Edisi 12-06-2018
Dominasi PDIP Belum Goyah di Jawa


JAKARTA–Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih belum tergoyahkan di Pulau Jawa khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

PDIP masih menjadi jawara pada pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) 2019 mendatang. Sementara di Jawa Timur, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih memper tahankan tajinya dan di wilayah Ban ten diprediksi akan dikuasai Partai Gerindra. Gambaran pe ta ke - kuatan partai politik (par pol) di wilayah Jawa dan Banten itu setidaknya bisa di lihat dari ha - sil survei Charta Po litika Indo - nesia yang dirilis di Jakarta pada Rabu (6/6) lalu. Dengan waktu sisa pelak sa - na an Pemilu 2019 yang kurang dari satu tahun, diprediksi peta kekuatan parpol di wi la - yah Jawa dan Banten tidak akan banyak berubah.

Kekuatan politik di empat wilayah ter - sebut menarik untuk dibedah karena Jawa merupakan baro - meter politik nasional karena 60% lumbung suara nasional. Menilik hasil survei itu, ada beberapa pergerakan elek ta bi - litas parpol besar yang me na - rik untuk disorot. Di Banten, misalnya, jika pa - da Pemilu 2014 lalu, PDIP ke - luar sebagai juara dengan me - raih 989.329 suara, pada hasil survei Charta Politika di la ku - kan pada 23-29 Mei 2018 do mi - nasi PDIP terancam oleh Partai Gerindra yang meraih 20,6%, disusul Golkar meraup 15,0%, sementara PDIP me lorot di urut an ketiga seba nyak 14,%.

“Sayangnya, Banten ini sua ranya tergolong kecil di - banding Jawa Barat, Jawa Te - ngah, dan Jawa Timur,” ujar Di rektur Eksekutif Charta Po - li tika Yunarto Wijaya. Selain di Banten, perolehan suara PDIP di Jawa Barat juga me narik disoroti. Memang da - lam Pileg 2014 di Jabar, PDIP keluar sebagai juara de ngan meraih 4.159.411 suara. Na - mun, pada Pilpres 2014 jus tru pasangan Prabowo-Hatta yang mendominasi dengan meraih suara 14.167.381 atau 59,78%. Sementara pasangan Jokowi- JK saat itu hanya men dapat suara 9.530.315 atau 40,22%. Dalam survei terbaru, PDIP unggul jauh di Jabar dengan meraih 22,1%, disusul Ge rindra 14,7%, dan Partai Golkar 11,7%.

Kondisi ini linier dengan prediksi perolehan suara Pilpres 2019 jika head to head Jokowi-Prabowo. Jokowi ung - gul 46,1% sedangkan Prabowo 40,5%. “Inilah yang menjadi PR (pekerjaan rumah) Pra bo - wo yang dulunya Jabar men - jadi lumbung suaranya pada Pilpres 2019,” tutur Yunarto. Berbeda dengan di Jateng yang sejak dulu menjadi basis par tai Moncong Putih itu. Pada Pe milu 2019 nanti, suara PDIP di Jateng bakal kembali do mi nan dengan perolehan suara 38,3%, di susul PKB 10,0%, dan PPP 7,1%. Yunarto menye but kan, Ja - teng me mang berbeda ka rena dari dulu selalu dimenang kan PDIP.

“Wi layah Jateng ini PDIP terlalu dominan sehing ga kurang kompetitif,” katanya. Sementara di Jawa Timur, PKB yang pada Pileg 2014 lalu keluar sebagai juara, pada Pileg 2019 nanti juga diprediksi bakal kembali menunjukkan dominasinya dengan memperoleh suara signifikan sebanyak 25,1%. Kemudian di urutan ke dua dan ketiga masingmasing ditempati PDIP 20,3% dan Partai Gerindra 10,0%. “Jatim ini dari dulu kita kenal sebagai basisnya suara Nah dli - yin sehingga politik kultural - nya sangat kuat. PKB adalah partai yang identik dengan ba - sis suara NU,” tutur Yunarto.

Survei tersebut untuk me - ngetahui preferensi politik masyarakat di empat provinsi di Pulau Jawa menjelang Pil - gub 2018, Pilpres, dan Pileg 2019. Empat provinsi menjadi sasaran karena menjadi kunci perolehan suara. Proses pe - ngumpulan data dilaksanakan pada 23-29 Mei 2018 melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan meng - gunakan kuesioner ter struk - tur (structured interview). Total responden mencapai 4.400 dengan rincian, 800 res - ponden dari Provinsi Banten dan 1.200 responden masingmasing dari tiga wilayah. “Usia minimum responden 17 tahun atau sudah memenuhi syarat pemilih,” katanya.

Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan, ketika membaca survei ini me nun - jukkan ada kemajuan dari upa - ya Jokowi memperluas penga - ruhnya. Terkait masih ren dah - nya elektabilitas Jokowi dan PDIP di Banten, menurut Eva, hal ini menjadi tantangan se - hingga perlu kerja ekstra. “Mungkin karena belum ba - nyak proyek di Banten yang bisa dikapitalisasi menjadi pen - dong krak suara. Mungkin Pak Jo kowi harus banyak kunjungan seperti dilakukan di Jabar dan dialog. Perlu ada stra tegi khu sus untuk meng garap to - koh-tokoh di Banten,” katanya.

Abdul rochim