Edisi 04-06-2018
Panas Dalam Rentan Terjadi saat Berpuasa


PADA bulan Ramadan, risiko mengalami gejala panas dalam meningkat. Panas dalam mengacu pada penyakit di mana tubuh sedikit lebih sensitif terhadap panas, tenggorokan sakit, dan selalu haus.

Sebagian masyarakat yang mengeluhkan panas dalam kadang mengalami sariawan, tidak nyaman di pencernaan, dan bibir pecahpecah. Dokter spesialis penyakit dalam dari RS Sint Carolus, dr Laurentius Aswin Pramono SpPD MEpid menjelaskan, puasa memang mengubah proses metabolisme tubuh karena ada waktu di mana kita tidak makan. Masalah paling kerap ditemui adalah masalah kekurangan cairan dan mineral. Selain tidak teratur minum, beberapa kebiasaan kurang baik, seperti terlalu lelah dan banyak beraktivitas sehingga keluar banyak keringat, juga rentan menyebabkan dehidrasi. Kekurangan asupan cairan akan menyebabkan beberapa gangguan.

Selain menyebabkan dehidrasi atau yang orang sebut panas dalam, kekurangan cairan dan mineral rentan menyebabkan tubuh lemas dan mudah terserang penyakit lain. “Pada saat tenggorokan kering, bakteri atau virus akan mudah masuk ke tubuh,” ujar dr Aswin dalam Diskusi Puasa Nyaman Tanpa Panas Dalam yang diselenggarakan Larutan Cap Kaki Tiga. Gejala panas dalam dirasakan orang awam sebagai sumeng (suhu sedikit meningkat), kulit kering, bibir pecah, mulut kering, dan tidak nyaman di pencernaan. Untuk mencegah panas dalam saat puasa, dr Aswin menyarankan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan mineral alami selama puasa.

Membahas mengenai kebiasaan orang Indonesia yang berbuka biasanya dengan menyantap es dan gorengan, makanan sebenarnya tidak terlalu berkontribusi pada panas dalam. Boleh saja makan gorengan saat berbuka puasa, tetapi harus diimbangi dengan asupan cairan yang cukup dan mineral sebagai penyeimbang. Sementara itu, Ustazah Mamah Dedeh menjelaskan, untuk mencegah dehidrasi, Rasul menyuruh menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Tujuannya agar puasa kita tidak terlalu lama sehingga mengurangi risiko dehidrasi. Tetapi, jangan juga sahur mendekati waktu subuh.

“Minimal tiga menit sebelum azan subuh sudah berhenti makan,” kata Mamah Dedeh. Yuna Eka Kristina, Senior PR Manager PT Kino Indonesia Tbk, menjelaskan, Larutan Cap Kaki Tiga dapat menjadi solusi untuk mencegah panas dalam pada bulan puasa. Khasiat Larutan Cap Kaki Tiga sudah terbukti selama puluhan tahun. Larutan Cap Kaki Tiga mengandung gypsum fibrosum yang berfungsi mendinginkan tubuh dan mineral calcitum yang larut dalam air. “Kedua mineral alami ini sudah dikemas secara modern dalam Larutan Cap Kaki Tiga yang dapat dikonsumsi seluruh anggota keluarga,” ujar Yuna. Dr Aswin menambahkan, semua mineral alami memiliki peran penting dalam mengatasi dehidrasi. Selain untuk keperluan hidrasi, mineral seperti gypsum fibrosum dan calcitum berfungsi sebagai katalisator.

Di antara minuman sejenis, Larutan Cap Kaki Tiga adalah pelopor di Indonesia, sudah dibuat sejak 1937 oleh perusahaan asal Singapura, Wen Ken Drug Co (Pte) Ltd. Larutan Cap Kaki Tiga masuk ke Indonesia sejak 1978 dan sejak 2011 hak dagang dimiliki PT Kino Tbk. “Selama itu, formulasinya tidak pernah berubah. Saat ini Larutan Cap Kaki Tiga sudah teregistrasi di Badan POM dan sudah mendapatkan label halal dari MUI,” kata Yuna.

Sri noviarni