Edisi 17-05-2018
Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Lupus


ANGKA kejadian penyakit tidak menular (PTM) setiap tahunnya terus meningkat, di antaranya penyakit lupus.

Lupus atau penyakit autoimun adalah kondisi saat sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing (non-self ) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri (self ). Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat.

Sebagian besar penderita lupus adalah perempuan dari kelompok usia produktif (15- 50 tahun). Meski begitu, lupus juga dapat menyerang lakilaki, anak-anak, dan remaja. Data SIRS Online 2016 menunjukkan bahwa proporsi pasien rawat inap lupus berjenis kelamin laki-laki mengalami peningkatan dari 48,2% pada 2014 menjadi 54,3% pada 2016.

Sementara pasien lupus berjenis kelamin pe rem - puan mengalami penurunan dari 51,8% menjadi 45,7%. Ahli Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit FKUI-RSCM dr Sumariyono SpPD-KR mengatakan, lupus terdiri atas beberapa macam jenis. Salah satu jenis yang paling sering dirujuk masyarakat umum adalah Lupus Eritematosus Sistemik (LES).

LES dikenal sebagai penyakit seribu wajah, merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang hingga kini belum jelas penyebabnya. “LES juga memiliki sebaran gambaran klinis yang luas dan tampilan perjalanan penyakit yang beragam sehingga sering menimbulkan kekeliruan dalam upaya mengenalinya.

LES dapat menyerang jaringan dan organ tubuh mana saja, mulai tingkat gejala ringan hingga parah,” ucap dr Sumariyono di Jakarta beberapa waktu lalu. Dia menuturkan, hingga kini faktor risiko LES belum diketahui secara jelas. Namun, faktor genetik, imunologik, hor monal, dan lingkungan diduga memegang peran penting sebagai pemicu.

Dr Sumariyono menjelaskan, untuk faktor genetik, sekitar 7% pasien LES memiliki keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang juga didiagnosis LES. Faktor lingkungan dipicu infeksi, stres, makanan, anti-biotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultra violet (matahari), penggunaan obat-obatan tertentu, me rokok, paparan kristal sili ca.

Sementara faktor hormonal umumnya, perempuan lebih sering terkena penyakit LES dibandingkan laki-laki. Meningkatnya angka per tumbuhan penyakit LES sebelum periode menstruasi atau selama kehamilan men dukung dugaan hormon estro gen menjadi pencetus penya kit LES. “LES memiliki gejala yang mirip penyakit lain sehingga sulit dideteksi.

Tingkat keparah annya pun beragam, mulai ringan hingga yang meng ancam jiwa. Gejala LES dapat tim bul secara tiba-tiba atau ber kembang perlahan. Pasien LES dapat mengalami gejala yang bertahan lama atau bersifat sementara sebelum akhir nya kambuh lagi.

Kesulitan dalam mengenali LES se - ring mengakibatkan diagnosis dan penanganan yang terlam - bat,” papar dr Sumariyono. Menurut dia, LES merupa - kan beban sosio-ekonomi bagi masyarakat dan negara karena memerlukan penanganan yang tidak sederhana dan me - libatkan banyak bidang keahli - an.

Selain itu, biaya perawat - an nya mahal dan perlu dilaku - kan seumur hidup. Sementara itu, cara menge - nali gejala LES di antaranya de - mam lebih dari 38 derajat Cel - sius dengan sebab yang tidak jelas, lelah dan lemah ber lebih - an, sensitif terhadap sinar ma - tahari, rambut rontok, ruam ke merahan berbentuk kupukupu yang melintang dari hi - dung ke pipi, ruam kemerahan di kulit, sariawan yang tidak kunjung sembuh, terutama di atap rongga mulut.

“Selain itu, nyeri dan beng - kak pada persendian, teruta ma di lengan dan tungkai; me nye - rang lebih dari dua sendi da lam jangka waktu lama; ujungujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin; nyeri dada, ter - utama saat berbaring dan me - na rik napas panjang; dan ke - jang atau kelainan saraf lain - nya,” beber dr Sumariyono.

Dia menambahkan, jika pa - sien mengalami minimal em - pat gejala dari seluruh gejala yang disebutkan, dianjurkan un tuk segera berkonsultasi de - ngan dokter di puskesmas atau rumah sakit agar dapat di perik - sa dan ditangani lebih lanjut.

iman firmansyah