Edisi 17-05-2018
Transplantasi, Terapi Utama Gagal Hati Kronis


TRANSPLANTASI hati merupakan terapi untuk gagal hati tahap lanjut. Gagal hati merupakan tahap akhir penyakit kronis hati, di mana memiliki beberapa gejala, antara lain kuning pada kulit dan mata, nyeri pada bagian perut atas kanan, perut buncit, mual dan muntah, muntah dan BAB darah, gangguan kesadaran.

“Transplantasi dibutuhkan ketika organ hati mengalami kerusakan dan tidak mampu lagi berfungsi. Cara ini merupakan terapi utama pada penyakit hati kronis dan kegagalan hati,” ungkap Spesialis Bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr dr Andri Sanityoso SpPDKGEH.

Kondisi ini terjadi akibat sejumlah penyakit, antara lain hepatitis B dan C, kanker hati, penyakit autoimun. Sementara pada anak-anak, kondisi ini umumnya karena kelainan bawaan semisal atresia bilier dan algille syndrome. “Hati atau liver yang awal nya sehat kemudian terinfeksi virus hepatitis (B atau C) sehingga menjadi hepatitis kronis yang berkembang menjadi fibroris, lalu sirosis.

Infeksi hepatitis menjadi fibrosis itu risikonya 15%-25%, lalu berkembang 30% menjadi sirosis dan 30% menjadi kanker hati. Inilah indikasi transplantasi hati,” papar dr Andri. Pada anak, penyebab terbesar adalah kelainan kongenital, yakni atresia billier. Transplantasi hati pertama kali dilakukan di RSCM pada 2010 pada satu pasien dewasa dan anak.

Pada 2010-2014, perkembangan transplantasi hati tidak terlalu pesat karena terbentur masalah medis, donor dan sebagainya sehingga hanya bisa dikerjakan pada 1-2 pasien setiap tahunnya. Namun, sejak 2015 sampai sekarang, perkembangan trans plantasi hati cukup pesat sehingga RSCM bisa mengerjakan rata-rata 8-14 pasien/tahun.

Jumlah pasien yang telah dikerjakan hingga kini adalah 47 pasien, terdiri atas 6 pasien dewasa dan 41 pasien anak. Selama delapan tahun, dari 47 pasien tersebut, angka bertahan hidup selama satu tahun setelah operasi adalah 87%. Sementara itu, semua donor berhasil dioperasi dengan baik dan tidak menimbulkan komplikasi.

Angka ini tidak berbeda jauh dengan luar negeri, misalnya di Jepang yang mencapai 89%. Hal ini sangat baik karena fasilitas yang ada di Indonesia belum semaju fasilitas di luar negeri. Setiap kasus gagal hati tahap lanjut yang terindikasi transplantasi hati memerlukan penanganan komprehensif dan multidisiplin.

Hal tersebut bisa dikerjakan dengan baik di RSCM, mengingat pengalaman penanganan pasien di sana selama delapan tahun terakhir. Pascaoperasi pun pasien akan terus diobservasi dengan baik dan ditangani secara komprehensif dan multidisiplin. Salah satu masalah pelak sanaan prosedur transplantasi hati di Indonesia adalah sulitnya menemukan pendonor.

“Ham pir semua gagal hati jawaban nya transplantasi hati. Permasalahannya adalah donor. Di Amerika Serikat saja, banyak kematian (akibat gagal hati) karena tidak ada donor. Di sana, sepertiga pasien menunggu donor,” beber Spesialis Bedah RSCM Dr dr Toar JM Lalisang SpB (K) BD.

Mereka yang mendonorkan hatinya harus memiliki hubungan darah dengan pasien untuk menghindari praktik jual-beli organ. Mereka juga harus memiliki kondisi tubuh dan hati yang sehat. Syarat pendonor di antaranya berusia 18-60 tahun.

sri noviarni