Edisi 04-06-2018
IMAA Tambah Juri demi Kualitas


AJANG Indonesian Movie Actors Awards (IMAA) tahun ke-12 akan kembali digelar pada Juli mendatang.

Tahun ini ada penambahan jumlah juri demi peningkatan kualitas penilaian pemenang kategori “terbaik”. Tahun ini juri yang biasanya hanya berjumlah lima tau enam orang menjadi tujuh orang. Mereka terdiri atas para sineas, produser, juga aktor, yaitu Marcella Zalianty yang memimpin dewan juri, diikuti Lukman Sardi, Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Robert Ronny, Marsha Timothy, dan Ario Bayu. Dewan juri akan menyeleksi 61 film yang edar pada 1 Maret 2017 hingga 28 Februari 2018. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang hanya melibatkan 47 judul film.

Dari situ, mereka memilih 5 hingga 12 nomine untuk sembilan kategori. Dewan juri akan memilih pemenang “terbaik” untuk delapan kategori. Sementara satu kategori “terfavorit” dipilih oleh pemungutan suara yang bisa diikuti masyarakat umum. Ketua Dewan Juri IMAA ke- 12 Marcella Zalianty menilai, meski dari segi tema film Indonesia masih kurang kaya, kualitas film di bioskop secara tidak langsung berhasil menarik animo masyarakat untuk datang ke bioskop.

“Saya melihat kebangkitan film nasional ini ditandai dengan antusiasme masyarakat kepada film Indonesia. Jumlah penonton naik secara signifikan dari tahun 2015 hanya 16 juta penonton hingga sekarang jumlahnya 42,7 juta. Karena itu, kehadiran IMAA Awards, secara sistematis, akan terus memperkuat dan meningkatkan kualitas film dalam kehadirannya di lingkup nasional dan mancanegara,” ucapnya saat jumpa pers IMAA 2018 di Tower 1 MNC Studios, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sementara Lukman Sardi mengaku adanya diskusi dan perdebatan yang cukup alot dalam menentukan nominasi IMAA 2018. Perbedaan latar belakang dari ketujuh juri membuat perdebatan menjadi seru.

“Yang director, melihatnya seperti apa. As an actor juga ngeliat seperti apa. Semoga hasil ini bisa berdampak baik bagi kualitas film nantinya,” tutur Lukman. Marsha Timothy yang untuk pertama kalinya didapuk menjadi salah satu juri IMAA sekaligus menjadi nomine untuk aktris terbaik mengaku percaya dengan sistem yang dibangun juri agar tetap objektif. “Untuk film yang saya main di dalamnya, saya tidak ikut menilai untuk nominasi apa pun yang berhubungan dengan (film) Marlina ,” tuturnya.

Ada empat kriteria yang harus dipenuhi nomine agar bisa masuk nominasi IMAA, yaitu difficulty atau tingkat kesulitan peran, believability atau tingkat meyakinkannya si tokoh dalam memerankan sebuah pernah, depth atau kedalaman, dan konsistensi sang aktor dalam berperan dari awal hingga akhir. Demi berkembangnya industri perfilman, Marcella menekankan perlu adanya ekosistem yang baik. Ini melibatkan kolaborasi antara sineas, organisasi perfilman, dan pemerintah. “Semua pihak juga harus memperbaiki diri agar kesempatan emas ini bisa terus dimaksimalkan,” ujarnya.

Direktur Program RCTI Dini Putri pun menyebut bahwa dunia film dan televisi - serta musik - punya hubungan erat dalam payung industri hiburan. “Sebagai satu kesatuan industri hiburan, (dukungan) itu sangat perlu untuk dilakukan. Hal ini penting buat kami untuk selalu mendukung perfilman Indonesia dengan harapan kualitas produksi film semakin baik dalam hal kualitas, dan dalam kuantitas semakin banyak film yang diproduksi,” ungkap Dini. Dengan konsistensi 12 tahun penyelenggaraan IMAA dan industri film yang terus bergerak, juga akan berdampak baik buat kualitas industri film.

Sebelumnya IMAA bernama Indonesian Movie Awards (IMA) lalu berubah konsep dengan hanya berfokus pada penilaian untuk para aktor/aktris serta pemilihan film terbaik. Untuk kategori “terfavorit”, voting dilakukan lewat SMS, Instagram, situs web, dan meTube. Voting dilakukan dari 30 Mei hingga 3 Juli mendatang. IMAA 2018 akan disiarkan langsung oleh RCTI dari studio 14 MNC Studio, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 Juli mendatang.

Thomasmanggalla