Edisi 12-06-2018
Dari Teknologi ke Ternak Babi


ADAbanyak bisnis aneh dan unik yang dijajaki perusahaan internet sukses di China. Terkadang hal tersebut bisa jauh berbeda dari bisnis awal mereka.

Salah satunya NetEase, perusahaan penerbit game skala global yang berinvestasi di bisnis peternakan babi. Ini karena pendiri NetEase, William Ding Lei, sangat peduli terhadap ketahanan pangan negaranya. Tidak puas dengan menjadi miliarder video game , Ding mengeksplorasi pertanian organik. Rencananya untuk memberi insentif kepada ratusan juta petani pedesaan yang telah meninggalkan ladang mereka yang tidak efisien ke kotakota pabrik China untuk kembali ke desa. Lalu, mereka menghasilkan makanan berkualitas dengan upah layak sehingga modal mengalir ke pedesaan. Tahap awal adalah peternakan babi di Provinsi Zhejiang sejak delapan tahun lalu.

Dari perusahaan game bergengsi menjadi perusahaan ternak babi. Bagaimana kata pengguna NetEase? Menurut Ding, bisnis peternakan hewan NetEase beroperasi terpisah. Produksinya pun lebih banyak babi berbulu hitam yang dianggap sangat lezat di China. Babi pun bukan satu-satunya usaha Ding di luar industri game . Dua tahun lalu, seorang karyawan mendatanginya untuk meminta dana menerjemahkan video pendidikan ke bahasa Mandarin. Ding mulai mencari pendidikan online dan menyadari bahwa semakin banyak universitas AS yang mem-posting kelas mereka secara online dan gratis. Dia lantas mengumpulkan tim untuk menambahkan video terjemahan ke portalnya dan mengembangkan aplikasi untuk pengguna seluler.

Dengan anggaran sederhana USD1,6 juta, NetEase telah menerjemahkan 8.000 jam kelas di kampus-kampus Amerika dan semuanya gratis untuk ditonton. Ding menggambarkan bagaimana video bergaya open university itu sebagai cara perusahaannya membantu 538 juta pengguna internet China. “Saya sangat bangga dengan proyek ini. Kami tidak mendapatkan pemasukan dari iklan. Tetapi, banyak orang China dapat menonton berbagai kelas kapan saja mereka suka,” katanya. Ding juga mengkritik sistem pendidikan China sebagai sesuatu yang kolot. Sebab, upayanya itu ternyata mendapat banyak pertentangan dari instansi edukasi di China.

Kebalikan, pujian dan antusiasme dia dapat dari universitas seperti Harvard dan MIT. “Para CEO China tidak seperti CEO Amerika, yang bisa mendapatkan lebih banyak rasa hormat. Di China, pemerintah lebih kuat,” kata Ding.

Danang