Edisi 08-07-2018
Pelajaran Hidup tentang Melepas Belenggu Dendam


Hidup terus bergerak maju. Namun, terkadang tanpa sadar seseorang tersandera di titik hitam tertentu akibat kemarahan, kebencian, atau dendam yang tak berkesudahan.

Belenggu itu membuatnya membesarbesarkan masa lalu kelam yang sejatinya tidak seberapa penting. Dunia kemudian menjadi terasa menyempit dan hidup pun menjadi pengap dan tak berkembang.

Buku ini menghimpun kisah orang-orang yang berhasil me lepaskan belenggu dendam dengan berjuang mewujudkan kekuatan memaafkan. Kisah-kisah yang sarat pelajaran hidup dalam buku ini berhasil menunjukkan bahwa ternyata memaafkan itu dapat mengantarkan pada kebebasan dan membuat hidup lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak relasi antarmanusia yang terjalin dengan intensitas berbeda-beda mulai dari keluarga, tempat kerja, tetangga, dan lainnya. Setiap relasi menyimpan potensi masalah yang dapat menyulut kemarahan, kebencian, dan dendam. Keluarga adalah salah satu ruang yang berpotensi memantik konflik.

Kadang sifatnya cukup samar sehingga tak terasa langsung. Kadang konflik dalam relasi keluarga ditekan sehingga tak muncul ke permukaan. Namun, bagaimanapun relasi yang tidak sehat itu bisa memicu perilaku buruk bawah sadar. Ferida Wolff, salah satu kontributor dalam buku ini, berkisah tentang ayahnya yang perfeksionis.

Pernah suatu kali saat usia sekolah ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan ayahnya. Karena Wolff mengalami kesulitan dengan pelajaran matematika, ayahnya sempat mengeluarkan kata-kata menghunjam perasaannya. Sejak itu, ia tidak pernah minta bantuan ayahnya lagi.

Kemarahan pada orang tuanya karena telah menempatkannya dalam posisi selalu menciut itu membuatnya minder. Bahkan, bertahun-tahun kemudian ia mengalami depresi setelah melahirkan. Pada saat itulah ia mendatangi konselor dan terungkaplah kemarahannya yang belum tuntas itu.

Saat itu, ayahnya sudah lanjut usia. Wolff menemui ayahnya dan meminta maaf saat mereka berbincang tentang masa lalunya. Wolff terbebaskan. Ia juga membangun cinta lebih dalam dengan ayahnya. Lebih jauh, ia juga mendapatkan pelajaran tentang bagaimana seharusnya ia membesarkan anak-anaknya (hlm. 19-21).

Ada juga kisah tragis Diane Nichols yang dikhianati suaminya yang selingkuh. Saat perselingkuhan terungkap, suaminya menembak mati perempuan selingkuhannya sehingga sang suami diganjar hukuman penjara delapan belas tahun hingga seumur hidup. Sejak itu, hidup Nichols dengan kedua anaknya jadi kelam.

Kepedihan hidup tak mampu disembuhkan oleh konseling yang ia jalani atau alkohol dan obat tidur yang dia konsumsi. Ia sampai berpikir tentang bunuh diri. Namun, suatu malam dia mendapatkan pencerahan. Cara untuk menghentikan kepedihan adalah dengan memaafkan, pikirnya.

Kesadaran untuk memaafkan, yang ia dapatkan dan wujudkan dengan penuh perjuangan, baginya adalah serupa mukjizat bagi anak-anaknya dan juga untuk dirinya sendiri. Ia membebaskan dari masa lalu, melepaskan semua kepedihan, dan membuka masa depan yang cerah (hlm. 165-169).

Kisah inspiratif lainnya adalah tentang Jean Morris yang menaruh dendam pada June Johnson gara-gara anaknya sering diserang secara emosional oleh June. Dendam membuatnya menghindar untuk bertemu. Karena June mengikuti kelas aerobik pagi, Jean mengikuti kelas sore. Tapi, Jean akhirnya malu sendiri.

Karena ternyata anaknya hingga dewasa sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan emosional June. Dalam sebuah pembicaraan dengan anaknya bertahun-tahun kemudian, Jean tahu bahwa anaknya tidak ada masalah dengan perlakuan June. Saat itulah, Jean merasa bahwa ia selama ini terkungkung oleh perasaan dendamnya.

Lalu muncullah kesadaran untuk memaafkan (hlm. 236-239). Dalam kisah yang lain, memaafkan kadang tampak tak masuk akal. Tapi kekuatan dari dalam diri seseorang kadang sanggup menerobos dinding tebal yang menutupi pintu maaf itu. Kisah Immaculée Ilibagiza, seorang penyintas Genosida Rwanda, yang memaafkan pembunuh keluarganya termasuk Suku Tutsi mengejutkan banyak orang.

Namun Immaculee berkata: “Kebencian telah merenggut semua yang ku cin tai dariku. Hanya pengampunan yang tersisa yang bisa kutawarkan” (hlm. 334-338). Kisah-kisah dalam buku ini memberi pelajaran penting bahwa kemarahan, kebencian, dan balas dendam, sebenarnya hanyalah akan menyakiti diri sendiri. Dengan memaafkan, hidup akan lebih berdaya dan bermanfaat.

Namun, penting dicatat bahwa kekuatan memaafkan yang dibicarakan dalam buku ini lebih dalam konteks kehidupan sehari-hari sifatnya sederhana dan bersifat personal, bukan dalam konteks politis yang lebih luas. Meski begitu, buku ini tetap bernilai penting untuk disimak bersama.

Buku ini tidak saja memberi pelajaran tentang perjuangan untuk move on dari pengalaman hidup yang pahit dan tak sesuai dengan harapan. Pada sisi terdalam, buku ini menegaskan bahwa memaafkan adalah ungkapan terdalam dari kekuatan cinta.

Hidup yang dijalani dengan penuh cinta akan mengantarkan pada kebahagiaan, sedangkan hidup yang diliputi dengan kebencian hanya akan membiakkan kegundahan.

m mushthafa

dosen institut ilmu keislaman annuqayah, guluk-guluk,