Edisi 17-05-2018
Melawan Teror lewat Musik


If you want to know why There’s love that cannot lie Love is strong It only cares of joyful giving If we try we shall see In this bliss we cannot feel Fear of dread We stop existing and start living Kalimat di atas merupakan penggalan dari salah satu bait di lagu Heal the World yang dilantunkan Michael Jackson.

Lagu yang dirilis pada 1991, sekaligus menjadi salah satu single hits dari album “Dangerous” ini memberikan pesan lugas mengenai pentingnya menjaga perdamaian serta menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama. Pesan itu pun dipertegas lagi oleh Joe Pytka yang membuat video klip lagu tersebut dengan cara menampilkan kehidupan anakanak di negara yang menderita kerusuhan.

Walau usia lagu itu telah melampaui waktu dua dekade serta sang pelantun lagu saat ini telah bersemayam di dalam tanah, namun pesan lagu Heal the World itu sepertinya menjadi sangat kontekstual dengan kehidupan di negeri ini sekarang. Teror bom di Surabaya yang terjadi dalam dua hari beruntun kemarin, seakan menyentakkan kita semua agar jangan pernah lelah untuk merawat perdamaian antarsesama anak bangsa.

Dan, lagu milik Michal Jackson itu menjadi sangat terasa kekuatan pesannya ketika pemberitaan media mengabarkan aksi teror Surabaya itu telah melibatkan anak-anak untuk menjalankan aksi bom bunuh diri. Tentunya, aksi teror di Surabaya kemarin menjadi warning buat kita semua.

Ketika kita lengah merawat cinta dan kasih sayang, maka potensi infiltrasi doktrindoktrin radikal bisa saja menyelinap ke rumah kita semua. Dalam bingkai cara berpikir yang waras, tentunya tak ada yang ingin keluarganya harus mengakhiri kehidupannya secara sia-sia, apalagi dilakukan dengan cara menebar ketakutan kepada sesama.

Di sinilah, vibrasi lagu Heal the World itu makin terasa getarannya untuk mengingatkan kita semua bahwa perdamaian hanya bisa dirawat oleh cinta dan kasih sayang. Cinta, sebagaimana Kahlil Gibran berpandangan, bisa menjadi keabadian jika dipupuk dan di-rawat secara baik.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan cinta dan kasih sayang di tengah realitas sosial di negeri yang tengah dirundung kegaduhan akibat kita semua saling menonjolkan perbedaan? Dalam konteks ini, penulis tetap berkeyakinan bahwa musik bisa menjadi medium untuk menyerukan perdamaian melalui nilai-nilai cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Dalam banyak contoh kasus, musik selalu bisa hadir tanpa disertai adanya resistensi ketika mengampanyekan perdamaian ke semua generasi. Pesan yang disampaikan lewat musik itu kerap kali mampu melewati sekatan-sekatan perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Artinya, musik menjadi sangat universal untuk menyuarakan pesan per damaian. Lagu Heal the World milik Michael Jackson hanyalah sebagian kecil dari ajakan perdamaian yang diserukan oleh musisi dunia. Suarasuara serupa yang tak kalah lantang pernah juga disuarakan oleh grup band The Beatles lewat senandung Imagine pada 1971.

Kemudian ada juga One Love miliknya Bob Marley (1977), Sunday Bloody Sunday (U2, 1983), When the Children Cry (White Lion, 1988) maupun pesan yang lebih verbal seperti yang terbetik pada lagu Lenny Kravitz berjudul We Want Peace pada awal dekade 2000-an. Untuk melihat penerimaan pesan lagu itu telah diterima atau tidak, tentunya akan sangat bergantung pada individu-individu yang mendengarkannya.

Sudahkan energi positif yang terkandung dari lagu itu mewarnai kehidupan kita dalam bernegara dan berbangsa? Inilah tantangan besar yang harus terus ditumbuhkan. Munculnya kembali aksi teror di Surabaya sepertinya menjadi alarm buat kita semua agar bisa bersama-sama untuk melantunkan lebih keras lagi, sekaligus menginternalisasikan pesan-pesan yang termaktub di lagu semacam Heal the World kepada semua penduduk di negeri ini.

MEMBAWA KE DAERAH

Lalu, bagaimana cara meresonansikan pesan moral dari lagu-lagu yang menyampaikan perdamaian itu bisa sampai seluruh pelosok negeri ini? Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam jangka pendek adalah menghadirkan musisi-musisi internasional ke daerah.

Tentunya, perlu ada visi yang kuat dari para promotor musik untuk dapat meminta musisi-musisi internasional itu bersedia menyampaikan pesan perdamaian di negeri ini. Artinya, kehadiran musisi internasional ke berbagai daerah di Indonesia tak lagi sekadar menyuguhkan hiburan dan romantisme kepada para penggemarnya.

Namun, mereka harus bisa disusupkan sebagai duta perdamaian. Di sinilah dituntut kemampuan para pelaku bisnis showbis untuk bernegosiasi kepada manajemen artis internasional supaya konser musik di daerah itu bisa juga menjadi tempat persemaian dalam melahirkan perdamaian yang bersifat universal kepada seluruh anak bangsa ini.

Penulis sangat percaya pesan-pesan verbal dari musisi internasional itu akan mampu memberikan getaran kuat kepada para penggemarnya di daerah. Sebagaimana Bob Marley pernah berkata bahwa satu hal yang baik tentang musik itu adalah ketika ia menyentuh Anda, maka tidak akan ada rasa sakit yang terasa. Inilah harapan.

Ketika sentuhan musik itu telah bisa menggetarkan relung hati terdalam yang mendengarkannya, maka idealnya getaran musik itulah yang kelak bisa membuang amarah, dendam, dan kebencian yang mungkin saja masih bersemayam di sebagian jiwa-jiwa anak negeri ini.

Selanjutnya lagi, hadirnya musisi internasional ke berbagai daerah di Indonesia dapat pula menjadi pesan kepada dunia bahwa negeri ini masih tetap aman. Ketika teror bom Surabaya telah mengesankan negeri ini dalam kondisi tak aman, maka hadirnya musisi-musisi internasional ke daerah itu justru bisa menjadi counter opinion .

Dalam konteks komunikasi, konser-konser musisi internasional di daerah itu menjadi aktivitas public relations (PR) yang efektif untuk menyampaikan pesan tentang keamanan bangsa ini. Sekarang ini hanya tinggal kemauan kita. Untuk melawan aksi teror seperti di Surabaya kemarin, tentunya banyak cara yang bisa dilakukan.

Aktivitas musik, di dalamnya termasuk kegiatan konser di daerah, tentunya bisa menjadi salah satu solusi untuk mengabarkan kepada dunia bahwa bangsa ini tetap berkomitmen besar untuk merawat perdamaian dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan, semua itu bisa dilakukan lewat bahasa universal, yakni menikmatinya lewat musik!

ANAS SYAHRUL ALIMI

Founder dan CEO Rajawali Indonesia