Edisi 17-05-2018
Lakukan Hal yang Benar dan Kedepankan Solusi


Semangat generasi muda di Indonesia dalam merintis usaha atau startup patut disambut dengan ekosistem yang mendukung.

Salah satunya melalui kehadiran perusahaan modal ventura yang bisa mengawal usaha rintisan agar terus berkembang dan naik kelas.B erkembangnya modal ventura tidak sekadar menambah alternatif sumber dana atau modal bagi para pengusaha pemula, melainkan juga menjadi semacam perusahaan metode validasi untuk ide atau inovasi baru.

Terlebih di era digital saat ini, banyak inovasi berbasis digital yang bermunculan, terutama yang dibidani generasi milenial. Salah satu perusahaan modal ventura yang tengah giat membidik startup berbasis digital adalah EverHaus yang didirikan sejak November 2017 oleh Gitta Amelia. Bagaimana sosok muda ini melihat peluang dan tantangan pengembangan startup di Indonesia? Berikut petikan wawancaranya dengan KORAN SINDO baru-baru ini.

Apa latar belakang Anda mendirikan perusahaan modal ventura?

Impian saya adalah menarik lebih banyak modal dan investasi ke negeri ini. Dulu investor banyak melirik Indonesia karena kita punya sumber daya alam tambang emas dan minyak yang banyak. Tantangan kita adalah menunjukkan kepada dunia luar bahwa kita juga punya wirausaha berkualitas bagus.

Tapi, tentunya kita harus mengembangkannya dulu, lalu baru bisa menunjukkan kepada dunia. Itulah mengapa kita butuh lebih banyak lagi modal dan investasi masuk. Dalam rangka menarik investasi itu, kita juga harus meyakinkan orang-orang di sini untuk mau berinvestasi juga.

Artinya, sebelum menarik investor asing, investor lokal harus percaya dulu pada wirausaha lokal. Itulah mengapa kami mendirikan EverHaus. Di sini investornya masih lokal, belum ada pendanaan dari luar negeri.

Visi dan misinya seperti apa?

Kami ingin perekonomian Indonesia lebih berkembang, tidak hanya mengandalkan komoditas saja, melainkan juga maju dalam inovasi dan teknologi. Kita punya peluang untuk menjadi lebih baik dan generasi muda merupakan potensi sekaligus bisa menjadi pendorong untuk mewujudkan hal tersebut. Terkait dengan visi EverHaus, kami punya satu tagline , yaitu “ t o be agent of innovation and change in Indonesia”.

Fokus bisnis dari EverHaus seperti apa?

EverHaus sendiri adalah perusahaan modal ventura yang independen. Kami ingin mendukung wirausaha untuk mewujudkan mimpinya, bukan mimpi perusahaan kami. Jadi fokus kami ialah investasi seperti menemukan investor, menemukan pengusaha pemula untuk bekerja sama. Oleh sebab itu kami merevi u banyak perusahaan pemula setiap hari.

Mencari perusahaan pemula yang terbaik, kemudian mengembangkannya, memastikan mereka bertahan, mencari investor yang mau bekerja sama dengan perusahaan pemula. Untuk tahun depan, kami ingin lebih mengembangkan perusahaan pemula dan menambah jaringan dan visibility, serta mendorong transformasi digital di Indonesia seperti halnya yang terjadi di China.

Sebagai modal ventura, EverHaus tentu banyak bersinggungan dengan pengusaha pemula. Bisa diceritakan?

EverHaus merupakan mitra bagi banyak usaha rintisan atau startup. Kami mencari, menyaring, dan memilih startup terbaik untuk bekerja sama. Wirausaha pemula ini harus spesial, yang mau mengubah dunia dan membuat impact, siap mengambil risiko dan punya pemikiran jauh ke depan. Mereka juga harus menerapkan teknologi di dalam bisnisnya. Bisnis teknologi ini sendiri harus terukur. Kami tidak hanya memberikan investasi dan menyediakan jejaring, tapi juga komunitas dengan banyak portofolio.

Apakah sulit menemukan mitra startup yang tepat?

Kami mencari CEO yang punya ide, muda, punya energi untuk kerja 24 jam. Sejak EverHaus berdiri, kami sudah menemui 500 perusahaan startup di Indonesia dan ASEAN. Jadi, selain lokal, kami juga kadang mendanai orang asing yang mau buka bisnis di Indonesia, misalnya mau ekspansi.

Setiap bulan sekitar 100 wirausaha yang kami ajak duduk diskusi sambil minum kopi, kami coba pahami ceritanya. Ini penting karena mendengarkan ide saja tidak cukup, kami ingin lebih mengenal mereka secara personal. Jadi agak sulit. Sejak EverHaus berdiri, kami sudah mendanai 6 startup. Saya selalu bilang, kita sudah ketemu 6 tim. Kami memercayai mereka dan kami ingin bekerja sama dengan mereka. Jadi sangat partner mindset, bukan investor mindset.

Sektornya apa saja?

Sejauh ini kami berinvestasi di perusahaan yang bisa punya data capital. Untuk sektornya sendiri tidak ada yang spesifik, artinya kami terbuka untuk perusahaan apa saja, misalnya logistik,ecommerce, kecerdasan buatan, software, business to business.

Target Ever H aus ke depan seperti apa?

Untuk tahun ini kami menargetkan untuk menambah investasi dari 6 mitra startup saat ini menjadi 10. Ke depan tentu kami berharap lebih banyak lagi dana yang bisa diinvestasikan. Untuk besarannya sendiri tidak masalah kita berinvestasi sedikit dulu, yang penting masuk dulu. Hal yang terpenting membangun hubungan dulu, misalnya dengan foundernya. Untuk tahun depan mungkin kami tidak terlalu fokus pada mencari startup baru, tapi lebih ke portofolio manajemen dan memastikan startup kami tumbuh.

Apakah Anda melihat adanya kompetisi di bisnis ini?

Di dalam ekosistem para pembina startup ini terdapat beberapa unsur, antara lain modal ventura, investor, para startup , pemerintah, corporate investor. Dalam beberapa tahun terakhir saya melihat ada kemajuan di Indonesia. Kita sekarang punya ekosistem dan tidak bersaing.

Kita bergerak sebagai satu entitas dan bisa saling bekerja sama. Kalau saya dapat startup , saya tidak pernah berinvestasi sendiri karena investor lain bisa menambah value juga dengan network knowledge dan keahlian mereka. Kami juga selalu berbagi deal. Hari ini apa yang baru? Yuk, investasi bareng. Jadi, tidak pernah ada kompetisi, malah saling membantu.

Prinsip kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?

Pertama, do the right thing atau melakukan hal yang benar. Semua tim di sini juga harus paham bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Setiap keputusan yang akan diambil harus bertanya, apakah ini benar untuk dilakukan? Kalau terjadi kesalahan bisa diperbaiki.

Kedua, solution driven . Fokus pada solusi dengan tidak membuat laporan mengenai masalah yang ada saja, namun jika ada masalah berikan solusi atas masalah tersebut.

Ketiga, empower. Kita memberdayakan orang untuk melakukan hal yang benar. Dalam beberapa hal juga ada level tanggung jawab yang saya berikan kepada setiap orang, dengan kata lain kita juga memberikan kepercayaan kepada tim.

nanang wijayanto/inda