Edisi 12-06-2018
Tangsel Garap Bisnis Limbah dan Air Bersih


TANGERANG–Perkembangan ekonomi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, berlangsung cepat. Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany membentuk BUMD yang diberi nama PT Pembangunan Investasi Tangsel (PIT) pada 2013 lalu.

Namun, perjalanan PT PIT sebagai badan usaha daerah tidak berjalan mulus. Dalam lima tahun pertamanya, BUMN yang dibangun dengan nilai investasi Rp88 miliar itu belum bisa sharing PAD Kota Tangsel. Direktur Utama (Dirut) PT PIT Dudung E Diredja mengatakan, pendirian PT PITS memiliki dasar hukum tetap Peraturan Daerah (Perda) Kota Tangsel No 2/2013 tentang Pembentukan PT PITS. “Saat awal pembentukannya, pertumbuhan ekonomi di Kota Tangsel sangat tinggi, di bawah Kutai Kertanegara, mencapai 8%. Ini menandakan ada potensi dan peluang bisnis yang besar,” kata Dudung kemarin.

Dalam perda itu diamanatkan tugas PT PIT mencakup tiga hal. Pertama , membantu pemerintah daerah dalam hal pelayanan publik. Kedua , sharing untung terhadap pendapatan asli daerah (PAD). “Ketiga , meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam perekonomian. Amanah ini dijabarkan PT PITS dengan rencana jangka panjang perusahaan (RJPP),” ujar mantan Sekda periode 2010-2015 ini. Dalam RJPP-nya, ada tiga pilar utama unit usaha PT PITS, yaitu di bidang infrastruktur, properti, dan perbankan. Ketiga bidang itu memiliki progres masing-masing. Bidang perbankan, misalnya, PT PITS akan membangun Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Hal ini dinilai sejalan dengan tagline Kota Tangsel yang Cerdas, Modern, dan Religius (Cimori).

“Untuk bidang perbankan, sekarang sedang diproses OJK untuk pemb en tuk - an BPRS. Seleksi direksi sudah dilakukan dan saat ini sudah ada di meja OJK. Pem - bentukan BPRS butuh investasi Rp48 miliar,” paparnya. Kini PT PITS akan mengucurkan modal awal sebesar Rp12 miliar untuk pem ben tukan BPRS sesuai syarat yang diaju kan OJK. Tahun 2019 diharapkan pem ben tukan BPRS dilakukan. “Di bidang perbankan ini, kami telah mendapat ca lon pe me gang saham. Sebab, aturan pe me rintah itu, 70% sahamnya harus di-holding dan 30% harus dilepas ke swasta,” ucapnya. Sedangkan, unit usaha properti baru akan digarap tahun depan. Padahal, sektor ini yang terbesar di Kota Tangsel. Hampir sekitar 80% Kota Tangsel diisi bisnis jasa dan properti pengembang besar.

“Kalau properti, kami sedang meminta pemda untuk tanah idle , di Ciputat dan dekat Pasar Modern, BSDCity. Tetapi, itu juga harus melalui proses perda yang ada di tangan DPRD Tangsel,” paparnya. Tanah idle atau barang milik negara (BMN) di Kota Tangsel bisa digunakan PT PITS untuk meringankan beban anggaran yang harus dikeluarkan. Pemakaian tanah idle , menjadi solusi pengembangan ini. “Kalau untuk infrastruktur, di dalamnya ada pengelolaan air, pasar, limbah, dan transportasi transporter. Divisi air dan pengelolaan limbah serta transportasi sudah terbentuk pada 2017,” ungkapnya.

Lagi-lagi, perda menjadi tantangan besar yang harus dihadapi PT PITS untuk bisa bekerja dengan maksimal. Belum adanya perda tentang penyerahan aset daerah, pengelolaan pasar menjadi sukar digarap. “Sebetulnya tidak masalah, tinggal proses pengalihan aset itu menjadi penyertaan modal oleh pemda ke PT PITS, karena hanya menunggu penyerahan aset ke kota dan tinggal perdanya,” bebernya. Meski demikian, saat ini sudah beberapa pasar yang bisa dikelola PT PITS, terdiri dari pasar yang ada di Bintaro dan Serpong. Saat ini prosesnya sedang dikaji pemda menjadi penyertaan modal. Plt Kepala Divisi Pengelolaan Sampah dan Transportasi PT PITS Sugeng Santoso menyelak, pada divisinya, bisnis yang sudah berjalan dengan baik pengolahan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah B3 ini merupakan sampah rumah sakit yang sangat berbahaya bagi masyarakat. Divisi limbah PT PITS punya alat pemusnahan limbah medis yang sangat dibutuhkan pihak rumah sakit. “Di divisi limbah, kami memiliki bisnis insinerasi atau pembakaran sampah atau insenerator. Tetapi yang utama bisnis kita adalah limbah medis. Di situ ada potensi bisnis yang sangat besar,” ungkapnya. Hingga kini sudah ada lima RS besar yang bekerja sama dalam pengelolaan limbah medisnya dengan PT PITS. Termasuk, limbah medis yang ada di seluruh klinik dan puskesmas di seluruh Kota Tangsel.

“Untuk pemusnahan limbah medis, kami sudah bekerja sama dengan Dinkes dan RS swasta, ada sekitar lima RS. Setiap harinya kami bisa mengangkat limbah medis hingga 3 ton seluruhnya,” katanya. Dia menjelaskan, pengelolaan limbah medis ini sangat menguntungkan. Meski terbilang baru tahun ini, PT PITS sanggup meraup untung dari pengolahan limbah medis per bulannya mencapai Rp140 juta. Berbeda dengan divisi sampah, Plt Kepala Divisi Pengelolaan Air Minum PT PITS Ruhamaben yang ikut menimbrung me - nyatakan, pihaknya telah mengucurkan investasi senilai Rp6,5 miliar. Anggaran itu digunakan untuk membeli air bersih curah kepada PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang untuk disalurkan ke Perumahan Vila Dago Tol dan pusat pemerintahan Kota Tangsel.

Kemudian, Rp2 miliar lagi sehingga totalnya Rp6 miliar untuk penyaluran air ke kawasan perumahan lainnya. Bisnis air bersih yang baru dijalankan setahun lalu itu hingga kini terus tumbuh dan berkembang. “Kalau di divisi air, kami baru mulai pada akhir 2017. Jadi, saat ini belum bisa dilihat tra f fi c -nya. Tapi ini suatu kemajuan. Dua tahun sebelumnya, sektor usaha ini belum menghasilkan apapun,” ujarnya. Dia melanjutkan, pengelolaan bisnis air bersih tidak bisa seperti orang yang membalik telapak tangan. Semua butuh proses yang panjang dan peluangnya di Kota Tangsel sangat besar.

“Coba bayangkan, kita cuma punya uang untuk sektor air bersih Rp6,5 miliar. Kami membangun infrastruktur jaringan Rp4,5 miliar ke Vila Dago dan Pemkot. Tetapi, saya bisa menarik investor Rp370 miliar,” tuturnya. Dari semua divisi itu, Direktur Utama (Dirut) PT PITS Dudung E Diredja kembali menyambung, PT PITS akan memberikan yang terbaik bagi Pemkot Tangsel, meski hari ini pihaknya masih sharing PAD 0%. “Kami optimistis, tahun 2019 grafiknya naik,” paparnya. Apalagi, saat ini unit bisnis PT PITS yang baru berjalan hanya beberapa, mulai pengelolaan air, transportasi insenerator dan pemusnahan limbah medis. Meski sedikit, sudah berjalan.

Hasan kurniawan