Edisi 17-05-2018
Semangat Kemenengan Sang Herkules


GABRIEL Batistuta pernah mencicipi sengitnya persaingan di lapangan hijau. Dia juga pernah menjalani kerasnya perjalanan hidup. Keduanya berhasil dia taklukkan.

Kini dia ingin mencoba membagi semangat kemenangan tersebut kepada anak-anak muda. Saat Gabriel Batistuta terpaksa menjauh dari lapangan hijau karena cedera akibat membela klub Liga Italia, Fiorentina, pada Oktober 1997, Rob Hughes, wartawan New York Times , menulis keterkejutannya.

Batigol, julukan Gabriel Batistuta, menurut dia, seharusnya sudah cedera sejak tahun-tahun pertama membela Fiorentina. “Dia bukan pemain nomor 9 yang ideal. Tingginya hanya 1,75 meter dan dia lebih banyak mengandalkan tendangannya yang sangat bertenaga,” tulis Rob Hughes. Penulis yang masih terus bekerja di New York Times hingga kini itu punya banyak alasan untuk skeptis.

Dia menjadi saksi betapa seorang pesepak bola yang sangat legendaris, Marco van Basten, langsung takluk begitu cedera mendekap pesepak bola asal Belanda tersebut. Batistuta memang tidak dibekali bakat yang sempurna seperti halnya Marco van Basten.

Pria yang begitu dikenal dengan selebrasi tembakan mesin setiap kali mencetak gol itu tidak memiliki skill pesepak bola seperti makhluk luar angkasa. Sejak kecil dia malah tidak pernah menyukai sepak bola. Pria yang lahir pada 1 Februari 1949 tersebut mulai bermain bola justru saat remaja.

Namun, kekuatan dan fisik yang sempurna membuat dia begitu ganas di area kotak 12 pas. Kekuatan tenaga dan fisik yang dominatif membuat Rob Hughes teringat akan sosok mitologi Yunani, Herkules. “Bahkan, seorang Herkules seperti Batistuta harus menepi ke lapangan karena cedera,” ungkap penulis yang punya nama lengkap Robert Hughes tersebut.

Pada akhir tulisannya, Rob Hughes mengkhawatirkan kondisi sang Herkules ketika tidak lagi bermain bola. Seperti Herkules yang kehilangan tenaga karena dicukur rambutnya, dia mengkhawatirkan Batistuta yang bisa saja tidak berdaya apabila tidak lagi bermain bola.

Ramalan tersebut ternyata menjadi kenyataan ketika Batistuta mengakhiri karier sepak bola seusai membela klub Liga Qatar, Al-Arabi. Pada Maret 2005, Batistuta mengucapkan selamat tinggal untuk sepak bola.

Mantan Pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson saat memimpin tim Manchester United pada 2008 di laga testimonial Michael Carrik tahun lalu mengatakan, tidak mudah bagi pemain bola menemukan kehidupan yang lebih baik setelah berhenti dari sepak bola. “Tidak mudah seorang pesepak bola yang baik berhenti, kemudian menjadi manusia yang baik,” ucapnya.

Hal itulah yang dialami Batistuta. Perjalanannya tidak mudah, bahkan lebih parah. Setelah berhenti bermain sepak bola, saat itulah mimpi buruknya dimulai. Kedua kakinya yang dipaksa bermain sepak bola selama 17 tahun mulai merasakan dampaknya. Setiap hari Batistuta merasakan sakit yang amat sangat di bagian engkel kaki yang membuatnya sangat menderita.

“Saya tidak bisa berdiri dan berjalan saat itu. Bahkan, saya terpaksa buang air kecil di kasur karena memang tidak mampu lagi berdiri,” tutur Batistuta. Tidak kuat menahan rasa sakit itu, Batistuta terpikir untuk mengamputasi kakinya.

Dia benarbenar ingin memotong kedua kakinya agar tidak lagi kesakitan. Ide tersebut berawal ketika dia melihat atlet paralympic , Oscar Pistorius dari Afrika Selatan, yang masih bisa terus berkarier di dunia atletik. “Tanpa kedua kakinya, dia saja bisa, mengapa saya tidak,” pikir Batistuta.

Tanpa pikir panjang, Batistuta langsung menemui dokter pribadinya, dokter Avanzi, agar memotong kedua kakinya. “Saat itu dia berpikir saya sudah gila. Tetapi, saya sudah tidak bisa lebih lama menahan sakit,” kata Batistuta. Tidak mau Batistuta kehilangan dua kaki, dokter Avanzi akhirnya mencarikan solusi lain.

Dia mencoba menanam sekrup pada kakinya guna mendukung kinerja kartilago dan tendon. Seperti yang diduga sebelumnya, rasa sakit yang dirasakan Batistuta terjadi karena kedua kaki Batistita diforsir secara konstan semasa menjadi pemain. “Tidak ada lagi otot tendon di kaki saya.

Jadi, seluruh berat badan hanya ditopang tulang. Itu yang menyebabkan rasa sakitnya begitu luar biasa,” beber Batistuta. Untungnya, setelah pemasangan sekrup tersebut, Batistuta akhirnya tidak lagi merasakan kesakitan. Dia mencoba kembali menata kehidupannya setelah sepak bola. Awalnya dia mencoba “menipu” dirinya sendiri dengan mencoba bermain olahraga polo.

Dari dulu Batistuta memang senang mengendarai kuda. Bagi dia, berkuda mengingatkan masa kecilnya di Reconquista, Argentina. “Saya selalu mengendarai kuda sejak kecil. Berkuda itu sudah ada dalam darah saya,” ujarnya. Batistuta tidak main-main dalam memulai cinta baru tersebut.

Dia bahkan membentuk sebuah tim polo bernama La Gloria Polo Team. Tim ini justru tidak bisa menyembunyikan kecintaan Batistuta pada sepak bola. Tim tersebut tampil dengan kostum dan logo yang sangat mirip klub sepak bola Italia yang begitu dia cintai, Fiorentina.

“Kausnya juga ungu,” kata Batistuta. Batistuta mengakui, saat bermain polo, dia selalu memosisikan diri seperti bermain sepak bola. Semakin sering dia berkuda dan rajin mengayunkan tongkat polo, semakin dalam juga panggilan yang dia dengar untuk kembali ke lapangan hijau.

Batistuta memang tidak benar-benar berpisah dari sepak bola. Dia langsung mengambil kursus pelatih sepak bola di Argentina. Meski sudah mendapatkan sertifikat pelatih, Batistuta masih menunggu momen yang tepat untuk melatih klub sepak bola. Dia memang pernah menjabat sebagai sekretaris teknik di Klub Atletico Colon, Argentina.

Namun, hingga kini dia belum pernah sama sekali memegang satu pun klub sepak bola. Uniknya, tahun lalu ada tim yang sangat ingin dipegang sang Herkules, yakni klub Liga Australia, Adelaide United. Batistuta memang menolak tawaran tersebut. Dia terus mencoba melamar di beberapa negara lainnya agar bisa menjadi pelatih.

Jika dulu misinya menjadi sosok yang fenomenal, kini sang Herkules justru punya misi lain dalam kepelatihannya. “Saya ingin menularkan mental kemenangan buat anak-anak muda,” tandasnya. Ya , Batistuta memang sudah memenangi semuanya, mulai olahraga hingga kerasnya hidup. Jadi, dia memang pantas menularkan semangat itu kepada anak-anak muda sekarang.

wahyu sibarani