalah ini. Seharusnya kan ada pencegahan dan pe nin - dak an dan anggarannya juga cu kup besar. Anggaran BIN naik berkali-kali lipat. Ang garan kepolisian juga berkali-kali li pat sehingga ini harus sejalan dong dengan kinerja. Dari 2014 hing ga 2017, kenaikan ang garan kepolisian luar biasa lho,” ujar Wakil Ketua DPR Fadli Zon se usai menerima kunjungan D e wan Pengurus Pusat Pre sauda raan Alumni (DPP PA) 212 di Ge dung DPR, Senayan, Ja karta, Rabu (16/5).

Disinggung mengenai per lu nya mereposisi jabatan ke pa la BIN, kapolri, maupun ke pa la BNPT, Fadli Zon menga ta kan, “Sa ya tidak mau ma suk ke in ter nal politik, tapi secara ke se lu ruhan harus ada eva lua si. Dan mereka yang se ha rus nya ber tang - gungjawab ya, jadi ha rus ada pu nisnhment karena me reka yang lalai,” tuturnya. Fadli Zon mencontohkan, ba gaimana bisa Mako Brimob ber ada dalam penguasaan na - ra pi dana sampai 36 jam. “Itu kan luar biasa. Itu kan berarti ada masalah. Tidak mungkin ti - dak ada masalah. Dan setelah itu kok terjadi serangkaiannya (ren tetan tindakan teroris di ber bagai daerah). Berarti kan ada relasi. Secara toeretis ini ada relasi,” paparnya.

Wakil Ketua Umum Partai G e rindra itu menuturkan, apa yang terjadi di Surabaya dan be - be rapa tempat lain dalam be be - rapa hari terakhir tidak mung - kin berdiri sendiri-sendiri. “Ini pas ti ada relasi. Tidak mungkin ber diri sendiri sehingga tanda ta nya besarnya, apa yang se - sung guhnya terjadi di Mako Br i mob,” katanya. Ditanya mengenai pen ting - nya pembentukan tim ga bun g - an yang melibatkan TNI-Pol ri da lam penanganan te ro ri sme, Fa dli Zon mengatakan ba h wa hal ini tidak perlu di la ku kan. Alas annya di setiap ins tansi ter kait yang ada saat ini seperti Bri mob maupun BNPT, s e - mua nya sudah ada ah linya. “Di Bri mob ada ah li nya, di BNPT ada ah l inya. Di Ko passus ada ah li nya. Yang ga bungan itu kan se be narnya su dah tertam - pung da lam BNPT.

Di situ ada TNI, Pol ri, itu saja yang me nu - rut sa ya ha rus diperjelas, di - per kuat. Ti dak perlu mem - bentuk badan-ba dan baru yang nanti malah me nim bul - kan overlap,” katanya. Pihaknya juga meminta Pol ri transparan dalam mem - be ri kan informasi mengenai se rang an teroris yang terjadi di be be rapa daerah. “Kasus di Ma ko Brimob, misalnya, ha - rustrans paran. Beritanya awal - nya ti dak ada korban, tiba-tiba ada ko r ban. Terus ada 10 orang yang melakukan per la - wan an, t a pi tidak jelas sia pa yang me la ku kan per la wan an. Te rus tiba-tiba sudah pin dah ke (Lapas) Nu sa kam bangan. Ini harus di je laskan apa yang se sung guh nya ter ja di dan ke - napa kok (in for ma si nya) sim - pang siur. Me nga pa me reka bi - sa marah ada di si tu. Me ngapa me reka bisa me ngua sai (Mako Bri mob). Itu ha rus ada pen je - las an,” katanya.

Senada dengan Fadli Zon, Ke tua Umum DPP PA 212 Sla - met Ma’arif mengaku khawatir ter jadi pelembagaan Islamo pho bia akibat tindakan aparat yang ber lebihan, misalnya orang ber ca dar tiba-tiba diturunkan da ri ken daraan untuk di pe rik - sa. “Sa ya khawatir ada upaya pe lem bagaan I slamo pho bia,seolah-olah teroris itu dikaitkan de ngan ajaran Islam. Padahal Is l am tidak mengajarkan itu semua (aksi trerorisme). Apalagi bom bunuh diri, itu jelas di ha - ram kan karena ini bukan medan nya,” paparnya.

Abdul rochim