Edisi 17-05-2018
Suku Bunga Simpanan Diprediksi Meningkat


JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi suku bunga simpanan dalam bentuk deposito, baik rupiah maupun valuta asing (valas), akan meningkat meski kondisi likuiditas rupiah masih relatif memadai.

Hal tersebut disebabkan adanya volatilitas di pasar keuangan dan kemungkinan terjadinya kenaikan policy rate. Direktur Group Risiko dan Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto mengatakan, pada kuartal I/2018 tren bunga simpanan rupiah cenderung melandai namun berpotensi naik atau upside risk.

Di sisi lain, bunga simpanan valas diperkirakan akan terus naik sebagai dampak dari kenaikan suku bunga global dan masih lebarnya gap antara suku bunga dana onshoredengan offshore. Adapun rata-rata bunga deposito rupiah bank benchmark LPS pada akhir April 2018 mencapai 5,38%, turun 1 bps dari posisi akhir Maret 2018.

Pada saat yang sama, rata-rata bunga minimum juga turun 1 bps ke-4,62%. ”Sebaliknya tingkat bunga deposito valas pada periode sama secara konsisten kembali naik berkisar 4–7 bps, terutama pada Suku bunga rata-rata dan maksimum,” ungkap Doddy di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, akselerasi kenaikan pada suku bunga valas terpantau mulai terjadi pada awal tahun 2018 bersamaan dengan pola peningkatan suku bunga dolar di offshore. Sementara LPS juga memprediksi BI 7-day reverse repo rate terbuka untuk disesuaikan menyusul meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dan tekanan nilai tukar.

Dalam hal ini, kata Doddy, BI akan berupaya mengutamakan terciptanya stabilitas sistem keuangan. BI juga akan terus berupaya mengirimkan sinyal mengenai langkah kebijakan yang ditempuh melalui operasi moneter di pasar valas dan rupiah sebelum mengubah suku bunga.

”Oleh karena itu, arah JIBOR akan cenderung naik sebagai antisipasi atas perubahan bunga acuan dan kebutuhan likuiditas perbankan,” kata Doddy. Selain itu, kata dia, pasca - kenaikan pada Maret 2018, potensi kenaikan Fed Rate hingga akhir tahun 2018 masih menjadi fokus utama bagi pelaku pasar keuangan global.

Menurut konsensus ekonom, bunga acuan AS itu diperkirakan masih akan naik sebanyak 75 bps hingga akhir tahun. Menurut Doddy, potensi kenaikan Fed Rate ini telah mendorong penguatan dolar AS dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Selain itu, sentimen pasar global juga masih akan diwarnai meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi perang dagang antara AS dengan China, kenaikan harga minyak dunia, serta memanasnya tensi geo - politik antara AS dengan Iran.

Senada dengan Chief Economist Bank CIMB Niaga Adrian Panggabean menuturkan, volatilitas di pasar finansial akan berlanjut sepanjang 2018 dan kemungkinan besar akan terus terjadi pada 2019.

Hal itu dipengaruhi sejumlah faktor eksternal di antaranya pengetatan kebijakan moneter dan pelonggaran kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS) yang diimbangi dengan masih longgarnya kebijakan moneter di Eropa dan Jepang.

Di sisi lain, faktor geopolitik dan geoekonomi serta isu proteksionisme AS juga menyebabkan fluktuasi tajam dalam harga-harga aset secara global, yang kemudian berimbas pada fluktuasi mata uang di seluruh dunia, termasuk rupiah.

”Volatilitas yang terjadi di pasar finansial beberapa bulan terakhir dua kali lebih besar dibanding tahun 2017 dan disebabkan faktor eksternal. Kita tidak perlu terlalu khawatir sejauh konfigurasi makroekonomi kita terjaga relatif sehat, kebijakan ekonomi tetap rasional, dan aktivitas ekonomi masih berjalan normal,” kata Adrian.

kunthi fahmar sandy