Edisi 08-07-2018
Puisi dan Penyair


Puisi, barangkali merupakan sebuah wilayah baru yang membuka suatu medan tata bahasa. Kata-kata dalam puisi merupakan endapan, pembaruan dari gaya tulisan yang selama ini terekam dalam tebalnya buku.

Dalam sebuah kalimat panjang di buku-buku tersebut, kata-kata jadi canggung dipenuhi dengan beban yang ada. Sedangkan, dalam puisi hal itu berbeda. Dengan meminimkan kata, menyama-kan koheresi bunyi, akan mengendapkan suatu tata bahasa baru. Maka, kiranya tak berlebihan jika puisi merupakan bentuk pertama manusia belajar mengenal bahasa.

Penyair, sebagai individu yang bergelut di ruang kreativitas itu, tidak akan dengan serta-merta menuliskan semua riwayat yang ada. Mungkin, ia bisa menghasilkan banyak diksidiksi. Meski, ia hanya menangkap sepotong saja bauran realitas yang ada di sekeliling.

Meski ia bekerja seperti halnya para peneliti mengumpulkan data-data untuk ditelaah, dibedah dalam penelitiannya. Pencatatan kata-kata itu, bukan hanya ditorehkan dalam selembar kertas yang tentunya akan bisa menjadikan sebuah noktah ”hitam di atas putih”. Puisi membaginya dalam beberapa frasa.

Kata-kata dengan ligat dipenggal, disusun ulang, dan dimainkan rimanya. Terkadang, kita menemui seorang penyair yang begitu produktif menuliskannya, tetapi saya yakin sebenarnya dalam puisi yang serba tergesa itu pun terdapat ketajaman mata.

Setidaknya, si penyair telah menjalani semuanya, telah mengendapkan pengalaman hidupnya, telah mengumpulkan semua riset yang akan disusun dalam puisinya. Ruang kerja penyair tak terbatas, begitu luas. Puisi sampai sekarang pun masih ditulis. Setidaknya, oleh orang-orang yang meyakini bila yang ditulisnya itu adalah sebuah puisi.

Meski sesungguhnya puisi yang sejati bersarang di kepala si penyair. Namun, tampaknya kecenderungan berbahasa, dengan penggunaan kaidahkaidah bahasa yang selalu disempurnakan dan dibakukan hampir tiap tahunnya, telah meninggalkan penyair dalam biliknya.

Walaupun pada prinsipnya kata-kata dalam puisi telah memenuhi pengertiannya sendiri. Sepotong puisi akan selalu hidup dan abadi, apabila ia lengkang dan menemui celahnya. Artinya, puisi akan abadi apabila ia rela untuk berkompromi dengan waktu. Ia tak ikut dalam gejolak zaman.

Sutardji Calzoum Bachri, menulis, jika puisi bertindak bukan sebagai budak zaman. Maka, ketika orang bersikukuh bila karya sastra yang baik harus merupakan cerminan dari realitas secara utuh, mungkin tak ada salahnya. Namun, bukan berarti karya sastra tersebut harus ”mencontek” habis-habisan realitas yang ada.

Dalam posisinya, puisi merupakan suatu tonggak dalam kesadaran berbahasa. Dengan beberapa patah, ia telah melakukan kerja yang deras, semacam membedah kosakata lama dan menguapkan suatu pembaruan. Setidaknya, hal ini terjadi pula dalam tradisi masyarakat Indigenous di Amerika.

Puisi telah membuka dan merekatkan keintiman mereka dalam berucap, sekaligus bertindak. Proses pencarian penyair tak akan habis. Penyair bagaikan seorang yang berdiri di tengah-tengah kecongkakan masyarakatnya. Tetapi dengan caranya sendiri, si penyair menggeledah realitas beku di sekelilingnya, seperti tetesan air yang terus menerus jatuh ke atas sebuah batu, sampai berlubang.

Kerja penyair yang semestinya terus bergerak dan mengikuti perubahan zaman itulah, membentuk kerinduan akan sebuah bunyi. Dalam sebuah karya klasik di Indonesia, perihal Serat Centini, yang merupakan sebuah ”proyek” budaya dari Sri Sunan Paku Buwana V, terdapat fragmen seperti ini: dedaunan yang kering itu terinjak hingga berirama gemerisik.

Ranting-ranting kering patah gemeretak, lalu dipotong-potong dilempar jauh begitu saja. Seperti pada biasanya, dijadikan benthik lalu dipukul kayu yang menumpanginya hingga berbunyi plethok-plethok mereka lalu berebut hingga menghambat jalan.

Identitas puisi memang seperti lenyap dalam fragmen tersebut. Mungkin, tidak akan bisa dengan segera tertebak, bila tulisan itu lekat dengan nuansa Jawa. Itulah sebabnya, Goenawan Mohammad, menulis sebenarnya hal ini pun merujuk pada larik puisi Sitor Situmorang, ”Penyair sebagai orang tanpa batas.

Tak memunyai tanah.” Sama dengan sebuah kumpulan esai yang ditulis Subagio Sastrowardoyo, ”Pengarang Sebagai Manusia Perbatasan”. Lalu, benarkah puisi dapat dengan cepat melesap seperti anak panah? Melewati batas wilayah, budaya setempat, meski secara garis besar ia masih berakar dari sana? Meski pada beberapa penyair, begitu menyeruak semangat nasionalisme yang kental sehingga memaksa ia menulis puisinya dengan menggunakan kata-kata Indonesia yang dibakukan.

Terkadang, hal itu juga perlu, namun pada beberapa larik (mungkin) akan terasa tidak begitu pas. Pada puisipuisi yang ada di media massa sekarang, tampak kembali para penyair mengulang ke masa lalu. Dengan menekankan koheresi bunyi, pertautan makna, dan lambang-lambang alam yang selalu diulang-ulang.

Perkawinan antara budaya dari luar yang masuk, maupun apa yang tertinggal di dalamnya, mulai membuka peluang untuk memberi permaknaan baru terhadap ”tradisional” dan ”modern”. Tentu, penyair harus sigap menerimanya. Dengan tidak mengijonkan masa depan demi teknologi yang sedang berkembang tersebut.

Kekuatan akal, bagi penyair, memang harus didukung dengan nurani. Setidaknya hanya itu yang tersisa. Sebab, bagaimanapun puisi akan terus merayap, melakukan semacam percikan perubahan, terhadap geliat zaman. Sehingga ia tak perlu merasa terkungkung dan tenggelam di dalamnya.

Tonggak pencapaian yang baru harus tetap dikerjakan. Sebab, penyair perlu belajar banyak pada segala hal. Pada apa saja, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, kerja-kerja kepenyairan tidak pernah berhenti di atas meja tulis, ketika si penyair menuliskan beberapa larik kata di sebuah kertas.

Ia harus menelusur pada kerja lainnya, untuk menghidupkan segala percikan di dalam kepala. Kata-kata yang berasumsi dengan teknologi, semacam komputer, telepon, SMS, ponsel, telegram, banyak sekali dilesapkan. Sehingga seolah-olah puisi tersebut berlari mengejar ke arah modernitas.

Dan, inilah fungsi puisi/seni. Meminjam ucapan Chairil Anwar, ”Untuk mengatasi kesementaraan segala.” Puisi dihidupkan, mujur jika ia bisa bertahan lama sehingga men-jelma menjadi suatu bentuk peninggalan seni yang abadi. Menjadi artefak yang kelak akan bernapas sesuai dengan waktu yang berjalan itu.

Sebagai artefak itulah fungsi puisi. Mengatasi kesementaraan waktu. Menjadikan abadi. Dan, si penyair dengan lugas berkata, ”Aku menulis puisi, maka jadilah” seperti Tiga Lembar Kartu Pos yang ditawarkan Sapardi Djoko Damono, pastilah siasatku adalah siasatmu juga, dengan berkata bila kun fa ya kun -Ku adalah siasia belaka. juga dengan menghadirkan beberapa klitika saja cukup: bulan di atas kuburan , Kalian-pun.

Yang terpenting adalah sikap diri, dengan tidak menampilkan kemayaan baru. Bagaimanapun yang maya itu tak akan pernah jadi sejati. Pertautan hubungan setiap larik menjadi perlu, justru itulah yang menjadi bangunan sebuah puisi. Hubungan katakata tersebut akan menunjukkan imaji batin penyair sendiri; bagaimana gairah hidup si penyair.

Dengan keheningan yang terus melenting di setiap kata, membentuk suatu kegetaran yang sugestif. Dr S Effendi menulis, pengiasan atau pelambangan yang tepat dapat mengungkapkan makna yang jelas dan menjelmakan nada serta suasana sebuah sajak yang akan menggugah hati pembaca.

Pun penalaran, penyair harus memiliki nalar yang tinggi. Terutama, di saat krisis ekonomi ini yang memungkinkan seseorang untuk berbuat apa saja. Apa yang tidak dibayangkan terjadi, dapat terjadi. Peristiwa orang makan orang yang dilakukan Sumanto, tindakan cabul orang tua terhadap anak kandungnya sendiri, pembunuhan hanya karena persoalan sepele.

Dengan nalarnya itu penyair dapat menjelaskan segala yang dilihat, dipikir, dan dirasakan. Penalaran yang dituangkan dalam larik-larik sajak akan membangkitkan kepercayaan pembaca terhadap nilai ”kebenaran” dari sebuah sajak. Mungkin, ia tak perlu lagi seperti sajak Chairil Anwar, yang kalau si penyair mati, dia pun turut mati sibuk iseng sendirian.

ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN

Staf Unit Pelaksana PTSP Kecamatan Menteng Jakarta Pusat