Edisi 17-05-2018
Semua Karena Uang


MANCHESTER–Seandainya Kompetisi Liga Primer dihitung sejak 2008, tepatnya ketika Manchester City (Man City) diambil alih Abu Dhabi United Group dengan nilai Rp4 triliun, The Citizensberada satu level dengan Manchester United (MU) dan Chelsea dari sisi jumlah trofi.

Ketiga tim tersebut sama-sama mengoleksi tiga gelar. Man City mendulang gelar pada 2011/2012, 2013/2014, dan 2017/2018. Sementara MU mengantongi trofi (2008/2009, 2010/2011, 2012/2013) dan Chelsea (2009/2010, 2014/2015, 2016/2017). Diakui atau tidak oleh pendukung nya, percepatan Man City tak lepas dari guyuran uang dari grup pemilik klub.

Sejak dipegang Abu Dhabi United Group, pelatih The Citizens selalu mendapatkan dukungan finansial melimpah. Angkanya selalu berada di atas rata-rata pengeluaran tim Liga Primer lainnya. Roberto Mancini yang menjadi pelatih pertama di era Abu Dhabi United Group sepanjang kariernya bersama Man City mendapat dana tak kurang dari Rp6,5 triliun.

Dana yang cukup membuat Mancini berhasil mendapatkan gelar Liga Primer pertamanya di musim ketiga. Pengganti Mancini, Manuel Pellegrini, yang diboyong dari klub Malaga, mampu diguyur dana Rp7,1 triliun dengan target utama gelar Liga Champions. Sayang, Pellegrini gagal memenuhi target karena hanya mendapatkan trofi domestik.

Posisinya kemudian digantikan Pep Guardiola. Da lam dua musim, man tan pelatih Barcelona dan Bayern Muenchen tersebut memperoleh dukungan finansial hampir Rp10 triliun. “Fondasi sukses klub ini adalah kualitas pemain. Banyak orang bilang bahwa kami menang karena investasi banyak, mereka betul,” kata Guardiola, kepada Sky Sport .

Jika dihitung dari sisi gelar, investasi Guardiola terbilang luar biasa karena dia hanya mendapatkan satu trofi Liga Primer dan Piala Liga. Target Liga Champions yang gagal diberikan pelatih lain, juga tak bisa dipenuhi Guardiola. Menariknya, sebagian besar pengeluaran dilakukan untuk mendatangkan pemain belakang.

Rekor pembelian termahal Guardiola adalah Aymeric Laporte dengan banderol 65 juta pounds terling. Angka itu jauh di atas Sergio Aguero yang menjadi pembelian termahal Mancini dan Kevin de Bruyne di masa Pellegrini. Dia menjelaskan investasi besar sekarang akan mengurangi beban di masa depan.

Alasannya, saat melakukan pembelian di setiap bursa, usia pemain menjadi pertimbangan. “Mungkin satu atau dua pemain, tak lebih (transfer pemain). Mungkin orang tak akan percaya, tapi kami tidak bisa terus berinvestasi atau memiliki uang 300 juta poundsterling setiap musim,” tandasnya.

Hanya, Guardiola belum menyebutkan pemain posisi apa yang akan diboyong musim depan. Apalagi, Man City harus kehilangan Yaya Toure. “Mungkin pemain depan, tapi tidak pasti juga. Masih harus didiskusikan dengan direksi. Kami harus bicara dengan direksi dan staf,” ujarnya.

Kapten tim Man City Vincent Kompany menilai sukses timnya tak lepas dari kemampuan Guardiola meramu tim. Menurut pemain asal Belgia tersebut, arsitek tim asal Spanyol tersebut adalah pelatih terbaik di dunia.

“Dia pantas didukung mendapatkan pemain yang diinginkan. Kami harus mendengarkan apa yang dikatakan. Saya kira dia adalah pelatih terbaik dan dengan pemain bagus. Dia melakukannya dengan baik,” tandas Kompany.

ma’ruf