Edisi 12-06-2018
Nokia 8 Mengejar Ketertinggalan


MEREK Nokia telah dan masih menancap begitu dalam ke mindset konsumen di Indonesia. Sebagian dari mereka masih punya harapan besar: ingin agar merek Nokia kembali harum. Kembali jadi nomor satu.

Namun faktanya, Nokia yang kini dikuasai HMD Global adalah versi reborn alias terlahir kembali. Nokia yang menggunakan Android. Mungkin “asing” bagi pengguna lamanya, tapi meminta mereka “beradaptasi” hingga bisa “menerima” produk serta wajah baru mereka. Dari Nokia 2, Nokia 3, Nokia 5, dan Nokia 6 yang sudah diluncurkan di Indonesia, Nokia 8 sebagai model paling high end bisa jadi produk yang menarik. Dalam unitnya, kita mendapat 1 unit Nokia 8, kepala charger Quickcharge 3.0, kabel data USB Type-C, SIM ejector, headset, serta buku panduan dan garansi. Ada dua warna tersedia, polished blue (biru) dan steel (silver). Baliklah, di kelas flagship dan sebelum Asus mengenalkan Zenfone 5z, Nokia 8 termasuk hadir dengan harga kompetitif Rp6,5 juta.

Jadi ini tentu perlu diapresiasi. Saat diluncurkan, SnapDragon 835 praktis hanya dimiliki LG V30 Plus, itu pun dibanderol dengan harga double digit . Hal yang disukai dari desainnya adalah full metal unibody memang solid. Desain juga kokoh. Unibody dibangun dalam satu balok alumunium utuh sehingga teorinya durabilitas -nya juga tinggi. Berdimensi 151,5×73,7 mm dengan ketebalan 7,9mm dan bobot 160 gram, bodinya dibentuk dari satu balok aluminium seri 6000. Ada kaca 2.5D Gorilla Glass 5 di bagian muka. Selain Nokia 8, Nokia 3, 5, dan 6 pun menggunakan unibody . Tapi, jelas Nokia 8 berada di kelas premium berbeda. Faktor build quality ini yang didengungkan sebagai kampanye marketing Nokia saat ini.

Sayangnya, untuk ponsel high end , layar Nokia 8 masih menggunakan rasio 16:9 memang sudah tidak ngetren . Tapi ini wajar, karena ponsel tersebut lahir pada 2017 ketika ponsel Rp2 jutaan belum menggunakan perbandingan 18:9. Akan tetapi, resolusi layarnya sebenarnya masih sangat baik dengan QHD 2560x1440p. Dengan ukuran layar relatif kecil, 5,3 inci, maka ponsel ini cocok bagi mereka yang nggak ingin ribet dengan layar gede. Bodinya cukup ramping dengan ketebalan 77,4 mm. Sisi bagian atas dan bawah terdapat strip bermaterial plastik yang tentu berfungsi sebagai celah sinyal. Hatihati karena lover belakang rentan tergores. Bodi bertekstur kaca juga sedikit licin dan gampang kotor oleh bekas sidik jadi, tapi sudah tersolusi lewat penggunaan casing .

Soal menunya, terus terang stok Android Pure Stock 8.0 Oreo ini kurang begitu cocok dengannya. Ya, banyak yang memfavoritkan OS ini sebagai Android murni. Langsung dari Google, tanpa ada sentuhan pihak ketiga. Android murni ini membuat kinerja RAM jadi minimal, ponsel jadi cepat, dan irit baterai. Tapi, tetap saja akhirnya mengunduh Google Launcher agar tampilannya lebih nyaman di mata dan di tangan. Menariknya, memang desain Nokia ini berkarakter. Bisa jadi bukan untuk semua orang. Tapi, penggemar Nokia pasti bisa menghargai karakter desain seperti ini.

Desain bergaya old school , aristokrat, kaku, tapi tetap elegan, seperti mobil Eropa, Volvo atau Peugeot. Lihat saja sensor dual kamera di belakang yang disusun vertikal dan frame modul kamera tipis memanjang. Desain ini dipertahankan sejak Lumia hingga saat ini. Ada logo Zeiss, juga logo Nokia terpasang vertikal. Simpel tapi menarik. Tombol fingerprint berbentuk persegi panjang tipis dikombinasikan dengan home button . Tombol power dan volume berada di sisi kanan, slot SIM Card berada di sisi sebelah kiri. Di bagian bawah terdapat slot USB Type C dan juga grill speaker . Sementara di bagian atas, Nokia tetap menyediakan lubang Jack 3,5 mm untuk microphone . Rasanya Nokia 8 masih sangat relevan bagi mereka yang menyimpan kenangan dengan Nokia.

Mereka merasa ingin tampil beda. Ya, dengan posisinya saat ini jelas Nokia masih menyisir konsumen segmented . Mereka berupaya berjalan dengan kemauannya sendiri melawan tren pasar di Indonesia, tapi masih belum mampu dan tidak punya resource menciptakan tren sendiri seperti yang dilakukan Samsung sebagai pemimpin pasar. Ke depannya kita tetap menantikan terobosan baru dari Nokia. Jika mereka mau sukses di pasar Indonesia, mereka juga harus melangkah cepat di pasar Indonesia.

Danang