Edisi 17-05-2018
Anak Adalah Korban!


Aksi bom bunuh diri di Surabaya me ning galkan du ka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Selain karena jumlah korban meninggal dan luka-luka yang tidak sedikit, juga disebabkan pelibatan anak da lam aksi nekat itu.

Anak dalam aksi terorisme adalah korban. Anak tidak layak disebut sebagai pelaku. Anak adalah korban sistem so - sial. Sistem sosial yang sering me - nem pat kan anak sebagai hak milik orang tua. Sistem sosial di mana anak dianggap sebagai makhluk kecil yang tak berdaya. Sis - tem sosial di mana mereka kurang men dapatkan per - ha tian dari ling - kung an sekitar. Sis tem so sial di ma na masyarakat masih suka meng - ekspose gambar anak yang dilibat - kan dalam tindak pidana terorisme.

Ketimpangan Pengasuhan

Anak yang dili - bat kan oleh orang dewasa dalam aksi te ro risme menjadi potret nyata ba h - wa dalam sistem sosial mas ya rakat masih ter - jadi ke tim pang an dalam peng - asuhan. Peng asuhan oleh orang tua masih menem pat - kan dirinya sebagai orang de - wasa yang serba me ngerti dan berkehendak atas anak. Orang tua belum mau men dengar dan memper ha ti kan anak sebagai makhluk utuh, mandiri, dan merdeka. Ironisnya, pengasuhan yang tidak tepat itu dibenar - kan oleh masyarakat. Artinya, mas ya ra kat turut serta dalam sikap acuh terhadap peng - asuh an. Ma s ya rakat seakan telah terbebas dari tugas/ - amanat mendidik masa depan bangsa.

Mereka sering merasa nyaman dengan kondisi ru - mah tangganya, tanpa me me - dulikan keluarga lain. Padahal, dalam sistem sosial keber ada - an individu dalam sebuah kelompok adalah bagian integral dalam keluarga. Lingkungan yang kurang baik itu menjadikan anak ke rap tidak mendapatkan tem pat nya man dalam tumbuh kem - bang. Seharusnya ling kungkan menjadi fungsi kon trol ter ha - dap pendidikan anak dalam ke - luarga. Saat kondisi itu semakin di biarkan, maka tidak meng he - rankan jika pe libatan anak da - lam aksi bom bunuh diri men - jadi hal baru di Indonesia. Pelibatan anak dalam aksi teror menjadi penanda bahwa ego orang dewasa sangat besar.

Ego itulah yang kemudian me - nu tupi mata batin kebenaran. Saat mata batin kebenaran telah tertutup, maka anak yang tak berdosa pun di li bat - kan dalam serangkaian aksi keji. Ego yang kemudian me - ram bah pada kepentingan politik orang dewasa itulah yang men jadikan anak sebagai korban. Anak yang dilibatkan dalam aksi teror adalah korban konflik kepentingan dan ego orang tua.

Identitas Anak

Lebih lanjut, anak sebagai korban pun berlanjut dalam praktik komunikasi mas ya ra - kat. Masyarakat suka meng - eks pose (retweet dan repost ) gam bar/ foto anak dan iden - titas anak. Identitas anak da - lam hal ini, antara lain nama lengkap, sekolah, alamat, akti - vitas or ga nisasi, dan gambar anak. Anak “pelaku” korban dilin dungi oleh Undang- Undang Nomor 11/2012 ten - tang Sistem Per adilan Pidana Anak (UU SPPA). Foto anak dan identitas lainnya tidak bo - leh dipublikasikan, meskipun anak-anak itu adalah “pelaku”.

Pasal 19 (1) menyebutkan Identitas Anak, Anak Korban, dan/ atau Anak Sak si, wajib di - rahasiakan da - lam pemberita - an di media ce - tak atau pun elek tronik. (2) Iden titas seba - gai mana dimak - sud pada ayat (1) meliputi nama anak, nama anak korban, nama anak saksi, nama orang tua, ala - mat, wajah, dan hal lain yang da - pat meng ung - kap kan jati diri anak, anak kor - ban, dan/atau anak saksi. Bahkan da - lam UU SPPA ter kait putusan pengadilan pada sidang terbuka untuk umum, me dia pun dila rang un tuk memu - blikasikan identitas anak. Se - bagaimana termaktub dalam Pasal 61 ayat 2. Pasal itu me - nyebutkan, “Identitas anak, anak korban, dan/atau anak saksi tetap harus dirahasiakan oleh media massa seba gai - mana dimaksud dalam Pasal 19 de ngan hanya meng gu na - kan ini sial tanpa gambar.

Saat hal tersebut dilanggar, maka ancaman hukuman telah termaktub. Sebagaimana Pas - al 97 UU SPPA menyatakan “Se tiap orang yang melanggar ke wa jiban sebagaimana di - mak sud dalam Pasal 19 ayat (1), dipidana dengan pidana pen ja ra paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling ba - nyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Dampak dari ekspose iden - titas anak di media, di an - taranya masa depan anak te r - sebut yang terstigma. Belajar dari beberapa kasus anak yang terekspose media, anak yang sudah men ja lani proses hu - kum an sekalipun mengalami trauma untuk kem bali ke ru - mahnya. Mereka me ra sa citra buruk mereka sudah lekat di ingatan masyarakat aki bat pemberitaan yang ada.

Padahal, prinsip restorative jus - tice dalam UU SPPA adalah me - mu lihkan anak kepada situasi semula sehingga dapat tum - buh dan berkembang secara wajar. Dalam kasus terorisme, mes kipun anak sudah mening - gal, masih ada teman sekolah, teman main, teman organi - sasi, yang jika identitas anak ini dilekatkan dapat mem beri - kan dampak psikologis bagi anak-anak yang lain. Stigma terhadap sebuah sekolah dan organisasi pelaku akibat ada siswanya yang menjadi “pe - laku” tidak se mes ti nya mem - berikan dampak nega tif pada anak-anak lain dalam sekolah dan organisasi ter se but.

Bagi anak pelaku yang orang tuanya meninggal akibat tindak pi - dana terorisme, tidak sepantasnya kesalahan orang dilekatkan pada anak. Anak masih panjang masa tumbuh kembang dan masa depannya. Jangan sampai stigma negatif kepada anak tersebut menjadi benih-benih radikalisme yang tumbuh pada dirinya. Dengan demikian, mari me nyudahi mengirim atau meng unggah gambar anak yang di li batkan dalam aksi teroris. Ke sadaran masyarakat di bu tuh kan untuk menjamin harkat hi dup anak pada masa yang akan datang. Pada akhirnya, peristiwa bom bunuh diri di Surabaya se - moga menjadi pelajaran pen ting bagi bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia perlu kembali menoleh dan peduli terhadap tumbuh kembang anak. Mem perbaiki sistem pengasuhan dan tekad melindungi anak Indo nesia menjadi se - buah keniscayaan. Semoga peristiwa di Kota Surabaya men jadi yang pertama dan terakhir aksi teror yang melibatkan anak.

Rita Pranawati
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dosen FISIP UHAMKA




Berita Lainnya...