Edisi 12-06-2018
Idul Fitri


MENJELANG berakhirnya Ramadan pun umat Islam di seluruh pelosok dunia masih memperlihatkan gairah keberagamaan yang terjaga.

Gairah keberagamaan ini tam pak sebagai manifestasi nilai-nilai Ramadan yang di - jalani selama satu bulan. Sebuah nilai yang mewujud da - lam laku sehari-hari. Dan kini Idul Fitri menjemput. Puasa adalah ibadah spe - sial. Karena itu, melalui Rasul- Nya, Tuhan mene gas kan bahwa seluruh amal dan karya iba - dah umat manusia adalah untuk mereka, ke cua li puasa, karena ibadah puasa mus - limin itu adalah untuk Aku, dan hanya Aku-lah yang bisa mengukur imbalan pa ha la - nya.

Bersamaan dengan itu iba dah puasa juga sangat spesial. Tuhan pun meng gu na - kan kata al-shiyam, ketika menyampaikan perintah-Nya itu, yang artinya, umat Islam diperintahkan tidak hanya melaksanakan ibadah puasa dengan baik, tapi juga men - trans formasikan nilai-nilai spi ritual puasa pada aspek ke - hidupan profesi dan sosial se - hingga mencapai ke tak waan yang holistik dan sem purna. Setidaknya ada dua nilai spiritual yang amat berharga dari ibadah puasa, untuk di - transformasikan pada ke hi - dupan profesi dan sosial, yaitu integritas, dan per sau - da ra an universal. Keduanya amat berharga untuk pem - ba ngunan bangsa saat ini.

Integritas

Ibadah puasa dikerjakan oleh setiap muslim karena diperintahkan oleh Tuhan, dikerjakan dalam peng awas - an Tuhan, dan didedikasikan hanya untuk mendapatkan rida-Nya. Dalam rentang wak tu 14 jam berpuasa, sela - lu ada kesempatan untuk me ru sak ibadah tersebut, tapi kita mampu menjaga itu se mua. Berbagai godaan yang akan membatalkan pua sa selalu ada, godaan yang akan mengurangi nilai ibadah puasa selalu datang menghampiri, bahkan ter - akhir godaan datang dari da - lam diri sendiri, dengan ke - ingin an hawa nafsu untuk men dapat penilaian positif dari orang lain.

Tapi, kita mam pu menahan semua go - da an tersebut, hanya karena Allah SWT. Pada titik inilah nilai spi - ri tual ibadah puasa amat ber - harga dan diperintahkan Tu - han untuk ditrans for ma si - kan pada profesi dan kegiat - an sosial. Sebagai profesio - nal, setiap manusia selalu be - kerja agar berprestasi yang diukur dengan capaian tar - get kinerja, sehingga tun - jang annya naik dan promosi jabatan terbuka. Jika ada di antara umat Islam memiliki frame of thinking seperti ini, mereka akan merugi karena reward dunia akan diperoleh sesuai capaiannya, tetapi secara eskatologis dia tidak memperoleh apa-apa.

Oleh sebab itu, Tuhan me merintahkan untuk spi ri - tualisasi profesi, yakni be - ker ja dari Tuhan, bersama Tu han, dan untuk Tuhan. Sis tem berpikir seperti ini pu lalah yang akan men ja di - kan pekerjaan profesi dan so - sial bernilai spiritual, bahkan dapat menjauhkan negara dan bangsa ini dari gra ti fi ka - si, korupsi, tidak berdisiplin, dan sebaliknya akan men do - rong kreativitas serta ino va - si. Hal itu karena Tuhan itu se la lu ada di hati mereka, men dorong mereka berkar - ya serius, dan mengontrol ber bagai penyimpangan yang mungkin terjadi.

Persaudaraan Universal

Dalam menyempur na - kan ibadah puasa, umat Islam diperintahkan untuk berbagi, baik dalam konteks ber buka maupun pem bayar - an zakat fitrah sebagai wujud cinta kasih dalam bingkai per saudaraan. Berbagi sa - ngat penting dalam Islam dan Tuhan menjadikannya se bagai kualifikasi keimanan seseorang. Bahkan untuk za - kat fitrah, boleh di dis tri bu si - kan pada masyarakat non - mus lim yang tidak mampu. Nilai agung Ramadan ini di - perintahkan Tuhan untuk di - transformasikan pada ke hi du - pan berbangsa dan ber ne gara, bahwa sesama se aga ma harus saling kasih, tidak boleh saling membenci, apa lagi me na kutnakuti, meng ancam, bah kan membunuh tanpa alas an hukum.

Islam adalah aga ma ka - sih, bukan agama per mu suh - an. Dalam ajaran Islam, “S e lu - ruh umat Islam adalah saudara dan be lum beriman seseorang sebe lum bisa mencintai sauda - ra nya se ba gaimana dia men - cin tai diri nya sendiri.” Demikian pula dengan sau dara-saudara yang tidak segama, harus saling kasih dan saling melindungi satu sama lain, karena semua umat manusia terlahir dari leluhur yang sama. Dengan demikian, mengembangkan per satuan dan kesatuan, tanpa mem per - ha tikan per be da an agama, etnik, dan bu daya yang men - jadi modal dasar pem ba ngun - an adalah perintah Tuhan.

Pada akhirnya, mo men - tum Idul Fitri ini menjadi sa - ngat penting untuk in tro - speksi diri dalam rangka kem - bali pada asal kejadian ma - nusia, yakni mengabdi ha nya kepada Tuhan, baik me lalui iba dah ritual, pro fe sio nal, mau pun sosial, serta me - ngem bangkan persatuan dan ke satuan yang keduanya men jadi modal dasar dalam pemajuan bangsa ke depan.

Dede Rosyada
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta